Beranda Agama Iman, Doa, Kasih dan Pengharapan

Iman, Doa, Kasih dan Pengharapan

4858
0
BERBAGI

HIDUP, PELAYANAN DAN WARISAN ROHANI

Carl Wilhelm OTTOW (1827-1862) & Johann Gottlob GEISSLER (1830-1870)

Oleh : Pdt. Dr. Rainer Scheunemann, Dosen STFT GKI TP, I. S. Kijne“ Jayapura

 I. Pendahuluan

Ottow dan Geissler disebut sebagai  “Rasul Papua“, karena mereka selain membawa terang, damai dan keselamatan Injil dalam kerelaan dan kasih, mereka membawa pendidikan dengan tujuan kesejahteraan bagi Tanah Papua. Itu juga sebabnya saat Pemerintah Provinsi Papua diberikan Otonomi Khusus, Dewan dan Pemerintah sebagai keputusan pertama menjadikan tanggal 5 Februari sebagai hari raya libur resmi Provinsi Papua untuk memperingati masuknya Injil ke Tanah Papua. Ciri khas dari pelayanan Ottow dan Geissler dapat dirangkum dalam 4 istilah kunci, yaitu:

IMAN: Meskipun Tanah Papua dianggap tanpa harapan, tapi mereka yakin Tuhan dapat merubah Papua. Meskipun Ottow dan Geissler mengalami banyak tantangan penyakit, permusuhan, kesepian, kematian anak-anak dan berbagai kesulitan mereka tetap beriman bahwa setidaknya satu orang Papua akan diselamatkan. Tulisan di atas Nisan Kubur Ottow di Kwawi berbunyi:

„Berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya!“ (Yohanes 20:29).

DOA: Dari awal Tanah Papua didoakan; saat menginjak Tanah Papua dengan Doa Sulung:

„Dengan Nama Tuhan kami menginjak Tanah ini!“ Doa untuk keselamatan Papua dan selama pelayanan terus didoakan oleh banyak kelompok doa dalam pelayanan misi yang bersifat oikumenis: Persekutuan-persekutuan misi di Jerman dan Belanda, para kaum ibu di Belanda, dan persekutuan misi-oikumens di Batavia dan Surabaya. Tanah Papua dimenangkan karena kuasa doa! Juga saat badan misi mau menyerah karena dianggap terlalu sulit pelayanan di Tanah Papua tetap diperjuangkan dalam doa!

KASIH: Pelayanan Ottow dan Geissler bersama istri-istri mereka ditandai akan kasih bagi mereka yang belum mengenal Kristus, belum mendapatkan pendidikan, mengalami penderitaan karena ketidakadilan, perampokan, pembunuhan, sakit-penyakit, kelaparan dan ketidakadilan. Mereka dengan segala upaya dalam kasih memperjuangkan yang terbaik dalam segala keterbatasan mereka.  Sejak awal prinsip penggunaan uang mereka adalah 1/3 untuk keperluan sehari-hari; 1/3 untuk pelayanan penginjilan dan 1/3 untuk diakonia. Tuhan selalu mencukupkan kebutuhan mereka dengan cara yang ajaib! Pada puncaknya sebagai bukti kasih mereka yang luar biasa, mereka bersedia mengorbankan nyawa mereka bagi pemberitaan Injil Keselamatan Yesus di Tanah Papua.

PENGHARAPAN: Meskipun secara manusia kelihatannya sia-sia, karena sangat sulit dengan hasil yang minim mereka tidak putus harapan dan terus berjuang. Itu sebabnya nama gereja pertama di Mansinam adalah Pengharapan, yaitu bahwa suatu waktu Injil akan diterima oleh orang-orang Papua. Pengharapan nyata dalam pelayanan yang tulus dan sungguh,  meskipun belum melihat hasil.

Adalah penting mengingat kata-kata Pdt. J. Mamoribo di tahun 1971 dalam memperingati Injil Masuk Tanah Papua: „Nama-nama Ottow dan Geissler kiranya jangan hanya disebut- sebut saja, tetapi menjadi suatu simbol ketekunan dalam nama Yesus, menjadi simbol pengharapan melalui setiap situasi, menjadi suatu simbol kerpercayaan dalam kemustahilan, menjadi simbol kasih sampai mati!“ „Pekabaran Injil artinya menderita!“ Ini berarti meskipun zaman sekarang berbeda, namun banyak hal penting berkaitan dengan kehidupan pribadi dan prinsip-prinsip rohani dalam pelayanan dari Ottow dan Geissler yang dapat dipelajari dan diterapkan agar Tanah Papua berada dalam berkat Tuhan!

New Guinea ditemukan oleh orang Portugis bernama Jorge des Menzes pada tahun 1526, sedangkan namanya diberikan oleh seorang Spanyol bernama Avarado pada tahun 1528, karena kemiripan penduduknya dengan orang-orang Afrika Barat. Baru di tahun 1828 (jadi 300 tahun kemudian) pemerintah Belanda berupaya membuat tempat pemukiman di Kolobai yang diberi nama Du Bus, namun kemudian di tahun 1836 dihentikan karena dianggap sia-sia. Nama Papua berasal dari „Pua-Pua“, yang artinya rambut keriting dan disingkat Papua.

