Beranda Kesehatan Bidan yang Murah Senyum itu, Telah Pergi

Bidan yang Murah Senyum itu, Telah Pergi

6169
6
BERBAGI
Farida Iriani Salman (Foto: Dok Keluarga)

Tenaga kesehatan pertama di Papua yang menghembuskan napas terakhir karena Covid-19 dengan penyakit bawaannya Obesitas dan Malaria. Untuk itu, semua pihak diminta untuk memberikan dukungan moral kepada suami dan anak-anaknya yang ditinggalkan.

Farida Iriani Salman

SELAIN lelah fisik, tekanan psikis itu tak kalah beratnya sehingga Farida Iriani Salman jatuh sakit karena penyakit obesitas dan malaria.  Walau begitu, ia tetap bertahan untuk melayani pasien sehingga akhirnya ia terinveksi Covid-19 dan dirawat di Rumah sakit Yowari, Kabupaten Jayapura.

Bidan yang satu ini, dikenal oleh rekan-rekan kerjanya sebagai tenaga kesehatan yang lincah, humoris, baik hati dan senyumannya selalu terlontar untuk semua pasien yang tanganinya. Semua kenangan itu, telah pergi bersamanya sebab Minggu subuh,  19 Juli 2020, sekitar pukul 03.00 dini hari, Farida Iriani Salman menghembuskan napasnya yang terakhir pada usia ke 44 di Rumah Sakit Yowari, di Kabupaten Jayapura.

Kabar duka ini menyentak semua tenaga kesehatan di Papua lantaran Farida Iriani Salman adalah tenaga kesehatan pertama yang menghembuskan napas terakhir karena Covid-19 dengan penyakit bawaannya obesitas dan malaria.

Tetasan air mata dari rekan-rekan kerjanya pun tak terbendung. Mereka kembali mengenang kebersamaanya sebagai tenaga kesehatan yang mengalami suka dan duka ketika menangani pasien Covid-19 maupun pasien lainnya.

Farida Iriani Salman (Foto: Dok Pribadi Alm)

“Saya dan ade ade Farida, pernah sama-sama di Puskesmas Lereh. Ade Farida sebagai bidan dan saya perawat. Setelah pindah ke kota, kami jarang ketemu, kecuali ada pertemuan di Dinas Kesehatan. Ade Farida termasuk bidan yang rajin, lincah dan sangat baik hati, suka himor dan suka ketawa,” ungkap rekan kerjanya,  Blessty Hetty Suebu kepada NGK, Selasa malam (21/7/2020)

Blessty Hetty Suebu  mengungkapkan, Ibu Farida Salman di rawat di Rumah Sakit Yowari. Dan pada Minggu subuh (19/7), ia menghembuskan napas terakhir. “Ia pergi dengan meninggalkan anak-anaknya yg masih kecil,” kata Perawat Suebu itu.

Lebih lanjut, Blessty Hetty Suebu   mengharapkan agar, semua pihak untuk memberikan dukungan moral kepada suami dan anak-anaknya yang ditinggalkan. “Jangan ada menjauhi mereka,” pinta Suebu.

Seperti yang dilansir sejumlah media online, seperti PAPUAInside.com menyebutkan, bahwa meninggalnya Bidan Farida ini, adalah kasus pertama bagi tenaga kesehatan di Papua.

‘’Ini adalah kasus pertama di Papua, seorang petugas kesehatan terbaik kami meninggal dunia karena terpapar covid-19,’’ kata Juru Bicara Satgas Covid-19 Provinsi Papua Dokter Silwanus Sumule di Media Center Kantor BPBD Provinsi Papua, Skyland Jayapura, belum lama ini.

Farida Iriani Salman (Foto : Dok Kel.)

Menurut Sumule, kematian Bidan ini merupakan pukulan bagi semua petugas kesehatan di Papua, karena di tengah kerja keras untuk menahan laju penyebaran virus ini, salah satu petugas kesehatan meninggal dunia karena virus tersebut.

‘’Kejadian ini betul-betul  memukul kami seluruh petugas kesehatan di Papua.  Saya ingin sampaikan kepada oknum-oknum masyarakat yang mengatakan penyakit ini rekayasa, buat-buatan kami petugas kesehatan, tetapi hari ini juga dalam pergumulan kami, dalam kerja keras kami untuk menahan laju penyebaran penyakit ini salah satu petugas terbaik kami yang harus terdampak akibat penyakit ini,’’ jelas Sumule.

