Beranda Nusantara Di Distrik Iwur, Jembatan Rotan itu Terus Menelan Korban

Di Distrik Iwur, Jembatan Rotan itu Terus Menelan Korban

575
0
BERBAGI
Dengan penuh kehati-hatian, Ibu Sandra mencoba melewati Jembantan Gantung di Distrik Iwur, Kabupaten Pegunungan Bintang.

Jembatan Gantung yang terbuat darti rotan itu menjadi urat nadi ekonomi masyarakat di Distrik Iwur dan Tarub di Kabupaten Pegunungan Bintang. Rencana pembangunan jembatan yang dijanjikan pemerintah itu, tak pernah terwujud. Bupati ganti bupati, hanyalah janji kosong. Dan jembatan gantung itu, terus makan korban jiwa terbawa arus Sungai Digoel lantaran jembatan itu putus.

 

OKSIBIL, NGK – Siang itu, 28 Januari 2023 penduduk di Distrik Iwur, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua Tengah, dikejutkan dengan terputusnya jembatan gantung di Sungai Digoel yang menyebabkan tiga anggota Polri dan satu anggota TNI jatuh ke sungai dan hilang. Diduga, empat aparat keamanan itu, terseret arus sungai Dogoel.  Dan, sampai berita ini ditulis pukul 23.30 WP, keempat aparat keamanan itu belum ditemukan.

Tiga Anggota Polri yang hilang itu adalah Briptu Yohanes Matheus, Bripda Risman Rahman, Bripda Stevan Randongkir dan Satu anggota TNI, Pratu Ferdian Dwi Kusuma.

Menurut penelusuran NGK (www.Newguineakurir.com), sejak 2009, sudah tiga kali Jembatan Gantung Sungai Digoel di Distrik Iwur, putus dan menelan korban nyawa, termasuk empat anggota keamaman yang hilang itu.

Salah satu peristiwa terputusnya Jembatan gantung yang terbuat dari rotan di Distrik Iwur itu, terjadi tahun 2021 dan satu orang dinyatakan meninggal. Sementara alat berat – Eksafator  yang digunakan untuk pembangunan jalan, terjungkir masuk ke sungai dan belum diangkat hingga kini

Jembatan Gantung itu pada umum terbuat dari rotan dan panjang sekitar 40 meter yang membentang di atas Sungai Digoel yang arusnya cukup kencang. Dan ujung dari jembatan di sebelah menyebelah, diikat di pohon.

Jembatan Gantung di Distrik Iwur.

Jarak dari Jembatan Gantung di Sungai Digoel ke Distrik Iwur mencapai 4 kilometer. Sementara perjalanan darat dengan menggunakan kendaraan dari Oksibil memakan waktu hampir 2 jam.

Hanya jembatan ini yang menjadi urat nadi ekonomi bagi wara di Distrik Iwur dan Distrik Tarup. Taka da jalan lain. Jika ada penduduk Iwur yang hendak menjual hasil kebun ke Psar Oksibil, dia harus merogoh kantungnya untuk membayar biaya transport. “Dari Iwur ke jembatan rontan, biaya ojek Rp 50.000  per orang. Setekah menyeberang, kami harus menumpang kendaraan jenis Estrada untuk menuju Oksibil. Biayanya sekitar Rp 100.000. Jadi transport untuk jualan di Oksibul  sebesar Rp 100.000,” ujar penduduk Iwur itu.

Penduduk Iwur itu menjelaskan, kalau menggunakan pesawat harus sewa atau charter. Ongkosnya dari Oksibil ke Iwur sebesar Rp 11 juga. Kalau terbang dari Sentani   ongkos charternya Rp 30  juta. Sedangkan sewa pesawat dari Tanah Merah, Boven Digoel Rp 23 ribu. Tidak ada penerbangan regular yang rutin mengangkut penumpang dari dank e Iwur.

Kondisi ini membuat Distrik Iwur menjadi distrik yang benar-benar terisolir. Sementara itu,  para pemimpin di Kabupaten Pegunungan Bintang hanya janji untuk membangun jembatan dan jalan untuk membuka isolasi daerah, tapi nyatanya, mereka hanya bisa janji tanpa ada bukti,

Penduduk di Distrik Iwur harus berjuang keras, melewati jembatan gantung yang rapuh itu menuju ibukota Kabupaten Pegunungan Bintang di Oksibil. Akibatnya, Distrik Iwur menjadi Distrik yan benar-benar terisolir.

