Beranda MIMIKA Obituari Vebian Magal

Obituari Vebian Magal

63
0
BERBAGI
Penulis berkemeja putih bersama almarhum, 26 Juli 2024.

Mt mlm Mas Oniyoma, tulis Pak Vebian Magal di inbox Facebook di awal bulan Desember 2025. Pesan itu baru saya baca beberapa hari kemudian dan cukup bikin kaget.

 Gimana ga kaget. Sejak bulan Agustus 2025 saya dengar Pak Vebian sedang kurang sehat. Beberapa kali saya menyapa melalui whatsapp tapi tidak terbalas. Di bulan Desember saya Kembali dengar kalau kondisi kesehatannya menurun. 

 Amole Kepala Suku. Selamat Natal dan Tahun Baru. Apa kabar, Pak. Balas saya. Pesan itu Kembali tidak berbalas. Saya jadi ragu apakah yang mengirim pesan itu benar dia atau keluarganya yang dimintanya mengetik.

PANGGILAN  Mas Oniyoma itu sendiri sejarahnya cukup lama. Sama lamanya dengan perkenalan saya dengan seorang Vebian Magal.

Saya kenal Vebian Magal sejak dia masih kuliah di Jakarta di tahun 2012. Ketika itu belum kenal baik.

Setahun kemudian saya kembali ketemu dengan dia di Timika. Saat itu pria kelahiran Tsinga 12September 1981 itu sudah menyelesaikan studinya di Universitas Nasional Jakarta dan diterima jadi karyawan di bagian Asrama Biro Pendidikan LPMAK (Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme & Kamoro), membantu Kepala Bagian Asrama Octovian Jangkup.

Di salah satu ruang kerja kantor Biro Pendidikan yang dia bagi dengan Pak Octo itu, kami banyak ngobrol soal tugas utamanya, yaitu pengelolaan Asrama Penjunan milik LPMAK dan beberapa asrama lain yang dikelola Keuskupan Timika serta konsep pendidikan berasrama yang sedang dijalankan LPMAK Ketika itu.

Pertemuan dengan peserta program beasiswa.

Asrama Penjunan yang didirikan tahun 2007 ketika itu ditujukan hanya untuk anak2 Amungme dari kampung2 di dataran tinggi Mimika seperti Aroanop, Tsinga, dan Banti. Jumlah penghuni di Asrama Penjunan pada tahun 2014 masih sekitar 150 anak.

Yang menarik, selain soal pendidikan Vebian ternyata senang diskusi soal pentingnya orang Amungme Kamoro berdaya secara ekonomi, adat Amungne, dan pengembangan diri. Ide2 pria lulusan SMA Lokon Manado itu sering kali mengagetkan. Misalnya, dia sering bilang soal pembukaan “pos dagang” untuk orang2 Amungme dan Kamoro. Ternyata yang dimaksud “pos dagang” itu adalah unit usaha.

Panggilan Oniyoma berasal dari sebuah email. Pada suatu malam saya iseng mengirim email ke Vebian dan Octo menggunakan email lain yang saya beri nama Victor Oniyoma. Besoknya di kantor saya tunggu reaksi Pak Vebian dan Pak Octo.

Pak Octo bingung merasa tidak pernah tahu siapa itu Victor Oniyoma. Ketika saya temui Vebian, dia langsung ketawa, itu email Oniyoma pasti pak yang kirim toh? Haha.

Kami kemudian ngobrol2 soal marga Oniyoma dan marga2 orang Amungme di Akimuga. Obrolan itu kemudian berkembang ke soal adat orang Amungme, sejarah Tsinga dan Beanekogom dan cerita bahwa banyak marga orang Amungme yang sudah hilang karena berbagai sebab.

Pada tahun 2017, Vebian sudah dipercaya menjadi Wakil Sekretaris Eksekutif (setara Wakil Direktur) LPMAK yang membawahi program Pendidikan dan Kesehatan LPMAK.

Ketika LPMAK bertransformasi menjadi YPMAK pada tahun 2019, Vebian Magal mencalonkan diri sebagai Direktur YPMAK dan terpilih setelah melalui proses pemilihan yang Panjang.

Di saat itu saya lihat seorang Vebian Magal sudah semakin berkembang. Pengalamannya mengelola Program Pendidikan dan Kesehatan LPMAK membuat dia sudah punya pemikiran sendiri soal Pendidikan berasrama di Kabupaten Mimika. Baginya, Pendidikan itu adalah hak semua anak2 Papua tanpa mengenal batas suku. Asrama baginya adalah cerminan alam yang menyediakan kekayaannya bagi semua suku di Papua.

Dia suka menggunakan perbandingan Asrama milik LPMAK dengan Gunung Nemangkawi. Gunung yang memberi berkat bagi semua yang tinggal di sekitarnya, mulai dari orang Amungme, Migani, Damal, Nduga yang terdekat hingga Kamoro, Mee, dan Dani yang berjarak tapi masih dalam jangkauan Ibu Nemangkawi melalui sungai2 yang mengalir.

Sesuai mimpi Vebian, asrama milik YPMAK yang awalnya hanya ditujukan bagi anak Amungme dari daerah dataran tinggi Mimika itu sekarang terbuka bagi anak Amungme, Kamoro dan beberapa anak dari suku Mee dan Dani.

Asrama itu pemersatu semua suku2 di Papua, bukan pemisah, kata Vebian suatu hari kepada saya. Asrama seperti punya LPMAK itu harus ada di tiap provinsi di Papua ini, lanjut Vebian. Nah meno, itu tugas pemerintah, bukan kita, balas saya.

Pandangan Vebian soal Pendidikan dan asrama itu pada akhirnya membawanya untuk masuk ke dalam politik praktis. Sebuah langkah yang akhirnya tidak bisa saya ikuti dan tidak saya percayai. Saya tidak percaya bahwa sistem politik dan sistem elektoral Indonesia saat ini mampu menjadi jalan bagi orang sehebat Vebian untuk memperbaiki Pendidikan Papua. Vebian masih percaya perubahan bisa terjadi melalui cara yang ditempuhnya itu.

Setelah saya mengundurkan diri dari YPMAK di akhir tahun 2024, saya masih tetap berkomunikasi dengan Vebian. Ada banyak ide dan hal yang dia mau wujudkan. Ide dan hal2 yang masih bikin saya kaget. Sama kagetnya seperti Ketika mendengarkan cerita2nya di awal perkenalan dengannya dulu.

Anak gunung Nemangkawi itu rasanya masih ingin terus cerita. Bahkan di saat2 akhir hidupnya melalui sapaan kepada Mas Oniyoma di sebuah malam.

Amole, meno. Beristirahatlah dalam damai.

*Onny Wiranda. Staf Khusus Direktur YPMAK 2019 – 2024. Sekarang fokus berwiraswasta dan berolahraga.

BERBAGI
Artikel sebelumyaIn Memoriam Vebian Magal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here