
TIMIKA (6/2/2026) – Transportasi sungai dari Timika menuju Pelabuhan Sipu-Sipu di Distrik Jita, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, masih menghadapi kendala serius akibat pendangkalan sungai yang belum tertangani.
Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah, John NR Gobai, menyampaikan keprihatinannya kepada NGK melalui pesan WhatsApp pada Jumat (6/2/2026) tentang terhambatnya pelayanan kapal perintis ke Distrik Jila
Menurut John NR Gobai, perlunya pengerukan sungai di depan Pulau Tiga agar kapal perintis dapat kembali beroperasi di Jita. “Sungai harus dikeruk untuk membuat alur kapal, dan lampu-lampu harus dipasang di muara sungai sebagai tanda bagi kapal perintis Sanus untuk masuk ke dermaga Sipu-Sipu,” ujarnya.
Dijelaskan juga, pelayanan kapal perintis di Distrik Jita bermula dari protes terhadap PT Freeport Indonesia terkait pendangkalan sungai yang menghambat transportasi masyarakat. Gobai menjelaskan,
“Saya berpikir, kalua hanya memprotes Freeport tanpa memberikan solusi tidaklah cukup. Oleh karena itu, saya bertekad memperjuangkan adanya kapal perintis yang dapat singgah di Pelabuhan Sipu-Sipu, sehingga masyarakat tidak lagi mengalami masalah transportasi akibat pendangkalan,” kata Gobai.

Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah itu menjelaskan, pelayanan kapal perintis untuk Distrik Jita telah dimulai sejak tahun 2025 dan akan berlanjut pada tahun 2026 dengan rute Agats – Sipu-Sipu/Jita – Pomako – Sipu-Sipu/Jita – Agats, menggunakan Kapal Perintis Sanus. Namun, Gobai menekankan bahwa pendangkalan sungai harus segera diatasi dengan pengerukan dan pemasangan lampu di muara sungai.
Dengan dibukanya trayek perintis ini, diharapkan guru, tenaga medis, staf distrik, dan warga dari distrik tetangga dapat lebih mudah melakukan pelayanan. “Program pemerintah dapat dilaksanakan, masyarakat dapat membawa hasil bumi ke kota untuk dijual, dan kembali ke kampung dengan membawa bekal untuk hidup,” kata John NR Gobai.
Sebagai pimpinan DPR Papua Tengah, Gobai memohon agar masalah ini segera ditindaklanjuti agar kapal perintis dapat berlabuh kembali di Pelabuhan Sipu-Sipu. Harapan masyarakat Distrik Jita untuk mendapatkan akses transportasi laut yang murah dan aman mulai menemui titik terang dengan penetapan keberlanjutan trayek kapal perintis oleh Kementerian Perhubungan RI untuk tahun anggaran 2026.
Pelayanan kapal perintis sempat terhambat akibat pendangkalan di perairan depan Pulau Tiga. Namun, berkat koordinasi intensif, pemerintah pusat memastikan pelayanan tetap berlanjut tahun depan.
Gobai mengungkapkan bahwa keberadaan kapal perintis sangat penting bagi ekonomi warga di perbatasan Mimika dan Asmat. Tanpa subsidi pemerintah, biaya transportasi menjadi sangat mahal. “Biaya sewa perahu dari Pomako ke Jita mencapai Rp25 juta hingga Rp30 juta, angka yang mustahil dijangkau rakyat kecil,” ujarnya.
Upaya diplomasi John NR Gobai membuahkan hasil dengan hadirnya trayek kapal perintis ini. Ia menjelaskan bahwa awalnya ia memprotes PT Freeport Indonesia terkait dampak pendangkalan sungai. “Saya bertekad memperjuangkan kapal perintis agar bisa masuk ke Pelabuhan Sipu-Sipu, sehingga masalah pendangkalan tidak lagi memutus urat nadi kehidupan masyarakat,” jelasnya.
Gobai menekankan bahwa akar masalah berupa pendangkalan sungai tidak boleh diabaikan dan mendesak Pemerintah Provinsi Papua Tengah, Pemerintah Kabupaten Mimika, dan PT Freeport Indonesia untuk segera bertindak.
Dengan beroperasinya kapal perintis, diharapkan tidak ada lagi alasan bagi aparat distrik dan tenaga pelayan masyarakat untuk meninggalkan tempat tugas. Gobai menyampaikan terima kasih kepada Menteri Perhubungan, jajaran Dirjen Perhubungan Laut, serta para Kepala Dinas Perhubungan di tiga provinsi atas sinergi yang terjalin. (ka)