MEREKA LELAH

Kepergian Bidan Farida Iriani Salman tampaknya harus menjadi baham evaluasi bagi semua pihak. Soalnya, dalam menghadapi pandemic covid-19, mereka mendadak jadi mudah lelah, pusing, pegal, hingga demam. Sakit itu terjadi bergiliran. Namun, mereka tidak menyerah. “Ini sudah profesi pilihan saya,” kata Blessty Hetty Suebu  meniru pernyataan Farida Iriani Salman ketika masih bertugas.

Menghadapi Covid-19 ini, tenaga kesehatan sering “berteriak” tentang kondisi mereka. Mereka mengeluh tapi terkadang dianggap lelocon bahkan teriakan itu dianggap sebagai pemberontak.

Tiap hari mereka harus menghadapi beragam jenis pasien. Tindakan yang dilakukan juga beragam. Mulai pengambilan sampel darah dan swab hingga penanganan kedaruratan. ’’Kalau hanya gawat, kami memang harus terlatih menangani. Tapi, Covid-19 ini juga menambah beban lain,’’ ujar Blessty Hetty Suebu .

Saat tak ada pasien di IGD, para medis dan teman sejawatnya sebisa-bisanya melepas stres. Entah dengan bercanda atau melihat video hiburan. Namun, kadang masih ada setumpuk data dan administrasi yang memburu untuk diselesaikan.

Selain pola bekerja yang berubah, seragam perawat yang biasa dikenakan, kini tak lagi memadai dalam menemaninya bertugas. Hazmat suit, masker N95 yang kemudian dilapisi masker bedah, goggle atau face shield jadi pakaian wajib setiap hari. Demi menjaga kesehatan diri sendiri.

Bidan Farida atau pun Perawat Blessty Hetty Suebu harus berangkat 30 menit lebih awal agar bisa bersiap melengkapi diri dengan APD lengkap sebelum mulai berjaga.

Farida dengan Kesendiriannya (Foto : Dok Kel.)

Ketakutan membawa virus itu, termasuk salah satu yang membuat tenaga medis tertekan. Untuk pergi ke kamar mandi saja, mereka mesti memastikan bahwa kamar mandi tersebut tidak untuk umum. Saat sif berakhir, mereka mesti mengganti seluruh pakaiannya dan mandi di rumah sakit sebelum pulang. ’’Di rumah juga mandi lagi. Paling berat kalau anak-anak mau peluk dan cium menyambut. Kebiasan ini sudah boleh begitu lagi,’’ujar Blessty Hetty Suebu.

Baik Farida Iriani Salman maupun rekan-rekan tenaga kesehatannya lainnya,  motivasi mereka berjuang karena kemanusiaan.

Kini, semangat dan motivasi dari Farida Iriani Salman, tinggal kenangan. Bidang Farida telah pergi untuk selamanya. Perjuanganmu akan tetap dikenang sekaligus menjadi motivasi bagi rekan-rekan – tenaga kesehatan lainnya. Selamat jalan sang pejuang. (Krist Ansaka)

6 KOMENTAR

  1. Maaf , saya sebagai anak dari Almh.Farida ingin menanyakan apakah berita ini sudah konfirmasi atau minta persetujuan kami sebagai keluarga ? Bukannya ada UU tentang privasi pasien ? Sudah minta izin untuk ambil fotonya ?

