Beranda PAPUA TENGAH Estafet Kepemimpinan Polda Papua Tengah, Gubernur Nawipa Ajak Bersatu Padu Raih Masa...

Estafet Kepemimpinan Polda Papua Tengah, Gubernur Nawipa Ajak Bersatu Padu Raih Masa Depan Gemilang

48
0
BERBAGI
Gubernur Meki Nawipa didampingi istri menyerahkan cinderamata kepada mantan Kapolda Papua Tengah, Irjen Pol Alfred Papare.

NABIRE (1/4/26), NGK  –  Di tengah gemuruh harapan dan semangat kebersamaan, Papua Tengah menyambut babak baru dalam kepemimpinan kepolisian daerahnya. Acara lepas sambut Kapolda Papua Tengah di Aula Mapolres Nabire, Selasa (31/3/2026) yang khidmat ini,  menjadi saksi transisi tongkat estafet dari Irjen Pol. Alfred Papare, S.I.K kepada Brigjen Pol. Jermias Rontini, S.I.K, M.Si.

Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa memberikan sambutan pada acara pisah sambut.

Hadir pada acara pisah sambut itu, Bupati Nabire, Mesak Magai, Ketua DPRP Papua Tengah, Ketua Majelis Rakyat Papua Tengah, para Pejabat Utama Polda Papua Tengah, para Kapolres se Papua Tengah, Kabinda Papua Tengah, Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong, Pj Sekda Mimika, Abraham Kateyau, Pj Sekda Puncak, Nenu Tabuni, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan dan tamu undangan lainnya.

Momen penting ini tidak hanya menandai pergantian pucuk pimpinan, tetapi juga menjadi ajang Gubernur Papua Tengah, Meky Nawipa, untuk menyampaikan visi dan pesannya demi kemajuan provinsi yang dicintai.

Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa bersama Kapolda Papua Tengah yang baru, Brigjen Pol Jermias Rontini.

Gubernur Papua Tengah, Nawipa menekankan pentingnya menjaga dan melanjutkan sinergi yang telah terjalin.

“Mari kita lanjutkan apa-apa yang sudah dikerjakan oleh Pak Alfred,” ujarnya sembari menekankan kemajuan Papua Tengah adalah tanggung jawab bersama. Meki juga menilai komunikasi yang baik dan kerjasama antarpihak, termasuk kepolisian dan pemerintah daerah, menjadi kunci utama dalam menyelesaikan berbagai tantangan yang dihadapi.

Membangun Sinergi untuk Papua Tengah yang Maju

Gubernur Nawipa menggarisbawahi pentingnya menjaga dan melanjutkan sinergi yang telah terjalin. “Mari kita lanjutkan apa yang sudah dikerjakan, tentunya ada banyak hal juga yang masih berproses sebab membangun provinsi yang baru ini tidak gampang. Banyak orang di luar sana mengatakan, kita ini tidak bekerja padahal mereka tidak tau apa yang sedang kita kerjakan tentunya dengan meletakkan dasar dasar,” ujarnya sambil menekankan bahwa kemajuan Papua Tengah adalah tanggung jawab bersama. Menurut gubernur, komunikasi yang baik dan kerjasama antarpihak, termasuk kepolisian dan pemerintah daerah, menjadi kunci utama dalam menyelesaikan berbagai tantangan yang dihadapi.

Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong menyerahkan cenderamata kepada mantan Kapolda Papua Tengah, Irjen Pol Alfred Papare.

“Kalau kita sama-sama bekerjasama dan berkomunikasi,  berhubungan baik, tentu semua akan berjalan lancar,” tutur Gubernur Nawipa, menggambarkan visi tentang bagaimana kolaborasi dapat membawa perubahan positif. Gubernur juga menyentuh pentingnya menjaga hubungan baik dan saling mendukung, seperti yang tercermin dalam pengalamannya berinteraksi dengan anggota kepolisian.

Pengalaman dan Dedikasi untuk Tanah Papua

Dalam sambutannya, Gubernur Nawipa juga berbagi pandangannya mengenai dedikasi dan kontribusi orang asli Papua dalam institusi kepolisian. Dia mengungkapkan rasa bangga melihat bagaimana orang Papua juga bisa berkarya dan berprestasi di kepolisian, sebuah pandangan yang didasari oleh pengamatan pribadi dan interaksi yang mendalam.

Ketua DPRP Papua Tengah dan Kabinda Papua Tengah yang turut menghadiri acara pisah sambut.

“Saya bilang sama Pak Alfred, saya senang lihat orang Papua banyak yang berprestasi di Kepolisian. Ketika saya datang ke Mabes Polri dan melihat ada banyak orang Papua di sana, wah saya bangga dan senang, ternyata orang Papua juga bisa ya,” kenang Gubernur Nawipa, menggambarkan momen awal ketika ia melihat potensi besar pada putra-putri asli Papua di kepolisian. Pengalaman ini, lanjutnya, semakin memperkuat keyakinannya akan kemampuan dan potensi sumber daya manusia Papua.