Perlu dipahami bahwa Ottow dan Geissler bukan datang dengan dukungan kekuatan modal dan jaminan yang kuat bagi pelayanan mereka, tetapi hanya dengan seadanya saja dan dalam iman bahwa Tuhan akan menyertai. Di masa itu gereja-gereja resmi di Jerman kurang tertarik dengan misi, sehingga pelayanan misi dikerjakan melalui perhimpunan dan badan-badan misi yang banyak dipelopori oleh orang-orang awam dan pribadi-pribadi.

Sebelum Ottow dan Geissler tidak ada yang tinggal lama di Tanah Papua dan tidak ada (kecuali misi Katolik yang datang tahun 1847 namun tinggal tidak lama) yang memiliki tujuan memajukan, membawa Injil dan pendidikan bagi Tanah Papua. Sebelumnya semua hanya untuk kepentingan dagang, tangkap budak, merampok dan penelitian. Jadi adalah benar bahwa pembangunan Tanah Papua dimulai dari Mansinam dengan kedatangan Ottow dan Geissler. Ini penting karena dewasa ini ada pihak-pihak tertentu yang ingin memelintir dan bahkan merubah sejarah Tanah Papua.

Situasi Tanah Papua waktu itu ditandai perang suku, saling membunuh, kanibalisme, menjarah, merampok, saling menangkap dan menjual sebagai budak serta kepercayaan akan roh-roh dan praktek kuasa kegelapan. Itu sebabnya kemudian ketika Gereja Kristen Injili Di Tanah Papua secara resmi lahir 26 Oktober 1956 oleh Ketua Sinode yang pertama Domine F.

  1. Rumainum diberikan motto dari Efesus 5:8: „Dahulu kamu adalah kegelapan tetapi sekarang adalah terang!“ Ciri banyak orang waktu itu tidak mengenal belas kasihan dan sulit untuk berterima kasih. Contoh kisah: Ketika seorang yang sakit berat dirawat oleh Ottow dan Geissler dan kemudian menjadi sembuh, dia tidak mau pulang tapi mengatakan kalian telah menyembuhkan saya, jadi sekarang harus beri makan saya seterusnya.

Sumber-sumber buku saya „Ottow & Geissler – Iman, Doa, Kasih dan Pengharapan“ adalah:

  • Dokumentasi surat-menyurat Ottow yang sangat baik dengan keluarganya yang kemudian dijadikan buku oleh cicit Ottow dan istrinya: Dr. Johannes C. G. Ottow & Helga Ottow, In Gottes Namen betreten wir dieses Land (Dengan Nama Tuhan kami menginjak Tanah ini) (Muenster: LIT-Verlag, 2004, 253 hal).
  • Buku dari Baltin teman baik Geissler berdasarkan surat-surat dan buku harian Geissler: Morgenröthe auf Neu-Guinea (Fajar merekah di New-Guinea) (Kaiserwerth: Verlag Diakonissenanstalt, 1878, 169 hal). Kesemua tulisan asli ini dalam bahasa Jerman tua.

 

II.  Rangkuman singkat berbagai peristiwa penting dalam hidup dan pelayanan Ottow dan Geissler secara kronologis dengan beberapa catatan tambahan

24 Februari 1827: Carl Wilhelm Ottow dilahirkan dalam keluarga yang cukup berada dalam tradisi keahlian tenun di Luckenwalde (Jerman Timur). Saat berusia 4 tahun ayahnya Ernst Ottow meninggal dunia karena Typhus dan ibunya menikah lagi dengan adik bungsu ayahnya. Carl memiliki seorang adik kandung laki-laki bernama Ernst dan seorang adik tiri perempuan bernama Henriette. Hubungan Carl sangat baik dengan keluarga khususnya dengan ibunya dan Henriette. Karena hubungan yang baik ini maka dokumentasi surat-menyurat mereka sampai hari ini masih ada yang memberikan gambaran akan pelayanan Ottow di Papua. Pada usia 18 tahun Carl mendengarkan khotbah dari pendeta Straube dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi dan kemudian sangat aktif dalam persekutuan penelahaan Alkitab dan pelayanan sosial-diakonia. Carl Ottow kemudian tertarik pada pelayanan misi saat bertemu dengan pendeta Gossner di Berlin. Beliau adalah pengkhotbah yang sangat baik dan membangun rumah sakit diakonia pertama di Berlin. Selain itu di tahun 1842 Gossner memulai sebuah Pusat Pelatihan Misi dalam badan misinya (sekarang Gossner Mission) untuk membina para calon misionaris tukang dengan keahlian pertukangan dan pengajaran Alkitab. Mereka kemudian diserahkan oleh Gossner kepada berbagai misi lainnya untuk diutus. Misi tukang („tent maker“ di masa kini) memiliki keuntungan: (1) kaum awam dapat dididik, dilatih dan diutus karena mereka lebih mudah dimotivasi untuk misi; (2) pendidikan misinya terarah, murah dan dalam jangka waktu pendek; (3) para calon memiliki keahlian sehingga dapat mengupayakan nafkah sendiri; (4) kaum awam lebih mudah beradaptasi dan mampu berkomunikasi dan berdagang secara praktis; (5) pola ini mengikuti pola pelayanan Paulus yang mandiri („tent making“). Pertama Ottow ditolak oleh Gossner, karena ibunya tidak setuju dia berangkat. Tapi beberapa waktu kemudian diterima. Tahun 1950 Heldring seorang pendeta Belanda yang mengutus misionaris ke Indonesia (Hindia- Belanda) bertemu dengan Gossner dan menceriterakan tentang Tanah Papua yang dianggap menakutkan, tetapi tidak pernah berhenti didoakannya! Sejak itu Gossner juga bersama Heldring sangat terbeban dan mencari misionaris untuk Tanah Papua.

