Beranda Lingkungan Dulu Pakai Bom, Sekarang Pakai Pancing dan Jaring

Dulu Pakai Bom, Sekarang Pakai Pancing dan Jaring

366
0
BERBAGI
Nelayan di Kepulauan Padaido (Foto: Kompas.com)

Kisah Para Nelayan dari Pulau Moes Mangguandi, Pasi dan Auki di Kabupaten Biak Numfor

BIAK, NGK – Matahari baru saja menampakan cahayanya. Pagi itu, belum lama ini,   di pesisir perairan di sekitar Pasar Bosnik, Distrik Oridek Kabupaten Biak Numfor, puluhan motor tempel dengan mesin 15 dan 40 PK berjejer. Para motoris sibuk membongkar muatan berupa ikan dengan berbagai ukuran. Pemilik perahu itu adalah para nelayan dari kampung-kampung di Kepulauan Padaido.  Beginilah komentar para nelayan itu tentang hasil tangkap ikan, sebelum dan sesudah laut di sekitar kampung-kampung mereka menjadi kawasan konservasi.

Pulau Pasi di Kepulauan Padaido (Foto: Tribun Papua)

Yunus Rumkorem (73), salah satu nelayan dari Kampung Meos Manguandi. Ia menangkap ikan dengan mengunakan alat tagkap jaring dan senapan molo. “Sebelum kawasan  mereka dikonservasi, banyak sekali ikan dan biota-biota laut yang hanpir punah dan hilang karena penankapan yang berlebihan dan merusak laut dengan menggunakan bom. Tapi sekarantg, penggunaan Bom sudah dilarang. Dan hasil tanggakapan ikan sangat banyak.”

Arni Wakum, nelayan asal Kampung Pasi. “Sebelum kawasan kami dilindungi, saya dan masyarakat lainnya sering mengunakan bom untuk menagkap ikan. Ternyata bom itu merusak terumbu karang dan jumlah tangkapan ikan, sangat sedikit.

Awin (Mama) Kristina Rumbino (55th), penjual ikan asal Pulau Auki. “Sebelum tahun 2000, sebagian masyarakat di Pulau Auki  mencari dan menangkap ikan dengan menggunakan peledak dan potas. Bagi kami, yang penting ada ikan yang harus dibawah pulang. Tanpa kami sadari, menggunakan peledak dan potas, telah terumbu karang sebgai rumah ikan. Kalau suami saya, Domingus Wader,  mencari dan menangkap ikan dengan memancing dan jarring. Tapi, suami saya harus mendayung sangat jauh hingga Pulau Auki tidak kelihatan lagi.”

Setelah ILMMA (The Indonesia Locally Managed) masuk tahun 2003 di Pulau Meos Manguandi dan 2010 di Pulau Pasi, masyarakat  dilatih dan dibimbing untuk menjaga laut. Hasilnya, Yunus Rumkorem, Arni Wakum dan Awin (mama) Kristina Rumbino dapat tak perlu lagi pergi jauh–jauh melaut untuk mencari ikan. Di sekitar kampungnya, mereka mendapat ikan lebih banyak, dan ukuran ikannya besar-besar. (Petrus Fainsenem dan Hellen Margareth Manggaprouw/ILLMA/Krist A)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here