Jembatan Gantung Kali Digul merupakan akses utama menuju Distrik Iwur,  Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. Tak heran jembatan yang terbuat dari tali rotan ini menjadi urat nadi ekonomi masyarakat setempat.

Distrik Iwur perbatasan langsung dengan Distrik Tarup, yang tak jauh dari batas negera RI – Papua New Guinea (PNG). Sementara di bagian barat berbatasan langsung dengan Distrik Waropko,  Kabupaten Boven Digoel.

Menurut data yang dihimpun dari penduduk Iwur, bahwa pemerintah berencana membangun jembatan permanen, namun pembangunan jembatan permanen sementara terhenti. Bupati ganti Bupati, rencana pembangnan jembatan Iwur di Sungai Digoel, tak pernah terwujud. Janji hanya tinggal janji.

Selain menjadi urat nadi masyarakat Distrik Iwur, jembatan ini juga akses penghubung Jalan Trans Papua yang menghubungkan Distrik Waropko, Kabupaten Boven Digul.

“Masih ada beberapa sungai lagi sebesar ini. Jika sejumlah jembatan dan jalan sudah jadi otomatis jalur darat antara Oksibil dan Boven Digoel bisa dilalui, tapi itu mungkin butuh waktu lama,” ungkap salah satu penduduk ketika menyaksikan pencarian empat anggota keamanan yang hilang akibat jembatan Iwur di Kali Digoel itu terputus (28/1/23)

Harga BBM Rp50 Ribu per Liter

Masyarakat Distrik Iwur sangat mengandalkan Kota Oksibil sebagai daerah alternatif, karena jaraknya tergolong dekat.

Dua jam perjalanan Dari Oksibil ke Iwur hanya sampai depan Jembatan Gantung. Setelah itu, harus melewati Jembatan Gantung, baru naik ojek lagi ke (Distrik) Iwur.  Ongkos ojek Rp 50 ribu per orang. Tukang ojek, rata-rata anak-anak dari Distrik Iwur.

Biasanya masyarakat memanfaatkan tali dari arah berlawanan untuk menyeberangkan bahan pokok.  Dengan kondisi seperti itu,  tidak heran jika harga Bahan Bakar Minyak (BBM) eceran jenis Pertalite di Distrik Iwur mencapai Rp50 ribu per liter.

Iwur adalah salah satu distrik terisolir yang ada di Kabupaten Pegunungan Bintang yang yang akan genap 21 tahun pada Desember 2023.

Kabupaten Pegunungan Bintang dibentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 26 Tahun 2002 tanggal 11 Desember 2002 bersama 13 kabupaten lainnya di Provinsi Papua. Kabupaten ini memiliki kondisi geografis yang khas, di m ana sebagian besar wilayahnya pegunungan terutama di bagian barat, penduduk bermukim di lereng gunung yang terjal dan lembah-lembah kecil dalam kelompok-kelompok kecil, terpencar dan terisolir; dataran rendah hanya terdapat di bagian utara dan selatan dengan tingkat aksesibilitas wilayah yang sangat rendah, sehingga sulit dijangkau bila dibandingkan dengan wilayah lainnya di tanah Papua.

Hingga saat ini seluruh pelayanan di wilayah ini hanya dilakukan dengan transportasi udara, menggunakan pesawat kecil jenis Cessna, Pilatus, Twin Otter, Cassa dan itupun sangat tergantung pada perubahan cuaca yang sering berkabut. Keterbatasan transportasi udara dengan biaya angkutan yang cukup tinggi menyebabkan harga barang kebutuhan pokok dan bahan bangunan (terutama bahan import) menjadi sangat mahal, sehingga tidak terjangkau oleh daya beli masyarakat. Tingginya tingkat kemahalan harga barang juga disebabkan karena hampir semua barang kebutuhan pokok dan bahan bangunan didatangkan dari Jayapura menggunakan transportasi udara dengan biaya angkutan barang mulai Rp. 18.500,- per kilogram dan tarif angkutan penumpang mulai Rp. 1.200.000,- per orang. (Krist A)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here