18 Februari 1830: Johann Gottlob Geissler dilahirkan di Langenreichenbach-Torgau dalam sebuah keluarga miskin dengan 7 bersaudara dimana diantaranya sudah ada yang meninggal. 1844 Geissler pergi ke Berlin untuk belajar pertukangan kayu. Akhir tahun 1849 dia menjadi percaya kepada Tuhan Yesus dan mulai sangat tertarik untuk ketika mengikuti Persekutuan Misi di sebuah rumah yang bertuliskan: “Pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku!“ Pada tanggal 18 Agustus 1851 Geissler mendapatkan panggilan Tuhan untuk terlibat dalam pelayanan misi.  Pada tanggal 27 Oktober 1951 Geissler diterima oleh Gossner dan dipersiapkan di sana. Geissler kemudian berjalan kaki bersama Johann Schneider (tukang besi) yang juga dipersiapkan untuk Tanah Papua untuk menghemat biaya dari Berlin ke Hemmen (Belanda). Jadi seharusnya tiga orang yang datang ke Tanah Papua, tetapi kemudian Schneider meninggal dunia karena terkena TBC. Schneider adalah martir pertama bagi penginiilan di Tanah Papua. Yang sangat menarik adalah perbedaan pribadi antara Ottow dan Geissler namun Tuhan pakai dengan saling melengkapi: Ottow lebih tua, pintar, kaya, tegas – Geissler, lebih muda, miskin, tenang, sabar dan diplomatis.

25 April 1852: Ottow diutus oleh Gossner dalam sebuah ibadah di gereja Betlehem Berlin. Dia kemudian menggunakan kereta api dari Berlin ke Arnheim (Hemmen – Belanda).

  • Juni 1852: Geissler dan Schneider diutus dalam sebuah ibadah oleh
  • Juni 1852: Ottow, Geissler dan Schneider berangkat dari Rotterdam dengan kapal laut

„Abel Tasman“ menuju Batavia (Jakarta) dengan bekal uang yang sedikit. Mereka belajar bahasa Indonesia (Melayu) di kapal dari awak kapal.

7 Oktober 1852:  Ottow, Geissler dan Schneider tiba di Batavia setelah perjalanan 3 bulan dan 11 hari. Perjalanan tersebut penuh dengan bahaya, namun mereka bersyukur atas pemeliharaan Tuhan. Mereka disambut oleh Izaac Esser seorang pegawai tinggi pemerintah Belanda yang mencintai misi, berkorban untuk pekerjaan misi dan bahkan mempertaruhkan karirnya demi pekerjaan misi di Indonesia. Esser mengurus izin dan tempat tinggal bagi Ottow dan Geissler serta Schneider di Batavia. Di Batavia mereka harus lama menunggu izin untuk boleh ke Tanah Papua. Sebagaimana untuk Bali dan Jawa demikian juga untuk Papua pemerintah Belanda (1808) melarang misi. Hanya di kota-kota besar ada gereja Belanda (sekarang GPIB). Tapi misi di daerah dilarang. Terjemahan Alkitab bahasa Jawa oleh Brueckner di tahun 1831 disita dan dibakar oleh pemerintah Belanda sebelum orang Jawa dapat membacanya. Ini bukti bahwa seringkali pemerintah kolonial menentang misi, karena misi mau mencerdaskan dan mensejahterakan rakyat, sedangkan pemerintah kolonial mau supaya rakyat tetap bodoh sehingga dapat diperalat dan dikuasai.

Oktober 1852 sampai April 1853: Ottow dan Geissler mengisi waktu di Batavia sambil menunggu izin dengan belajar bahasa, bekerja pertanian dan mengajar. Mereka masing- masing mengajar di sekolah-sekolah di Kampung Makasar. dan melayani murid-murid mereka sendiri yang sangat mereka cintai. Di masa penantian 1,5 tahun ini Ottow dan Geissler diusulkan dan ditawarkan untuk melayani di tempat-tempat yang lain yang lebih nyaman dan aman serta jaminan hidup yang baik, tetapi mereka menolak. Pandangan mereka tetap teguh untuk Papua. Akhirnya awal tahun 1854 izin ke Tanah Papua diberikan.

9 Mei 1854: Ottow dan Geissler berangkat dengan kapal laut „Padang“ ke Ternate dengan sebelumnya diutus dan didoakan oleh Esser, King, Muehnickel bersaudara, Elliot, Grimm, Michaelis, Schneider dan beberapa teman lainnya bagi misi Allah di Tanah Papua. Schneider diharapkan akan menyusul karena masih sakit, namun kemudian terkena TBC dan meninggal pada tanggal 22 Maret 1855. Dengan demikian Schneider meski belum melihat Tanah Papua adalah martir pertama bagi misi di Tanah Papua. Atas usulan dari Ring seorang saudagar muda untuk menetap di pulau Mansinam (Manokwari) karena penduduknya terbuka.

30 Mei 1854: Ottow dan Geissler tiba di Ternate setelah singgah di Surabaya, Makassar dan Manado. Disana mereka bertemu dan mendapatkan nasehat-nasehat dari para misionaris senior Emde, Schmidt dan Lenz serta Linemann dan Kapelle. Di Ternate mereka disambut baik dan tinggal di rumah Pendeta Hoeveker yang tinggal di Ternate sejak tahun 1833 dan memimpin jemaat Protestan di sana. Sambil menunggu izin dari Sultan Tidore untuk masuk Papua mereka belajar bahasa dan budaya dari orang-orang Papua yang tinggal di Ternate.

