Beranda Serba Serbi Jan Jap Ormuseray Ajak Warga GKI : Selamatkan Manusia, Tanah, Hutan dan...

Jan Jap Ormuseray Ajak Warga GKI : Selamatkan Manusia, Tanah, Hutan dan Lingkungan Hidup

368
0
BERBAGI
Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua, Jan Jap Ormuseray,SH. MSi ketika menabuh Tifa Tanpa Pembukaan Sidang Klasis ke-4 Tanah Merah Barat yang digelar di Jemaat GKI Marthen Luther, Demta.

JAYAPURA, NGK (3/10/22) – Hutan Papua terus dirambah. Akibatnya, manusia, tanah dan lingkungan hidup terancam. Untuk itu, Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua,  Jan Jap Ormuseray,SH. MSi mengajak seluruh penduduk di Papua, khususnya, warga Gereja Kristen Injili di Tanah Papua untuk selamatkan manusia Papua, Tanah dan Lingkungan Hidup dari oknum-oknum yang mencoba dan terus merambah dan merusak hutan di Papua.

Hal itu disampaikan Jan Jap Ormuseray,SH. MSi pada Pembukaan Sidang Klasis  ke-4 Tanah Merah Barat yang digelar di Jemaat GKI Maranatha, Demta, belum lama ini.

Menurut Ormuseray,  kerusakan lingkungan hidup tak berhenti pada hilangnya keragaman hayati, tapi juga meyentuh berbagai aspek lingkungan lainnya termasuk ancaman perubahan iklim.

“Kerusakan hutan dapat mendatangkan banjir bandang, merusak ekosistem sehingga kehidupan masyarakat terancam bila pengelolaan hutan tidak dilakukan secara optimal. Untuk mengatasi hal ini, pendekatan budaya untuk menyelamatkan lingkungan dengan kegiatan optimalisasi jasa lingkungan melalui program ekowisata dan pengembangan hasil hutan bukan kayu. Dengan program ekowisata, kita tidak tebang pohon, tapi kita tanam pohon dan dapat uang,” ungkap Kepala Dunas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua kepada peserta Sidang Klasis  ke-4 Tanah Merah Barat.

Ormuseray menegaskan, kalau kita tebang pohon, kita dapat apa-apa?  Tapi tebang pohon untuk kepentingan keluarga, kepentingan sosial seperti bangun rumah, gereja sekolah dan lain-lain, itu tidak ada masalah. Tetapi yang jadi masalah adalah tebang pohon dalam jumlah besar untuk diperdagangkan.

Menurut Ormuseray, kehadiranya sebagai  Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua selaku perwakilan Pemerintah Provinsi Papua yang menjadi mitra gereja, karena sesuai dengan Keputusan Sidang Sinode GKI di Waropen, bahwa  warga GKI di Tanah Papua untuk memperhatikan dengan baik langkah-langkah dalam menyelamatkan manusia, tanah dan hutan serta menjaga lingkungan hidup.

“Dalam kapasitas selaku mitra gereja, maka hari ini sebagai Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup, saya hadir dalam sidang ini untuk memberi dukungan bagi seluruh warga gereja, agar kita sama-sama berjuang untuk menyelamatkan manusia, tanah dan hutan serta lingkungan hidup, karena hari ini kita menyadari bahwa terjadi perubahan iklim global yang sangat luar biasa,” kata Jan Jap Ormuseray yang juga Ondoafi Kampung Yungsu Desoyo, yang berada di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura.

Sebagai Kepala Dinas yang menjadi Ondoafi dan Ketua Rukun Anak Tanah Merah dan Anak Peranakan Tanah Merah,  Jan Jap Ormuseray memberi penjelasan, bahwa berbagai informasi dari media massa, bahwa saat ini terjadi perubahan cuaca yang sangat signifikan. Di Kutup Utara terjadi pemanasan sehingga es di kutub mencair karena perilaku manusia yang tidak menjaga lingkungan dengan baik.

“Kami di dinas mencatat, bahwa beberapa waktu lalu, setiap hari, ada kayu yang turun dari Kabupaten Sarmi sekitar 100 truk bermuatan kayu. Kalau dibiarkan terus, kita punya hutan bisa habis. Pemerintah rugi, apalagi masyarakat pemilik hutan dan tanah. Kita semua rugi karena  orang lain merusak alam ciptaan Tuhan sehingga mengakibatkan terjadi perubahan iklim secara global yang sangat merugikan kita hari ini,” kata Ormuseray.

Sementara itu, Ketua Wilayah Satu, BP AM Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt Frans Mambrasar menjelaskan, bahwa masalah tanah, hutan, lingkungan hidup dan kesejahteraan Orang Papua akan menjadi perhatian serius dalam sidang-sidang klasis se Tanah Papua.

“GKI punya data, berapa banyak orang Papua yang belum sejahterta sebagai akibat dari hutan yang rusan dan hak atas tanah adat, hilang. Hal ini menjadi perhatian serius dari Sinode GKI di Tanah Papua,” tegas Pdt Frans Mambrasar. (Krist A)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here