Beranda Serba Serbi Kisah Inspiratif Abraham Kateyau: Dari Buruh Kasar Hingga Pj Sekda

Kisah Inspiratif Abraham Kateyau: Dari Buruh Kasar Hingga Pj Sekda

94
0
BERBAGI
Dr. Abraham Keteyau, SE, MH, putra Kamoro, yang tak melupakan akarnya.

BERBEKAL uang Rp14 ribu dari sang ayah dan restu sang ibu, Abraham Kateyau bertolak dari Mimika menuju Nabire. Ia sempat menjadi buruh kasar di pelabuhan Sorong serta surveyor mencari cadangan minyak bumi di Pulau Buru, Maluku. Kini ia adalah Penjabat Sekda Kabupaten Mimika.

Bupati Mimika, Johannes Rettob ketika melantik Dr. Abraham Keteyau, SE, MH sebagai Penjabat Sekda Mimika.

Di ruang kerja yang tenang, Pusat Pemerintahan SP 3, Rabu, 11 Februari 2026 kemarin, Dr. Abraham Keteyau, SE, MH, sejenak pikirannya menerawang ke masa silam.

Di luar ruangan menunggu atau mengantre sejumlah pimpinan OPD Pemda Mimika dan staf. Di saat itu, ia sempat menenangkan diri sambil membayangkan wajah sang ayah, alm.Yoseph Kateyau, dan mengenang masa lalunya semasa kecil hingga remaja di Kampung Keakwa, Distrik Mimika Tengah.

“Ini uang, silakan berangkat ke Nabire. Harus selesaikan pendidikanmu, baru kau bisa kembali di Keakwa,” kenang Abraham, menirukan pesan ayahnya.

Di tangannya kala itu, hanya ada lembaran uang lusuh senilai Rp14.000. Sebuah modal yang tampak mustahil untuk menaklukkan dunia, namun bagi Bram—sapaan akrabnya—itu adalah mandat suci.

Bram, dari buruh menjadi Pj Sekda Mimika.

Perjalanan hidup Penjabat (Pj) Sekda Kabupaten Mimika ini adalah sebuah perpaduan antara keterbatasan yang ekstrem dan tekad yang tak kunjung padam.

Ia lahir di Kota Jayapura, pada 13 April 1972, putra asli suku Kamoro dari Kampung Keakwa. Ia tumbuh di tengah lanskap yang tidak selalu ramah terhadap mimpi anak-anak pesisir Mimika.

Jalan panjang Bram, sapaan akrabnya, menuju tangga kekuasaan tidaklah linier. Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di SD YPPK St.Bonaventura Keakwa, lalu melanjutkan ke SMP YPPK Lecocq d’Armanville Kaokanao dan lulus pada 1989. Kemudian, ia menyeberang ke Nabire untuk masuk ke SMA YPPK Adhi Luhur. Namun, kesulitan finasial sempat menghentikan langkahnya. Tak sanggup membayar biaya sekolah, Bram terpaksa berhenti sekolah setahun.

Bukannya menyerah, ia justru membenamkan dirinya dalam dunia kerja yang keras, dari bekerja sebagai buruh kasar di Pelabuhan Sorong hingga surveyor pengeboran minyak di Pulau Buru, Seram, Maluku. Ia jalani demi menyambung hidup.  Dan, di tengah debu pelabuhan dan deru mesin bor, ia tetap menjaga asa untuk kembali bersekolah.

Setahun merantau, ia lantas kembali lagi ke Nabire. Kecerdasannya terbukti tak luntur oleh keringat di pelabuhan. Ia langsung melompat ke kelas tiga, karena prestasi gemilangnya mendapat peringkat pertama di kelas satu sebelumnya. “Kalau kesempatan tidak saya pakai baik-baik, hidup saya sekarang, bisa jadi lebih sulit,” ujarnya pendek.

Titik balik hidupnya hadir melalui, program beasiswa Dana Kemitraan PT Freeport Indonesia yang kala itu dikelola LPM-Irja (kini YPMAK). Dukungan finansial, uang saku, hingga pembinaan karakter menjadi bahan bakar baginya, menyelesaikan studi S1 Ekonomi di STIE Ottow Geissler, Jayapura (sekarang Universitas Ottow Geissler Papua) pada awal millennium 2001, sebelumnya, pada 1993, Bram sempat masuk program studi D3 Olahraga, FKIP Universitas Negeri Cenderawasih, Jayapura, melalui jalur SLSB (seleksi lokal siswa berprestasi) namun di kemudian hari, ia memilih mundur, sebab ia menilai, jurusan itu tidak sejalan dengan visinya.