Sekaligus mereka mendapatkan banyak nasehat dari pengusaha Van Duivenbode yang berpengalaman berdagang di pantai utara Tanah Papua. Selain itu juga dari kapten kapal Fabritius yang pernah tinggal dengan istrinya dan 13 karyawannya selama 3 tahun di pulau Roon. Dari semua informasi yang didapatkan Ottow dan Geissler semakin yakin akan panggilan mereka ke Tanah Papua. Akhirnya mereka dapat izin dari Sultan Tidore dan disebut sebagai „Orang Berdermawan“ yang juga tahu akan tujuan misi penginjilan mereka.

5 Februari 1855: Setelah tiga tahun (1852-1855) akhirnya mereka tiba di Tanah Papua dengan mengucapkan Doa Sulung: „Dengan Nama Tuhan kami menginjak Tanah ini!“

Sukacita besar akhirnya tiba! Mereka tinggal di gubuk yang sederhana. Mereka dicurigai oleh penduduk setempat. Penduduk tidak percaya Ottow dan Geissler orang baik, karena punya surat pengantar dari Sultan Tidore yang mereka kenal kejam dengan pajak perbudakan dan praktek perjalanan Hongi dan tidak melakukan kebaikan bagi mereka. Dalam kehidupan sehari-hari mereka tidak dibantu saat buat perahu sampai dua kali salah pilih kayu. Juga tidak dibantu meskipun dengan pemberian upah saat buat rumah tapi hanya datang menonton saja. Perlu dimengerti dulu kerja dianggap tugas budak, sehingga banyak yang tidak mau kerja kecuali memancing, berburu dan buat ukiran. Mereka juga tidak mau memberitahu kata-kata bahasa Biak-Numfor dan hanya memberitahu jika dibeli atau diberi hadiah-hadiah sebagai ganti. Geissler kemudian jatuh sakit parah dengan malaria yang hampir membuat dia buta.

Selain itu ada luka-luka parah infeksi di kakinya dan dia hampir saja meninggal jika tidak ada dokter kapal „Vesuvius“ yang singgah yang membantu dia sehingga dia dibawa ke Ternate untuk pemulihan selama 10 bulan. Ottowpun menjadi sakit tapi dapat cepat sembuh kembali dan untuk sementara waktu tinggal sendirian di Mansinam. Dia rajin berkomunikasi dan semakin mantap berbahasa Biak-Numfor. Saat kembali dari Ternate Geissler menemukan Ottow dalam keadaan sakit malaria. Bersama lima tukang dari Ternate mereka kemudian membangun rumah sederhana yang selesai tanggal 6 Juli 1856. Secara keseluruhan ada 4 rumah yang mereka bangun di Mansinam dan Kwawi dari gubuk sampai rumah permanen yang kemudian hancur karena gempa atau dimakan rayap.

1855: Ottow menulis surat lamaran kepada Karoline Nitsche seorang perawat tambatan hatinya tetapi ditolak. Pendeta Straube yang mengetahui hal itu kemudian menjodohkan Auguste Letz bagi Ottow. Auguste memang sangat tertarik mengenai pelayanan misi dan telah mendengar banyak tentang Ottow dan menerima perjodohan itu. Auguste kemudian berangkat ke Amsterdam dan tanggal 3 September 1856 menulis surat kepada Ottow bahwa dia bersedia menjadi istrinya, tetapi sampai dia tiba di Batavia Maret 1857 dia tidak mendapatkan jawaban dari Ottow karena surat-surat mereka „bertabrakan“. Di Batavia dia menemukan surat dari Ottow „kepada saudari yang akan datang kepadaku“. Auguste sangat beriman, penuh cinta dan berani. Dia tidak pernah bertemu Ottow, belum tahu jawaban Ottow dan hanya tahu ukuran sepatunya saat mengambil pesanan sepatu Ottow di Batavia serta tidak tahu apakah surat telah diterimanya. Tanggal 1 Oktober 1857 Auguste tiba di Ternate dan langsung bertunangan dan tidak sampai satu bulan pada tanggal 28 Oktober 1857 menikahi Carl dan diberkati oleh pendeta Hoeveker. Tanggal 16 Desember 1857 mereka berangkat sehingga bulan madu, masa Natal dan Tahun Baru mereka lalui di kapal Duivenbode sampai tiba tanggal 7 Januari 1859 di Mansinam. Saat tiba penduduk terheran melihat wanita putih pertama di sana. Kehadiran Auguste membawa keteraturan dan kenyamanan.

1856: Ottow dan Geissler mulai dengan ibadah berbahasa Melayu bagi para tukang dari Ternate yang adalah orang Islam yang terbuka bagi Injil dan beberapa kepala suku (termasuk Sapufi Rumsajor) yang mengerti bahasa Melayu. Di masa kemudian dengan penterjemah bagi kaum pria ke dalam bahasa Numfor. Kemudian ditambahkan ibadah khusus kaum wanita dalam bahasa Numfor dengan seorang penterjemah. Dan mulai tahun 1858 mereka langsung menggunakan bahasa Numfor. Banyak yang ikut ibadah-ibadah ini tetapi belum mengambil keputusan untuk percaya kepada Tuhan Yesus. Ottow dan Geissler yakin hanya Tuhan Yesus yang dapat membuka hati orang-orang Papua yang keras. Tuhan Yesus yang memegang kuncinya. Ciri khotbah mereka adalah alkitabiah, sederhana dan praktis. Ibadah mereka berbentuk campuran elemen Liturgi dan pola persekutuan doa, kesaksian dan pujian.

