*Oleh: Dr. Ir. Agus Sumule
PENINGKATAN mutu pendidikan dasar di Papua masih menghadapi berbagai tantangan, khususnya dalam penguasaan literasi dan numerasi.
Matematika sebagai fondasi berpikir logis dan analitis sering menjadi mata pelajaran yang paling sulit dikuasai oleh siswa sekolah dasar. Berbagai intervensi telah dilakukan, salah satunya melalui pelatihan Matematika Gasing yang diperkenalkan oleh Prof. Yohanes Surya.
Namun, di Papua, hasilnya belum menunjukkan dampak yang signifikan dan merata. Salah satu penyebabnya adalah model pelatihan yang selama ini hanya berbasis pada pengiriman guru dari berbagai sekolah untuk mengikuti pelatihan, tanpa integrasi sistemik di satuan pendidikan tertentu. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan baru: mengintegrasikan pelatihan dan implementasi Matematika Gasing ke dalam sistem Sekolah Sepanjang Hari (SSH).
Sekolah Sepanjang Hari (SSH) pada dasarnya memberikan ruang waktu belajar yang lebih panjang bagi siswa. Tambahan waktu ini seharusnya menjadi peluang strategis untuk memperkuat kompetensi dasar, termasuk matematika. Namun, tanpa metode yang tepat, tambahan waktu belum tentu berbanding lurus dengan peningkatan kualitas pembelajaran.
Di sinilah Matematika Gasing dapat berperan. Metode ini menekankan pada pendekatan yang mudah, asyik, dan menyenangkan, dengan fokus pada penguasaan konsep dasar melalui latihan terstruktur dan intensif. Jika diterapkan secara konsisten dalam ekosistem SSH, potensi dampaknya akan jauh lebih besar dibandingkan pelatihan parsial yang tersebar.
Kelemahan pendekatan sebelumnya terletak pada sifatnya yang tidak terintegrasi. Ketika hanya beberapa guru dari berbagai sekolah dilatih, terjadi kesenjangan dalam penerapan di sekolah masing-masing.
Guru yang telah dilatih sering kali kembali ke lingkungan kerja yang tidak sepenuhnya mendukung implementasi metode baru. Rekan sejawat yang tidak dilatih mungkin tidak memahami pendekatan tersebut, sehingga kolaborasi menjadi terbatas. Selain itu, tidak ada sistem pendampingan intensif yang berkelanjutan. Akibatnya, pelatihan yang berlangsung selama sekitar 21 hari tersebut tidak bertransformasi menjadi perubahan budaya belajar di sekolah.
Sebaliknya, jika pelatihan Matematika Gasing dilakukan secara kolektif di satu SD yang dikelola dengan sistem SSH oleh Tim Prof. Yohanes Surya, maka seluruh ekosistem sekolah terlibat. Guru reguler dan guru pendamping SSH dilatih bersama.
Hal ini menciptakan kesamaan persepsi, keselarasan metode, serta kolaborasi yang lebih efektif. Guru reguler dapat menerapkan metode Gasing dalam pembelajaran pagi hari sesuai kurikulum utama, sementara guru pendamping SSH dapat memperkuat dan memperdalam pemahaman siswa pada sesi sore hari. Dengan demikian, terjadi kesinambungan antara pembelajaran inti dan penguatan tambahan.
Integrasi ini juga memungkinkan penerapan metode Gasing sepanjang tahun ajaran, bukan sekadar intervensi sesaat.
Dalam konteks SSH, waktu sore hari dapat difokuskan pada penguatan numerasi melalui latihan terstruktur, permainan matematika, dan pendampingan individual. Guru pendamping SSH berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa yang tertinggal sekaligus menantang siswa yang lebih cepat memahami materi. Sementara itu, guru reguler memastikan bahwa pendekatan Gasing tetap selaras dengan capaian kurikulum nasional.
Model ini memiliki beberapa keunggulan strategis. Pertama, konsistensi metode. Ketika seluruh guru dalam satu sekolah menggunakan pendekatan yang sama, siswa tidak mengalami kebingungan akibat perbedaan cara mengajar.
Kedua, pembentukan budaya belajar matematika yang positif. Karena metode Gasing dirancang untuk membangun rasa percaya diri melalui keberhasilan bertahap, siswa akan mengalami peningkatan motivasi belajar.
Ketiga, efektivitas penggunaan waktu SSH. Tambahan jam belajar tidak hanya menjadi pengulangan materi secara konvensional, tetapi menjadi ruang pembinaan keterampilan numerasi yang sistematis.
Selain itu, pendekatan berbasis satu sekolah memungkinkan evaluasi dan pemantauan yang lebih terukur. Perkembangan hasil belajar dapat diamati secara kolektif. Jika terjadi kendala, perbaikan dapat dilakukan melalui diskusi internal antar guru yang telah menerima pelatihan yang sama.
Sekolah juga dapat menjadi model percontohan (pilot project) bagi sekolah lain di wilayah tersebut. Dengan bukti keberhasilan yang nyata di satu lokasi, replikasi program akan lebih meyakinkan dan berbasis data.
Tentu saja, keberhasilan model ini mensyaratkan komitmen manajemen sekolah dan dukungan kebijakan dari pemerintah daerah atau pemangku kepentingan pendidikan. Pelatihan selama kurang lebih 21 hari harus dirancang tidak hanya sebagai transfer teknik berhitung cepat, tetapi juga sebagai transformasi pedagogis.
Guru perlu memahami filosofi di balik metode Gasing, yaitu membangun fondasi kuat melalui langkah-langkah sederhana dan sistematis. Pendampingan pasca-pelatihan juga penting agar implementasi tetap konsisten.
Di Papua, di mana tantangan geografis dan sosial sering menghambat pemerataan mutu pendidikan, model integrasi SSH dan Matematika Gasing dapat menjadi solusi kontekstual.
SSH menyediakan struktur waktu dan kelembagaan; Matematika Gasing menyediakan metode yang praktis dan teruji dalam meningkatkan numerasi dasar. Ketika keduanya digabungkan dalam satu sistem yang terencana, peluang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika menjadi jauh lebih besar.
Pada akhirnya, peningkatan mutu pendidikan tidak cukup dilakukan melalui pelatihan sporadis yang terpisah dari sistem sekolah. Perubahan harus bersifat menyeluruh dan berkelanjutan.
Dengan melatih seluruh guru reguler dan guru pendamping dalam satu sekolah SSH, serta menerapkan metode Matematika Gasing secara konsisten sepanjang tahun ajaran, sekolah tersebut dapat mengalami transformasi nyata dalam penguasaan matematika siswa. Jika berhasil, pendekatan ini bukan hanya meningkatkan hasil belajar, tetapi juga membangun fondasi berpikir logis dan percaya diri bagi generasi muda Papua.
(*) Penulis Adalah: Dr. Ir. Agus Sumule, Dosen di Universitas Papua di Manokwar, Papua Barat.