Menghadapi Tantangan dengan Semangat Kebersamaan

Gubernur Nawipa juga tidak menampik adanya tantangan dan dinamika yang kompleks dalam membangun Papua Tengah. Dia menyadari bahwa setiap individu memiliki peran dan tanggung jawabnya masing-masing. “Budaya itu, orang-orang mengutamakan diri, ya. Dia  mengingatkan pentingnya keseimbangan antara kepentingan pribadi dan kepentingan bersama.

Suasana saat acara pisah sambut.

Namun, di tengah berbagai dinamika tersebut, Gubernur Nawipa mengajak semua pihak untuk tetap bersatu padu.  Dia juga menekankan perlunya pendekatan yang bijaksana dan tidak berlebihan dalam menghadapi setiap situasi. Gubernur berharap agar transisi kepemimpinan di Polda Papua Tengah ini dapat membawa energi baru dan memperkuat komitmen bersama untuk menciptakan Papua Tengah yang lebih aman, damai, dan sejahtera.

Acara lepas sambut ini menjadi momentum penting untuk merajut kembali semangat kolaborasi dan optimisme dalam menghadapi masa depan Papua Tengah yang lebih cerah.

Kisah Secangkir  Kopi

Dalam acara pisah sambut ini, ada kisah lain yang dikenang Meki Nawipa tentang komunikasi yang efektif bersama  Irjen Pol. Alfred Papare, S.I.K Ketika menjabat sebagai Kapolda Papua Tengah. Ceritanya begini :

“Jarang sekali saya panggil resmi ke kantor,” ujar Meki. “Justru lebih sering mengajak, ‘Mari kita minum kopi dulu.’ Dari hal-hal sederhana itu, selalu lahir sesuatu yang bermanfaat untuk negeri ini.”

Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong dan Pj Sekda Mimika, Abraham Kateyau foto bersama mantan Kapolda Papua Tengah, Irjen Pol Alfred Papare dan istri.

Bagi Meki, secangkir kopi bukan sekadar minuman. Ia menjadi ruang dialog, tempat gagasan dirajut tanpa sekat jabatan.

Cerita itu membawa ingatannya ke awal masa jabatannya, saat konflik di Puncak Jaya pecah. Situasi genting, tekanan datang dari berbagai arah. Namun di tengah ketegangan itu, Alfred Papare memilih pendekatan yang berbeda.

“Beliau bilang kepada saya, ‘Pak Gubernur, sabar dulu. Saya turun dulu, atur dulu.’ Dan benar, beliau datang bukan untuk memperkeruh, tapi untuk menyelesaikan,” kenangnya.

Langkah itu bukan sekadar strategi keamanan. Itu adalah pendekatan humanis—hadir di tengah masyarakat, meredam, dan perlahan mengembalikan kedamaian. Tidak semua pemimpin, kata Meki, memiliki kemampuan seperti itu. “Saya percaya Tuhan akan terus menolong ke depan,” tambahnya pelan.

Di sisi lain, Alfred Papare juga mengungkapkan bahwa perjalanan membangun Polda Papua Tengah bukanlah tugas ringan. Ia menyebut dirinya dan jajaran sebagai perintis, bukan pewaris.  “Menjadi pioner itu memang tidak gampang,” ujar Papare.

Saat pertama kali datang, belum ada peta jalan yang jelas. Tantangan datang bertubi-tubi. Namun, ia menegaskan bahwa dukungan pemerintah daerah, terutama dari Gubernur, menjadi kunci.

Bupati Nabire, Mesak Magai turut hadir pada acara pisah sambut.

Ada hal menarik dari carita Alfred Papare yaitu tentang membangun komunikasi dengan Aibon Kogoya, salah satu gembong KKB. Dalam komunikasi itu, Alfred meminta Aibon Kogoya agar tidak membunuh masyarakat sipil. Bukan itu saja, Alfred pun merangkul keluarga Aibon Kogoya.

“Berkat dukungan Bapak Gubernur, berbagai tantangan berat dapat kami lalui, sehingga program-program pemerintah bisa berjalan sebagaimana mestinya,” ujarnya.

Menariknya, hubungan keduanya tidak dibangun dalam protokoler formal semata. Justru, komunikasi paling efektif terjadi dalam kesederhanaan.

Sering kali, undangan datang tanpa surat resmi—cukup sebuah pesan singkat: “Pak Kapolda, sore ini kita ngopi di rumah.”

Dari pertemuan-pertemuan santai itulah, keduanya membaca situasi Papua Tengah, bertukar pandangan, hingga merumuskan langkah-langkah strategis. “Dari situ kami memahami bahwa ada hal penting yang perlu didiskusikan,” kata Papare.

Ia menilai, gaya kepemimpinan seperti ini membuka ruang dialog yang lebih jujur dan mendalam—sesuatu yang sering kali sulit tercapai dalam rapat formal.

Kini, tongkat estafet kepemimpinan Polda Papua Tengah beralih kepada Brigjen Pol. Jermias Rontini, S.I.K, M.Si. Harapan pun disematkan, agar tradisi komunikasi hangat itu tetap terjaga.

Sebab bagi mereka, menjaga keamanan bukan hanya soal strategi dan kekuatan, tetapi juga soal rasa saling percaya yang kadang justru tumbuh dari hal sederhana. (tob/ka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here