Beranda MIMIKA Dua Dekade RSMM Mimika : Merajut Asa Kesehatan di Tanah Mimika

Dua Dekade RSMM Mimika : Merajut Asa Kesehatan di Tanah Mimika

49
0
BERBAGI
Pastor Andreas Madya Sriyanto SCJ dan Pastor Yoseph Ikikitaro Pr, saat memimpin ibadah syukur HUT ke 25 RSMM.
Lahir dari kolaborasi lintas sektor, Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika mencatatkan diri sebagai pionir rumah sakit terakreditasi di Tanah Papua. Namun, di balik capaiannya, tantangan pengelolaan “tiga padat” kini membayangi langkahnya di masa depan.

TIMIKA (1/4/26), NGK — Kehadiran fasilitas kesehatan yang mumpuni, merupakan hak dasar yang seringkali menjadi tantangan di wilayah pelosok Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, jejak pemenuhan hak tersebut terekam jelas dalam perjalanan panjang, Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) yang telah melayani orang Papua dan saudara-saudara lain-nya di Kabupaten Mimika, lebih dari dua dekade.

suasana pelayanan rawat jalan di RSMM.

Gagasan pendirian RSMM bermula dari sebuah kebutuhan mendesak akan pelayanan kesehatan yang memadai bagi masyarakat lokal suku Amungme dan suku Kamoro di Mimika. Sebuah terobosan lahir melalui sinergi empat pilar, yakni PT Freeport Indonesia, Lembaga Pengembangan Masyarakat Irian Jaya (LPMI—institusi pengelola Dana Kemitraan saat itu), Pemerintah Kabupaten Mimika serta Gereja Katolik Keuskupan Jayapura.

Kunjungan organ YPMAK di RSMM tahun 2025.

Komitmen tersebut dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU) pada 8 April 1999. Para pihak bersepakat, mendukung penuh berdirinya rumah sakit itu, yang kini telah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan RI sebagai rumah sakit tipe C.

Misi Kemanusiaan dari Palembang

Keterlibatan Gereja Katolik dalam pengelolaan RSMM memiliki sejarah panjang. Pada awal 1997, Uskup Jayapura, Mgr. Leo Laba Lajar OFM, melakukan kunjungan ke Palembang untuk meminta bantuan Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas (FCh) mengelola kesehatan di wilayah kerja di Keuskupan Jayapura, Papua.

penanda tangan Perjanjian kerjasama YPMAK dengan Konsultan Pendamping PT Ligar Mandiri Indonesia, yg berlangsung di Hotel Horison Diana Timika.

Di saat yang sama, tawaran pengelolaan RSMM datang dari PT Freeport Indonesia dan LPMI (yang kemudian bertransformasi menjadi LPMAK dan kini YPMAK). Setahun berselang, Sr. M. Zita dan Sr. Martha dari Charitas Palembang, meninjau langsung ke lapangan. Melalui perundingan bersama Uskup Jayapura, Pastor Jan van der Horst OFM serta dr. Joseph Lukman Oyong, SpJP, disepakati bahwa suster Charitas akan menjadi garda terdepan dalam pengelolaan rumah sakit tersebut.

Kick off penyusunan rencana induk pengembangan RSMM, pengurus YPMAK, Manajement PTFI dan Pimpinan PT Ligar Indonesia Mandiri.

Pembangunan fisik RSMM tergolong sangat cepat. peletakan batu pertama dilakukan pada 4 Februari 1999 oleh Pater Bert Hogendoorn, OFM, yang menjabat Ketua Pengurus Yayasan Charitas Timika pada saat itu. Hanya dalam hitungan bulan, pada 20 Agustus 1999, RSMM diresmikan dan beroperasi di Timika.

“Pada bulan pertama, rumah sakit ini, maksimal melayani 10 orang pasien rawat jalan per hari dengan kapasitas awal 69 tempat tidur” kenang dr. Joseph Lukman Oyong, SpJP, yang menjadi direktur pertama rumah sakit tersebut.

Peningkatan Kapasitas dan Prestasi

Seiring dengan perjalanan waktu, fasilitas RSMM terus dikembangkan. Dari yang semula 69 tempat tidur, kapasitasnya bertambah secara bertahap menjadi 81 unit dan pada tahun 2024 ini, telah mencapai 124 tempat tidur.

Dinamika pelayanan yang konsisten membawa RSMM meraih penghargaan Parakarya Dharmartha Husada pada 7 November 2012 dalam Kongres XII PERSI di Jakarta. Penghargaan ini merupakan pengakuan resmi atas prestasi manajemen dan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Lebih jauh lagi, RSMM mencatatkan sejarah sebagai rumah sakit pertama di bumi Cenderawasih, yang dinyatakan lulus akreditasi. Hal ini menjadi bukti bahwa pengelolaan Dana Kemitraan PT Freeport Indonesia melalui LPMI, LPMAK hingga YPMAK telah memberikan dampak nyata bagi masyarakat asli Papua di Mimika.

Namun, perjalanan RSMM bukannya tanpa hambatan, memasuki usia lebih 20 tahun, beban organisasi kian membengkak, seiring dengan meningkatnya ekspektasi pelayanan. Tantangan pengelolaan, baik dari sisi internal maupun eksternal, semakin beragam.

Saat ini, RSMM berada pada fase yang lazim ditemui pada institusi medis besar, yakni fase “tiga padat”: padat karya, padat biaya dan padat masalah.

Bagaimana rumah sakit pertama di Mimika ini merespons dinamika tersebut di tengah perubahan lanskap kesehatan nasional ?