1856/7:  Ottow dan Geissler mulai dengan sekolah sederhana bagi anak-anak budak yang mereka bebaskan dari penderitaan mereka dan anak-anak dari kampung. Jumlah semuanya ada 13 anak tetapi ada yang jadi sakit (diantaranya 4 anak budak yang dibebaskan). Ottow dan Geissler merekrut anak-anak didik sekolah mereka dengan menebus mereka dari perbudakan. Mereka berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan dan kemudian hidup di tengah keluarga-keluarga mereka, dididik dalam sekolah, melakukan tugas di rumah dan bermain.

Saat beranjak dewasa mereka dibebaskan untuk dapat kembali ke kampung mereka dan melakukan apa yang mereka inginkan bagi masa depan mereka. Sebagian dari mereka kemudian menjadi guru-guru. Ottow dan Geissler menulis: „Tujuan kami adalah membimbing anak-anak ini dalam Nama Tuhan, untuk kemudian membebaskan mereka kembali, agar mereka kembali ke suku-suku mereka atau tinggal bersama kami. Dan jika mampu mereka bisa menyebarkan Injil Keselamatan kepada masyarakat mereka masing-masing“. Mulai  tahun 1858 Auguste mengajar kelas khusus perempuan dengan 7 anak dari kampung dan 2 anak budak yang dibebaskan. „Khususnya menjahit, membaca dan menulis dianggap aneh oleh mereka“ tulis Auguste. Kendala besar adalah banyaknya anak tidak dapat sekolah karena takut belajar atau tidak diizinkan oleh orang tua mereka.

Januari 1857: Rumah pertemuan adat Rumsram dengan semua benda kepercayaan yang sakral roboh. Kepala Suku Sapufi Rumsajor yang banyak mendengar tentang Injil enggan membangunnya kembali. Kemudian terjadi wabah cacar karena tertular kapal dagang yang lewat yang memusnahkan 1/3 penduduk dan membawa bencana kelaparan yang hebat.

Geissler yang baru pulang dari Wondama dengan membawa sagu langsung membagikannya pada mereka yang sakit dan lapar. Peristiwa-peristiwa ini membuat orang-orang Mansinam dan Kwawi lebih terbuka terahdap Injil.

1857: Ottow dan Geissler membantu menyelamatkan tiga pelaut Jerman yang karam dengan kapal „Posa“ yang diancam dibunuh. Keempat lainnya telah dibunuh. Kisah penyelamatan ini menjadi viral di media cetak Belanda, sehingga Ottow dan Geissler diberikan hadiah masing- masing 250 Gulden dan gaji 50 Gulden. 250 Gulden diberikan Geissler kepada orangtuanya yang miskin. Gaji itu sebenarnya sedikit. Dari 600 Gulden setahun itu dipotong 80 Gulden untuk kas janda dan yatim yang kemudian jadi keuntungan bagi istri dan anak-anak Ottow dan Geissler saat mereka meninggal. Sebagai perbandingan pegawai bawahan Belanda mendapat 150 Gulden sebulan. Para misionaris tukang lainnya di Jawa dan Sumatera memperoleh 120-150 Gulden sebulan. Meski demikian mereka sangat bersyukur! Di lain waktu mereka (1858) menyelamatkan 11 pelaut yang karam dengan kapal Belgia „Constant“ yang terombang-ambing selama 79 hari dengan dua perahu kecil di lautan bebas. Sebelumnya mereka 13 orang, tetapi dua orang kemudian mereka bunuh dan makan. Di sebuah pantai mereka bertemu seorang Papua yang baik yang memiliki Tatoo sepotong doa dalam bahasa Belanda di punggungnya yang menghantar mereka kepada Ottow dan Geissler. Penyelamatan seperti ini dilakukan berulang kali oleh Ottow dan Geissler dengan tulus walau hanya sedikit yang kemudian berterima kasih. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Ottow dan Geissler menjadi pedagang pengantara (barter) yang sangat disukai oleh penduduk karena jujur.

Januari 1861: Carl dan Auguste Ottow pindah ke rumah baru mereka di Kwawi yang sekaligus merupakan rumah misi pertama di Tanah Besar. Jäserich dari Misi Gossner tiba di Mansinam dan tinggal 4 tahun bersama Ottow dan kemudian melayani di tempat lain dan meninggal 1866 di Batavia.

23 Februari 1862: Geissler menikah dengan Pauline Rehnhart putri komisaris pemerintah Belanda di Ternate. Pauline adalah pendamping yang setia yang luar biasa bagi Geissler. Ayahnya adalah seorang Perancis yang rajin, disiplin dan jujur sedangkan ibunya seorang Belanda. Mereka dikarunia tiga orang anak, tetapi hanya satu yang bertahan hidup, yaitu Gustav, yang dilahirkan pada bulan Mei 1865. Selain itu mereka memiliki seorang anak angkat yatim putri bernama Jetje yang keturunan Cina. Sebenarnya Geissler tidak mau menikah karena kesakitannya yang terus-menerus dan sebenarnya berencana menikahi seorang wanita Jerman. Tetapi kemudian merelakan wanita itu menjadi istri adiknya. Gustav di waktu kemudian sekolah di Belanda, menikah dengan putri teman karib Geissler E. Baltin dan kemudian menjadi misionaris di Jawa. Pauline isteri Geissler dan Jetje kemudian kembali ke Ternate dan tinggal di sana dalam kemiskinan.

