Beranda Serba Serbi Mendorong Kampung Nelayan Pomako di Mimika  dan Kampung Sima di Nabire

Mendorong Kampung Nelayan Pomako di Mimika  dan Kampung Sima di Nabire

24
0
BERBAGI
John NR Gobai ketika berada di Kampung Pomako. (Foto : Pribadi John NR G)

Oleh: John NR Gobai (*)

 PENGANTAR

SAYA bila ke Timika dan Nabire, paling sering ke Pomako, Distrik Mimika Timur Kabupaten Mimika dan Kampung Sima, Distrik Yaur, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah.

Saya lihat masyarakat di pomako, mereka sebagian buruh bagasi, pedagang dan nelayan baik mereka yang kampungnya di Pomako tapi juga mereka yang kampungnya di sekitar Pomako.

Pengaturan pemukiman nelayan di pomako menurut saya perlu ditata dengan baik melalui program Kampung Nelayan.

Berbeda dengan sima. Di sima masyarakat memang bermukim di situ adalah penduduk asli Kampung Sima, Kabupaten Nabire.

KAMPUNG NELAYAN

Kampung nelayan merupakan sebuah kampung yang memiliki karakteristik khusus dalam membentuk sebuah permukiman. Pemukiman nelayan terbentuk karena adanya kesamaan budaya yang menggantungkan mata pencaharian pada hasil laut.

Namun definisi kampung nelayan tidak hanya terlihat dari mata pencaharian utama masyarakatnya, namun faktor-faktor lain juga berperan dalam membentuk karakteristik sebuah kampung nelayan.

Kesamaan dalam hal nilai untuk menggantungkan kehidupan pada hasil laut menimbulkan kesamaan dalam berbagai aspek untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Menurut Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 34 Tahun 2022 Kampung Nelayan adalah suatu lingkungan permukiman yang dihuni oleh masyarakat yang mayoritasnya memiliki mata pencaharian sebagai nelayan.

KONSEP KAMPUNG NELAYAN

Karakteristik permukiman terjadi karena perpaduan antara pola pikir manusia dan perwujudan kebudayaan yang sama yang menghasilkan suatu ciri yang dapat dikenali.

Selain memiliki kesamaan, ada juga faktor khusus yang tidak sama antara kampung nelayan yang satu dengan kampung nelayan lainnya sehingga menjadikan sebuah identitas masing masing.

Persamaan budaya kampung nelayan dalam membentuk permukiman dapat mendefinisikan sebuah kampung nelayan, sedangkan perbedaan budaya antar kampung nelayan yang satu dengan yang lainnya dapat mendefinisikan kekayaan budaya dapat memberikan identitas pada sebuah kampung nelayan.

Bentuk dari suatu rumah nelayan merupakan esensi dalam menyesuaikan kondisi lingkungan sosial dan budaya, kebudayaan dapat berupa adat maupun cara hidup.

Kondisi alam terutama laut yang sering mengalami pasang Surut menjadikan rumah nelayan harus mampu mewadahi kehidupan penghuninya dalam kondisi apapun dan mampu menangani ancaman luar.

Kesamaan kebudayaan nelayan dalam menggantungkan hidup mereka dengan hasil laut menjadikan mereka memiliki karakteristik dalam hunian dan kebutuhan ruang yang sama.

Dan dalam skala kampung, karakteristik kuat muncul dengan posisi hunian yang terletak dekat laut atau dengan kata lan mereka menetapkan posisi rumah dekat dengan pekerjaan mereka, adanya tambatan kapal untuk serta tempat pelelangan ikan menjadi komponen inti untuk berjalannya aktifitas nelayan di suatu permukiman.

KAMPUNG NELAYAN DI PPI POMAKI

Kampung Pomako, Distrik Mimika Timur Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah merupakan sebuah kampung yang mayoritas penduduknya adalah nelayan yang merupakan asli Pomako dan kampung kampung lain dekat Pomako yang membentuk pemukiman dekat Pomako.

Mereka mempunyai filosofi hidup 3 (tiga) S yaitu Sagu, Sampan (Perahu) dan Sungai.  Sesuai UU No 23 tahun 2014,  Pemkab Mimika harus melakukan penyerahan P3D dulu ke provinsi, kemudian provinsi limpahkan kewenangan ke kabupaten untuk sekian urusan terkait kelautan dan perikanan termasuk areal PPI.

Di Pomako  terdapat Pelabuhan Pendaratan Ikan dan Tempat Pelelangan Ikan, aset ini dahulu dibangun oleh Pemkab Mimika, namun, sesuai UU No 23 tahun 2014, Pemkab Mimika harus melakukan penyerahan P3D dulu ke provinsi, ini yang belum sepenuhnya terjadi untuk PPI Pomako.

KAMPUNG SIMA

Kampung sima Distrik Yaur, Kabupaten Nabire, Papua Tengah merupakan sebuh kampung pesisir barat, Kota Nabire di Nabire, mata pencaharian masyarakat di sini Nelayan.

Di kampung ini belum terdapat Tempat tambatan perahu nelayan, tempat pelelangan ikan serta pelabuhan perikanan.  Potensi perikanannya bagus, laut dan pesisirnya merupakan kebun mereka mencari sumber makanan masyarakat kampung Sima.

PPI WAHARIA

Ada pangkalan Pendaratan Ikan dan Tempat Pelelangan Ikan serta Stasiun Pengisian Minyak, terdapat di Kampung Waharia, Kabupaten Nabire, namun belum berfungsi dengan baik.

Ikan masih dibongkar di Kalibobo, Nabire, namun perlu direvitalisasi sebagai Kampung Nelayan sesuai UU No 23 tahun 2014, Pemkab Nabire sudah  melakukan penyerahan P3D ke provinsi sehingga mudah dilakukan pengusulan kampung nelayan di PPI Waharia, Nabire.

PENUTUP

sesuai Peraturan Mentri Kelautan dan Perikanan,Nomor 34 Tahun 2022, perlu dibangun kampung nelayan, dalam skala hunian dengan adanya tempat untuk berkumpul ataupun memperbaiki jaring, dan gudang untuk menyimpan peralatan nelayan.

Di Pomako dan Nabire perlu dibuat Kampung nelayan yang baik perlu yang memiliki  komponen-komponen pendukung yatu pemenuhan fasilitas dan infrastruktur.

Menurut UU No 23 tahun 2014,Pemprov Papua Tengah dan Pemkab Mimika harus mènuntaskan proses P3D dan melakukan penyerahan P3D PPI Pomako dulu ke provinsi Papua Tengah.

(*) – Penulis adalah Wakil Ketua IV DPRD Provinsi Papua Tengah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here