Meniti Kemandirian di Tengah Dinamika Kesehatan Nasional

Lanskap kesehatan nasional tengah mengalami pergeseran besar, menuntut institusi kesehatan di daerah untuk tidak sekadar bertahan, tetapi juga berdaya saing.

Foto bersama usai sosialisasi kepada Yayasan Charitas Timika Papua, disaksikan Uskup Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA.

Di jantung Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) memulai langkah strategis dengan penyusunan Master Plan 2025-2030. Langkah ini merupakan respons terhadap dinamika regulasi, sekaligus upaya transformasi menuju model pengelolaan mandiri.

Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) sebagai institusi pengelola Dana Kemitraan PT Freeport Indonesia, yang juga pemilik RSMM, kini tengah memacu proses transformasi tersebut. Fokus utamanya, jelas meningkatkan kualitas layanan, memperbarui infrastruktur dan memperbaiki sistem pelayanan melalui transisi menuju model operasional grantmaking.

Satu tantangan besar yang kini dihadapi adalah pemenuhan kriteria KRIS (Kelas Rawat Inap Standar) yang ditetapkan oleh BPJS Kesehatan.

Direktur RSMM, dr. Hendry Roy, mengungkapkan bahwa sebagai rumah sakit tipe C yangh berkapasitas 128 tempat tidur, RSMM terus berakselerasi mengejar tenggat waktu yang ditetapkan pemerintah.

“Kami memperkirakan saat ini RSMM telah memenuhi sekitar 60 hingga 70 persen standar KRIS BPJS. Renovasi dilakukan bertahap untuk memastikan pelayanan tetap berjalan,” ujar dr. Hendry, saat ditemui media massa Timika, Selasa lalu (10/02/2026).

Renovasi ini mencakup perbaikan ruang ICU, ruang perawatan kebidanan dan ruang perawatan anak. Saat ini, fokus pekerjaan beralih ke ruang perawatan penyakit dalam.

Terdapat 12 kriteria ketat yang harus dipenuhi, mulai dari standar dinding, jarak antar tempat tidur, sistem oksigen sentral, hingga aksesibilitas kamar mandi bagi pengguna kursi roda.

RSMM menargetkan seluruh standar tersebut rampung sebelum Juni 2026.

“Hal-hal kecil seperti kamar mandi dan gorden terus kami benahi, kami optimis target Juni 2026 tercapai melalui dukungan penuh YPMAK sebagai pemilik bersama mitra kontraktornya” tambahnya.

Peremajaan Infrastruktir dan Alat Medis

Selain fisik bangunan, tantangan lain terletak pada usia peralatan medis. mengingat usia rumah sakit yang sudah cukup matang, beberapa utilitas dan alat medis krusial memerlukan peremajaan mendesak.

Prioritas alat medis yakni ventilator, alat anestesi dan alat kejut jantung (defibrillator) sedangkan untuk utilitas umum meliputi peremajaan trafo, panel genset, ATS (Automatic Transfer Switch) dan sistem pengolahan limbah.

Setiap tahun, YPMAK mengalokasikan dana kapital untuk mendukung fungsi alat-alat ini. Namun, dalam jangka panjang, re-orientasi pengelolaan menjadi kunci agar rumah sakit tidak terus-menerus bergantung pada satu sumber pendanaan.

Menuju Pengelolaan yang Komprehensif

Memegang peran sentral dalam sejarah kesehatan di Provinsi Papua Tengah dan merupakan fasilitas medis pertama di Mimika, saat Mimika masih berada di bawah administrasi Kabupaten Fak-Fak, jauh sebelum klinik-klinik modern bermunculan di Timika.

Penyusunan master plan ini juga menjadi jawaban atas dinamika zaman dengan kehadiran berbagai fasilitas kesehatan baru di Mimika, RSMM dituntut untuk tidak hanya mengandalkan sejarah, tetapi juga meningkatkan daya saing melalui kualitas layanan yang menyeluruh.

Maka Ketua Pengurus YPMAK, Dr. Leonardus Tumuka, menekankan bahwa usia bangunan yang sudah tua menjadi alasan mendesak di balik perlunya pembaruan infrastruktur. Selama 25 tahun terakhir, pengelolaan RSMM telah dijalankan melalui kemitraan dengan Yayasan Caritas Timika Papua (YCTP) Keuskupan Timika.

“Kami ingin memperbaiki infrastruktur karena rumah sakit ini sudah berdiri lama, dukungan dari YCTP yang telah seperempat abad mengelola RSMM sangat kami harapkan dalam proses transformasi ini” ujar Leonardus dalam sambutan pada acara sosialisasi master plan dan pengelolaan RSMM 2025-2030 di Hotel Horison Diana, Mimika, Jumat (18/7/2025).

Pembaharuan yang direncanakan YPMAK mencakup tiga pilar utama yakni pertama kualitas pelayanan, kedua kelengkapan fasilitas dan ketiga penguatan infrastruktur. Untuk merealisasikan visi tersebut, YPMAK kini tengah dalam proses penyusunan kajian dan analisis RSMM dibantu konsultan PT Ligar Mandiri Indonesia, guna merancang peta jalan pengembangan rumah sakit untuk lima tahun ke depan.

“Penting bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan, bukan hanya dari sisi infrastruktur tetapi secara menyeluruh,” tugas Dr. Leonardus Tumuka, yang juga pernah menjadi Ketua Pengurus Yayasan Caritas Timika.

Ikuti kisahnya dalam tulisan yang lain. (Jeri)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here