15 Juli 1862:  Pembebasan budak oleh Geissler. Hal ini membuat penduduk semakin percaya kepada Ottow dan Geissler. Sebelumnya Ottow sudah berulang kali menulis surat protes kepada pemerintah Belanda, agar pembayaran pajak dengan budak dihentikan. Parlemen Belanda pada tahun 1859 melarang perbudakan,  tetapi dalam kenyataannya masih dipraktekkan di banyak tempat. Ottow dan Geissler menjadi perintis penegakkan HAM dan penghapusan perbudakan di Tanah Papua.

1862: Ottow dan Geissler dengan para misionaris lainnya merencanakan program ekonomi kerakyatan perkebunan di Amberbaken. Tujuannya adalah untuk kepentingan masyarakat agar mendapatkan penghasilan yang lebih baik dan tidak tertipu oleh para pedagang perantara dan untuk pembiayaan pekerjaan misi (penginjilan, sekolah, poliklinik dll). Mereka juga merencanakan menterjemahkan Perjanjian Baru. Ottow usul mulai dengan Injil Matius, sedangkan Geissler secara jenius mengusulkan memulai dengan Injil Markus yang lebih tepat dengan konteks Papua yang menekankan kuasa Yesus. Namun semua ini menjadi tak terwujud karena kematian Ottow yang tiba-tiba.

4 November 1862: Ottow meninggal dunia karena malaria dalam usia hampir 36 tahun di tengah masa emas semangat pelayanannya. Dia meninggalkan seorang istri dalam keadaan hamil dan seorang putra (Johannes) dalam keadaan sakit berat. Namun dalam semua surat Auguste tidak ada kalimat yang mempersalahkan Tuhan! Dia bersyukur boleh menikah dengan Ottow. Geissler membuat peti mayat dan duduk termangu di kuburan Ottow: Geissler kehilangan sahabat karibnya dan Papua kehilangan pionirnya yang pertama! Dalam waktu singkat hanya 7 tahun Ottow sangat cepat dalam belajar bahasa Biak-Numfor dan membuat kamus pertama meskipun hampir setiap kata harus dibeli dan diterbitkan pada Juli 1863 dengan 6379 kosa kata. Ottow juga menerbitkan buku membaca pertama „Membaca A-B-C“ yang menjadi buku pelajaran membaca pertama di Tanah Papua. Selain itu Ottow juga membuat buku nyanyian pertama dalam bahasa Biak-Numfor dengan 27 lagu yang diterbitkan tahun 1860. Sungguh sebuah rahasia ilahi bahwa orang yang sedemikian berbakat dengan dedikasi penuh kasih meninggal dunia sebegitu cepat. Auguste kemudian dengan anaknya pindah ke Batavia dan memimpin sebuah asrama perempuan di sana. Dia kemudian memperjuangkan kelangsungan misi di Tanah Papua di Batavia saat terancam ditutup dengan kata-kata: „Saya tidak mau kematian suami saya sia-sia! Baru jika orang Papua mengerti Injil dan menolaknya barulah misi dapat dihentikan!“. Auguste menikah kembali (atas permintaan Ottow) di tahun 1865 dengan menerima lamaran guru dan misionaris Aart Vermeer di Tegal. Kedua anak Johannes dan Wilhelm sekolah dan kuliah di Belanda. Johannes menjadi guru dan kemudian misionaris di Talaud dan Semarang dan berbagai tempat lainnya. Wilhelm    menjadi doktor farmasi dan menjadi peneliti di Institut Kimia Belanda di Batavia.

18 April 1863: Johannes van Hasselt dan istrinya, Klaasen dan istrinya dan Otterspoor tiba di Manokwari. Sayang sekali Klaasen dan Otterspoor kemudian memilih tempat pelayanan lain. Van Hasselt ke Ternate tetapi kemudian kembali ke Papua.

23 Mei 1864: Gempa bumi yang dahsyat berlangsung selama 8 hari menghancurkan banyak rumah di Mansinam dan Manokwari. „Pulau Mansinam bergoyang seperti ayunan“. Gunung Arfak menjadi gundul dan longsor sehingga sekitar 250 meninggal dunia. Rumah Geissler hancur dan mengalami kerugian 710 Gulden. Pada malam itu istri Geissler melahirkan dan anaknya kemudian meninggal dunia dan dikuburkan tanggal 30 Mei 1864 di kuburan yang sama dengan kakak perempuannya. Di malam yang sama ada pencuri yang masuk rumah Geissler dan mereka tangkap. Setelah peristiwa gempa bumi tinggal Geissler dengan istrinya yang tersisa sebagai misionaris di Papua. Van Hasselt kemudian datang kembali dari Ternate.

14 September 1864: Peletakkan batu pertama gereja Pengharapan dengan khotbah Geissler dari 1 Tawarikh 22:19. Namun pada tanggal 26 November 1864 angin puting menghancurkan atap gereja dengan kerugian besar. Meskipun demikian pembangunan gereja dilanjutkan.