    • Pertama-tama, saya mohon maaf kerena ulasan yang saya tulis itu, karena saya merasa ibah (sedih) terhadap suami dan anak2 yang ditinggalkan almarhuma. Kemudian, saya menilai, perjungan almarhuma sebagai pekerja kemanusian, sangat luar biasa, sehingga ia mengorbankan dirinya sendiri. Untuk itulah, gaya penulisan yang saya buat itu, dengan memakai gaya bahasa yang menggugah pembaca, bahwa Almarhuma semasa hidupnya, telah mengabdikan dirinya untuk pekerjaan kemanusiaan sehingga terkadang dirinya sendiri dan keluarganya diabaikan HANYA UNTUK MENOLONG ORANG LAIN. // Inilah dasar utama dan terutama yang membuat saya menulis nama lengkap Almarhum // Tujuannya, agar pengabdian almarhuma harus dihargai oleh para pengambil keputusan dan juga masyarakat umum. // TIDAK ADA DALAM HATI KECILKU, untuk mendiskreditkan almarhuma, suami, anak2 dan keluarga // Saya justru sangat ibah dan terharu terhadap perjuangan almarhuma ketika masih hidup, sehingga saya menulis berita itu, apa adanya // Saya tidak ada niat untuk membuat untuk membuat tulisan saya ini laris atau untuk mencari populeritas, tapi sekali lagi, tulisan ini saya buat dengan ketulisan hati untuk menghargai almarhumah atas pengorbanannya sebagai pekerja kemanusiaan yang sangat tangguh// Kalau keluarga menganggap tulisan saya ini mendiskreditkan keluarga, SAYA MOHON MAAF, karena SAYA TIDAK BERMAKSUD MENDISKREDITKAN SUAMI, ANAK-ANAK DAN KELUARGA LAINNYA)… Mungkin, ini dulu yang bisa saya sampaikan. Atas perhatiannya, saya ucapkan terima kasih. // Kiranya Tuhan Pencipta Alam semesta, terus melindungi keluarga almarhumah. Amin.

  2. Maaf. Yang terbitkan berita ini sama yang sudah mengupload foto pasien covid. Emangya nggk baca aturan yang dikasih tau. Bahwa harus menjaga privasi pasien..? Emangnya situ udah konfrimasi sama keluarga dan meminta persetujuan untuk menguploud data pasien. Kalau mau artikelnya/beritanya laris. Nggak usah begini carany. Anda bisa dituntut karena menyebarkan data pasien covid. Dan apakah kalian tahu kalau itu bukan covid. Bagaimana kalau misalnya mereka salah mengartikan hasilnya. Bagi redaksi yang menerbitkan artikel ini sama orang yg di wawancarai. siapa tau keluarganya nggak mau datanya di ekspos… kalau bisa begini redaksi anda bisa tuntut. Saya harap anda bisa mengerti. Kalau tidak tahu tentang peraturan privasi pasien covid silahkan cari di internet. Dan buat suster yang menyebarkan informasai ini secara tidak benar. Saya dan keluarga saya akan menuntut anda. Karena tidak menghubungi pihak keluarga kami karena mengekspos data tentang istri. Dan ibu dari anak2 saya. Saya tunggu klarifikasinya. Segera hapus artikel dan buat permintaan maaf. Jika menolak silahkan cari lagi peraturan tentang privasi pasien covid. Saya tunggu tanggapannya. Kalian sebagai team artikel sangat tidak persionanitas jika kalian ingin berita ini virall jangan begini caranya. Kami tunggu tanggapan kalian. Kami sekeluarga akan menunggu. Jika tidak saya akan bawa kerana hukum

    • Maaf. Yang terbitkan berita ini sama yang sudah mengupload foto pasien covid. Emangya nggk baca aturan yang dikasih tau. Bahwa harus menjaga privasi pasien..? Emangnya situ udah konfrimasi sama keluarga dan meminta persetujuan untuk menguploud data pasien. Kalau mau artikelnya/beritanya laris. Nggak usah begini carany. Anda bisa dituntut karena menyebarkan data pasien covid. Dan apakah kalian tahu kalau itu bukan covid. Bagaimana kalau misalnya mereka salah mengartikan hasilnya. Bagi redaksi yang menerbitkan artikel ini sama orang yg di wawancarai. siapa tau keluarganya nggak mau datanya di ekspos… kalau bisa begini redaksi anda bisa tuntut. Saya harap anda bisa mengerti. Kalau tidak tahu tentang peraturan privasi pasien covid silahkan cari di internet. Dan buat suster yang menyebarkan informasai ini secara tidak benar. Saya dan keluarga saya akan menuntut anda. Karena tidak menghubungi pihak keluarga kami karena mengekspos data tentang ibu saya. Saya tunggu klarifikasinya. Segera hapus artikel dan buat permintaan maaf. Jika menolak silahkan cari lagi peraturan tentang privasi pasien covid. Saya tunggu tanggapannya. Kalian sebagai team artikel sangat tidak persionanitas jika kalian ingin berita ini virall jangan begini caranya. Kami tunggu tanggapan kalian. Kami sekeluarga akan menunggu. Jika tidak saya akan bawa kerana hukum