“Kalau waktu itu program beasiswa, Dana Kemitraan PT Freeport Indonesia ini tidak ada, mungkin kami tidak tahu mau menjadi seperti apa hari ini,” ungkap mantan Ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa Kamoro pertama di Jayapura ini.

Sebagai satu dari sedikit sarjana asli suku Kamoro, setelah menyelesai pendidikan S1, ia lantas dilirik PT Freeport Indonesia (PTFI) sempat mengecap karier sebagai staf Industrial Relation di Departemen HRD. Namun, takdir kembali mengujinya, saat Pemerintah Kabupaten Mimika membuka lowongan ASN, ia dihadapkan pada dilema besar.

Pihak perusahaan bahkan sempat “menahannya” selama dua minggu dan menawarkan posisi mentereng: pindah tugas kerja di kantor pusat Freeport-McMoRan di New Orleans, Louisiana, Amerika Serikat. Sebuah tawaran mimpi bagi banyak orang, namun bagi Bram, suara dari kampung halamannya Mimika, lebih nyaring.

“Setelah berdiskusi dengan istri, anak, dan keluarga, saya akhirnya memutuskan mengabdi untuk masyarakat melalui jalur pemerintahan,” tegas ayah dari dua kembar, Rio dan Roy Kateyau ini.

Ia memilih memulai dari nol, mengawali kerja sebagai CPNS di Dinas Sosial Mimika, dengan upah yang jauh lebih kecil ketimbang gajinya di PT Freeport Indonesia.

Dari Kadistrik Menuju Pj Sekda Mimika

Karier birokrasinya adalah potret tentang kesabaran mengikuti proses, dari jabatan Kepala Distrik Mimika Timur Jauh pada 2013, hingga menjabat Kepala Bagian Organisasi dan Tatalaksana (Ortal) selama delapan tahun.

Kepemimpinannya kemudian diuji sebagai Kepala Dinas Kominfo, Kepala Dinas PTSP, hingga dipercaya memimpin Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung, awal 2024.

Puncaknya, pada Jumat, 15 Agustus 2025 lalu, Bupati Johannes Rettob dan Wakil Bupati Emanuel Kemong melantiknya sebagai Pj. Sekda Mimika. Bagi Abraham, jabatan ini bukan tentang kehebatan personal, melainkan tentang kepatuhan pada aturan dan profesionalisme dalam bekerja.

Di sela kesibukan birokrasi, ia tak berhenti belajar. Setelah meraih gelar Magister Hukum di Fakulas Hukum Universitas Negeri Cenderawasih, selanjutnya pada akhir Januari 2026 kemarin ia menuntaskan studi Doktoral (S3) Ilmu Hukum di Universitas Trisakti Jakarta. Ia kini tercatat sebagai putra Kamoro kedua, yang meraih gelar doktor, setelah Dr. Leonardus Tumuka (Ketua Pengurus YPMAK saat ini)

Pesan dari Pesisir

Keberhasilan Abraham tak lepas dari dukungan Natalia, sang istri asal suku Awyu, Boven Digoel, Papua Selatan, yang selalu setia mendampinginya dan membesarkan enam anak. Baginya, pendidikan adalah fondasi yang tak bisa ditawar. Ia kerap miris melihat generasi muda yang menyia-nyiakan kesempatan beasiswa.

Bram, putra Suku Kamoro dari Kampung Keakwa.

“Sekarang sudah luar biasa bagus. Uang saku ada, biaya pendidikan dibayar, makan minum dijamin dan tinggal di asrama. Sekarang, bagaimana adik-adik mengatur diri,” pesannya serius.

Baginya, bantuan pendidikan atau beasiswa, Dana Kemitraan PT Freeport Indonesia adalah bentuk kasih Tuhan yang harus dijawab dengan tanggung jawab, bukan kemalasan.

Kisah Abraham Kateyau adalah bukti bahwa anak kampung dengan uang Rp14 ribu di saku bisa mengguncang dunia melalui pendidikan.

Ia telah membuktikan bahwa di balik keterbatasan, ada kedaulatan Tuhan bagi mereka yang mau berusaha. Selebihnya, biarlah Tuhan yang berperkara.

Begitulah potret pengabdian putra Kamoro, yang tak melupakan akarnya. (yeri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here