1 Januari 1865: Baptisan pertama di Tanah Papua kepada Sara dan Margaretha. Khotbah Geissler bertemakan „Dalam Nama Yesus“, karena dengan nama Yesuslah mereka datang, nama Yesuslah yang berkuasa atas dosa, kuasa gelap dan maut. Dan bagi Yesuslah segala sesuatu dan ada kepastian kehidupan kekal. Dalam baptisan ada 50 pertanyaan yang diajukan termasuk menyangkal kuasa kegelapan. Bagi Ottow dan Geissler adalah penting agar setiap orang sungguh percaya kepada Tuhan Yesus dan bukan sekedar menjadi orang Kristen KTP. Sebagai buah pelayanan lainnya adalah kepala suku Korano yang meninggal dalam iman kepada Yesus meskipun belum dibaptis. Sebelum meninggal dia katakan: „Pikiran saya selalu tertuju pada Yesus!“ Buah pelayanan lainnya adalah anak perempuan Saptu yang percaya dan bahkan bersaksi tentang Yesus kepada para para pelaut orang-orang Barat tentang Yesus.Sayang sekali Saptu kemudian meninggal tahun 1860 di Batavia dalam usia muda.

1866: Kakak beradik misionaris Beyer dengan istri-istri mereka dan Mosche dan istrinya serta Kamps tiba di Manokwari. Kamps kemudian meninggalkan Papua karena sakit. Woelders juga tiba tetapi tidak diketahui waktu tepatnya. Franz Mosche dan istrinya melayani secara luar biasa di pulau Meoswar tetapi kemudian dua tahun kemudian Franz meninggal (1868) dan meninggalkan seorang istri, seorang anak dan banyak hutang untuk membangun pos misi. Johannes van Hasselt yang telah kehilangan istrinya yang meninggal dan menjadi duda kemudian menikahi janda Wilhemine Mosche yang kemudian dikenal sebagai „Mama Papua“ dan melayani selama 44 tahun di Tanah Papua dengan dampak yang sangat besar. Dari hasil pernikahan Belanda-Jerman ini kemudian lahirlah Frans van Hasselt yang selama 37 tahun secara luar biasa melayani di Tanah Papua. Dengan kapalnya yang bernama „Utrecht“ dia mengelilingi kampung-kampung memberitakan Injil. Dia juga disebut „Tete“ Frans.

1866: Geissler menerbitkan buku katekesasi yang pertama yang berdasarkan katekeksasi Wester dalam bahasa Melayu yang disesuaikan dengan konteks Papua.

1 Desember 1867: Gereja Pengharapan sebagai gereja pertama di Tanah Papua selesai dibangun dan dapat menampung sekitar 400 orang.

28 Mei 1869: Baptisan kedua pada hari Pentakosta kepada empat orang di gereja Pengharapan Mansinam yang penuh sesak dengan sekitar 400 orang. Djoemaat memilih nama David, Remissie memilih nama Markus, Malati memilih nama Sophia dan Soerohan diberi nama

Yohanes oleh van Hasselt. Kendatipun demikian setelah 25 tahun lebih banyak kuburan para misionaris dan keluarga mereka daripada orang Papua yang menjadi percaya.

16 Augustus 1869: Geissler bersama keluarga meninggalkan Mansinam menuju Jerman. Geissler memiliki berbagai penyakit luka infeksi yang parah di kakinya sehingga bertahun- tahun berjalan pincang. Selain itu dia terkena TBC dan mau mengobatinya di Jerman. Geissler juga rindu mendapatkan kekuatan rohani baru selama di Jerman untuk kembali melayani di Tanah Papua. Saat keberangkatannya mereka diantar oleh seluruh penduduk Mansinam yang mencintai guru mereka dan memiliki firasat bahwa guru yang mereka kasihi tidak akan datang kembali. Sudah di tengah perjalanan Geissler rindu untuk kembali ke Tanah Papua yang merupakan tanah airnya yang baru, sedangkan Jerman telah menjadi asing baginya. Lagu kesayangan dan kekuatan khusus bagi Geissler adalah „Segala Benua dan Langit Penuh“ (Nyanyian Rohani 144) yang kemudian digubah oleh I. S. Kijne. Tanggal 17 Mei 1870 mereka tiba dengan selamat di Urecht (Belanda) dan disambut dengan baik oleh para pendukung misi di sana.

11 Juni 1870: Geissler meninggal dunia karena perkembangan penyakit TBC yang dimilikinya yang sebegitu cepat dan dikuburkan di Siegen. Meskipun orang tuanya tinggal dekat Siegen mereka terlambat bertemu anak kekasih mereka dalam keadaan hidup. Secara sangat sederhana Geissler dikuburkan di Siegen dan di atas nisannya hanya tertulis inisial huruf J. G. G. Namun dalam sebuah surat kabar lokal diterbitkan sebuah puisi indah mengenai hidup dan karya Geissler. Baru di tahun 1996 perwakilan Sinode GKI TP, yaitu Pdt. Wim Rumsarwir, Pdt. Frans Mambrasar, Pdt.Abisay, Pdt. Satya dan beberapa teman Papua yang berdomisili di negeri Belanda serta kedua misonaris Jerman Pdt. Siegfried Zoellner dan Pdt.

Klaus Reuter membuat nisan peringatan yang baru. Dari pihak keluarga Geissler hadir Nyonya Anni Keers-Geissler yang sudah berusia 90 tahun.

1871-1899: Misionaris Bink melayani 28 tahun di pulau Roon dan dimakamkan di Yende.

10 November 1896: Petrus Kafiar guru pertama berijazah Sarjana dari Seminari Depok tiba di Manokwari. Dan tanggal 11 Februari 1897 bersama F. van Hasselt masuk ke Tanah Arfak. Petrus Kafiar yang kemudian tinggal di Arfak dan menjadi sosok guru dan penginjil sejati.