      • Pertama-tama, saya mohon maaf kerena ulasan yang saya tulis itu, karena saya merasa ibah (sedih) terhadap suami dan anak2 yang ditinggalkan almarhuma. Kemudian, saya menilai, perjungan almarhuma sebagai pekerja kemanusian, sangat luar biasa, sehingga ia mengorbankan dirinya sendiri. Untuk itulah, gaya penulisan yang saya buat itu, dengan memakai gaya bahasa yang menggugah pembaca, bahwa Almarhuma semasa hidupnya, telah mengabdikan dirinya untuk pekerjaan kemanusiaan sehingga terkadang dirinya sendiri dan keluarganya diabaikan HANYA UNTUK MENOLONG ORANG LAIN. // Inilah dasar utama dan terutama yang membuat saya menulis nama lengkap Almarhum // Tujuannya, agar pengabdian almarhuma harus dihargai oleh para pengambil keputusan dan juga masyarakat umum. // TIDAK ADA DALAM HATI KECILKU, untuk mendiskreditkan almarhuma, suami, anak2 dan keluarga // Saya justru sangat ibah dan terharu terhadap perjuangan almarhuma ketika masih hidup, sehingga saya menulis berita itu, apa adanya // Saya tidak ada niat untuk membuat untuk membuat tulisan saya ini laris atau untuk mencari populeritas, tapi sekali lagi, tulisan ini saya buat dengan ketulisan hati untuk menghargai almarhumah atas pengorbanannya sebagai pekerja kemanusiaan yang sangat tangguh// Kalau keluarga menganggap tulisan saya ini mendiskreditkan keluarga, SAYA MOHON MAAF, karena SAYA TIDAK BERMAKSUD MENDISKREDITKAN SUAMI, ANAK-ANAK DAN KELUARGA LAINNYA)… Mungkin, ini dulu yang bisa saya sampaikan. Atas perhatiannya, saya ucapkan terima kasih. // Kiranya Tuhan Pencipta Alam semesta, terus melindungi keluarga almarhumah. Amin.

    • Pertama-tama, saya mohon maaf kerena ulasan yang saya tulis itu, karena saya merasa ibah (sedih) terhadap suami dan anak2 yang ditinggalkan almarhuma. Kemudian, saya menilai, perjungan almarhuma sebagai pekerja kemanusian, sangat luar biasa, sehingga ia mengorbankan dirinya sendiri. Untuk itulah, gaya penulisan yang saya buat itu, dengan memakai gaya bahasa yang menggugah pembaca, bahwa Almarhuma semasa hidupnya, telah mengabdikan dirinya untuk pekerjaan kemanusiaan sehingga terkadang dirinya sendiri dan keluarganya diabaikan HANYA UNTUK MENOLONG ORANG LAIN. // Inilah dasar utama dan terutama yang membuat saya menulis nama lengkap Almarhum // Tujuannya, agar pengabdian almarhuma harus dihargai oleh para pengambil keputusan dan juga masyarakat umum. // TIDAK ADA DALAM HATI KECILKU, untuk mendiskreditkan almarhuma, suami, anak2 dan keluarga // Saya justru sangat ibah dan terharu terhadap perjuangan almarhuma ketika masih hidup, sehingga saya menulis berita itu, apa adanya // Saya tidak ada niat untuk membuat untuk membuat tulisan saya ini laris atau untuk mencari populeritas, tapi sekali lagi, tulisan ini saya buat dengan ketulisan hati untuk menghargai almarhumah atas pengorbanannya sebagai pekerja kemanusiaan yang sangat tangguh// Kalau keluarga menganggap tulisan saya ini mendiskreditkan keluarga, SAYA MOHON MAAF, karena SAYA TIDAK BERMAKSUD MENDISKREDITKAN SUAMI, ANAK-ANAK DAN KELUARGA LAINNYA)… Mungkin, ini dulu yang bisa saya sampaikan. Atas perhatiannya, saya ucapkan terima kasih. // Kiranya Tuhan Pencipta Alam semesta, terus melindungi keluarga almarhumah. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here