Akhir/awal tahun 1907/8: Mimpi Ayamiseba di Roon membawa dampak besar bagi penginjilan di Tanah Papua. Dia bermimpi naik tangga emas ke surga tapi dihalangi oleh malaikat. Kepadanya dikatakan 3 hari lagi dia akan meninggal dan jika dia percaya kepada Yesus dia akan dapat masuk ke surga. Selama tiga hari Ajamiseba memberitakan pada semua orang bahwa pengajaran dari para misionaris tentang Tuhan Yesus itu benar dan mereka harus percaya kepada-Nya dan meninggalkan semua patung-patung berhala. Ajamiseba kemudian meminta ampun kepada istrinya atas segala kesalahannya. Tiga hari kemudian dia meninggal. Sejak peristiwa itu banyak orang Papua yang menjadi percaya kepada Tuhan Yesus dan meninggalkan semua berhala. Dari mana-mana orang meminta Guru Injil dan terjadi pergerakan masal menerima Tuhan Yesus. Sejak itu mulai didirikan pos-pos misi di seluruh Tanah Papua dengan para misionaris khususnya dari Belanda, para guru dan penginjil Papua, Maluku, Sangir dan Manado.

1918: Sekolah guru pertama dibuka di Mansinam di bawah pimpinan Ds. I .S. Kijne dan Ds. Jens. Sekolah ini kemudian dipindahkan ke Miei, Serui dan Abepura. 1921: Sebanyak 750 orang sekaligus dibaptiskan di kampung Menawi-Yapen dengan perintis Guru Laurenz Tanamal. Di Waropen Cornelis Bonai. Di Genyem Guru Deda.

III.  Warisan teologis-rohani Ottow dan Geissler untuk masa kini

  1. Secara keseluruhan ada lima „Kairos“ (Waktu Tuhan) bagi Tanah Papua, yaitu Kedatangan Ottow dan Geissler (1855), Baptisan Pertama (1865), Petrus Kafiar menjadi guru dan penginjil sejati di Tanah Arfak (1897), Mimpi Ajamiseba yang membawa pergerakan percaya pada Tuhan Yesus (1907/8) dan pendirian sekolah guru di Mansinam (1918). Semua ini dapat terjadi dalam sebuah misi oikumenis dan dapat terwujud melalui peran para penginjil dan guru Jerman, Belanda, Papua, Maluku, Sangir dan Papua dimenangkan untuk Injil karena ketaatan akan perintah Tuhan, persekutuan pelayanan dan doa serta pelayanan yang holistik (rohani dan jasmani)!
  2. Karakter kepribadian kerohanian yang tinggi dalam hubungan pribadi dengan Tuhan Yesus sehingga mampu menghadapi segala tantangan dan peperangan Ketaatan, kesediaan berkorban dan hidup sederhana, beriman, berdoa, berpengharapan dan dikuasai kasih kepada sesama.
  3. Ciri pelayanan yang ditandai kesabaran, penyesuaian dengan kondisi yang ada, dalam persekutuan pelayanan dan tindakan kasih yang nyata secara sosial-diakonia. Dengan modal sedikit menghasilkan Bisa membedakan mana yang merupakan kebutuhan utama (primer), mana yang sampingan (sekunder) dan mana yang hanya merupakan keinginan semata. Khotbah dan pengajaran yang alkitabiah, sederhana dan praktis. Pelayanan yang bersifat Misi Holistik dengan memperhatikan kebutuhan rohani dan jasmani (penginjilan, pastoral, pengajaran, pendidikan, kesehatan, ekonomi, pembelaan HAM, sosial-diakonia).
  4. Tujuan pelayanan untuk membawa orang Papua ke dalam suatu hubungan pribadi dengan Tuhan Yesus untuk memperoleh keselamatan kekal dan bukan suatu gereja Membangun orang Papua melalui pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan ekonomi. Memberikan titik berat kepada pendidikan anak muda sebagai harapan masa depan tanpa melupakan yang sudah tua.
  5. Papua dimenangkan untuk Injil karena ketaatan akan perintah Tuhan, persekutuan pelayanan dan doa serta pelayanan yang holistis (rohani dan jasmani)! Hal ini tetap berlaku untuk masa kini dengan bentuk-bentuk pelayanan yang disesuaikan dengan konteks dan kondisi saat ini (kontekstual-kontemporer).
  6. Untuk tetap menjadi berkat bagi Tanah Papua gereja-gereja harus menekanan kehidupan rohani yang tinggi, penginjilan, pengajaran dan pembinaan dengan melibatkan seluruh warga jemaat sesuai karunia dalam pelayanan yang bersifat menyeluruh rohani (pelepasan dari kuasa kegelapan, kehidupan rohani dalam hubungan pribadi dengan Tuhan Yesus, pengajaran Alkitabiah dan pemberdayaan untuk pelayanan sesuai karunia) dan jasmani (pendidikan, kesehatan, sosial-diakonia, HAM). Sangat penting adalah mencetak banyak guru yang handal di Kita perlu lebih banyak guru dan pengusaha! Pendidikan Sekolah Teologi harusnya digabungkan dengan tambahan pendidikan guru Sekolah Dasar serta kemampuan usaha!
  7. Fajar di Tanah Papua akan terus merekah jika kita setia kepada Injil Yesus Kristus! ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here