Beranda PAPUA TENGAH Menjaga Kedaulatan Pangan Papua Tengah Melalui Penyuluh Pertanian

Menjaga Kedaulatan Pangan Papua Tengah Melalui Penyuluh Pertanian

27
0
BERBAGI
Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengembangan Penerapan Penyuluhan Pertanian Tahun 2026 di Aula RRI Nabire, Rabu (14/10/2026). - Foto: ist)

Langkah Nyata di Aula RRI Nabire: Pemerintah Menyadari Betul Bahwa Kebijakan Di Atas Meja Kantor Tidak Akan Pernah Sampai Ke Ladang-Ladang Warga Tanpa Kehadiran Sosok Penting Di Lapangan: Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).

NABIRE  (15/10/26), NGK— Di tengah hamparan pegunungan yang menjulang hingga pesisir pantai yang membentang di Papua Tengah, sebuah pertempuran sunyi sedang berlangsung. Pertempuran ini bukan soal sengketa batas wilayah, melainkan perjuangan merawat kedaulatan pangan dan mengangkat derajat kesejahteraan Orang Asli Papua (OAP).

Bagi masyarakat di bumi Papua Tengah ini, ubi jalar, keladi, sagu hingga singkong bukan sekadar komoditas pertanian. Komoditas tersebut merupakan identitas dan urat nadi kehidupan yang telah memberi makan antargenerasi. Namun, menggenjot produksi pangan lokal di Papua Tengah bukanlah perkara mudah di atas kertas—ini bukan sekadar masalah teknis olah tanah dan sebar benih.

Benteng Geografis dan Bayang-Bayang Beras Impor

Upaya menghidupkan kembali kejayaan pangan lokal dihadapkan pada medan geografis yang ekstrem. Wilayah Papua Tengah terkepung keterisolasian pegunungan tinggi, seperti di Intan Jaya, Puncak, dan Puncak Jaya, hingga kawasan pesisir di Nabire dan Mimika. Ketergantungan pada transportasi udara yang mahal melambungkan biaya distribusi sarana produksi seperti benih, pupuk, dan alat pertanian, sekaligus menghimpit hasil panen.

Tanpa ketersediaan rantai dingin (cold chain) dan sarana pascapanen yang memadai di kampung-kampung terpencil, ubi jalar dan keladi yang cepat rusak acapkali berakhir membusuk sebelum sempat mencicipi guruhnya pasar kota.

Situasi makin pelik saat penetrasi beras dari luar daerah makin masif menginvasi meja makan masyarakat di perkotaan seperti Nabire dan Timika. Pangan lokal yang dulunya menjadi raja, kini perlahan terpinggirkan dan kerap dipandang sekadar “pangan alternatif” atau pangan darurat. Kondisi ini diperparah oleh durung optimalnya regulasi lokal (Perda/Pergub) yang mewajibkan penyerapan pangan lokal dalam program bantuan sosial maupun konsumsi lembaga resmi.

Di tingkat tapak, masyarakat OAP umumnya masih menerapkan sistem usaha tani tradisional yang bersifat subsisten, menanam hanya untuk kebutuhan keluarga atau acara adat. Ketika serangan hama lanas menyerang ubi jalar dan cuaca ekstrem tak menentu menghantam ladang, produktivitas pun merosot tanpa penanganan medis tanaman yang tepat.

Langkah Nyata di Aula RRI Nabire

Menjawab sengkarut tantangan tersebut, Pemerintah Provinsi Papua Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Meki Fritz Nawipa bergerak mengambil langkah strategis. Langkah konkret ini diwujudkan melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengembangan Penerapan Penyuluhan Pertanian Tahun 2026 yang dibuka di Aula RRI Nabire, Rabu (14/10/2026).

Mewakili Gubernur, Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi Papua Tengah, Dr. H. Tumiran, menegaskan pentingnya menekan angka ketergantungan pasokan pangan dari luar daerah.

“Sektor pertanian memiliki peran vital dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, meningkatkan pendapatan petani, serta memperkuat perekonomian daerah. Papua Tengah memiliki potensi pangan lokal yang luar biasa dan perlu dikembangkan secara optimal,” ujar Tumiran membacakan sambutan tertulis Gubernur.

Namun, pemerintah menyadari betul bahwa kebijakan di atas meja kantor tidak akan pernah sampai ke ladang-ladang warga tanpa kehadiran sosok penting di lapangan: Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).

Tumiran berpesan tegas agar kegiatan penyuluhan tidak terjebak dalam formalitas belaka. “Penyuluhan tidak boleh sekadar menjadi acara seremonial, tetapi harus memberikan dampak nyata melalui pendampingan berkelanjutan kepada petani di delapan kabupaten.”

Penyuluh Pertanian: Ujung Tombak di Garis Depan

Di tengah minimnya rasio jumlah penyuluh dibandingkan luas wilayah, serta terbatasnya fasilitas operasional seperti kendaraan lapangan maupun anggaran transportasi ke kampung terisolir, para penyuluh pertanian adalah kunci utama yang menghubungkan cita-cita pemerintah dengan peluh petani OAP.

Peran mereka melampaui tugas seorang teknisi pertanian. Penyuluh adalah pendamping budidaya berbasis kearifan lokal (agro-wisdom). Mereka hadir mengombinasikan inovasi pertanian modern—seperti penataan jarak tanam dan pengendalian hama hayati—tanpa mengikis kearifan adat masyarakat OAP dalam merawat tanah. Mereka juga berdiri sebagai garda terdepan dalam merawat dan mengkonservasi varietas-varietas ubi serta sagu lokal unggulan.

Tidak berhenti di ladang, penyuluh bertindak sebagai fasilitator pascapanen. Di tangan mereka, kelompok tani OAP—khususnya kelompok ibu-ibu atau mama-mama Papua—dilatih mengolah ubi, keladi, dan sagu menjadi tepung mocaf, mi, hingga kue olahan berdaya simpan tinggi. Pengenalan Teknologi Tepat Guna (TTG) sederhana dipandu agar olahan pangan tetap berjalan meski di kampung minim akses listrik.

Sebagai penguat kelembagaan, penyuluh merangkul petani OAP untuk membentuk Kelompok Tani (Poktan) berorientasi agribisnis. Mereka menjadi bridging agent yang menghubungkan hasil panen mama-mama langsung ke off-taker, pasar kota, pengusaha kuliner lokal, hingga mendukung Program Makan Bergizi Gratis daerah. Lebih dari itu, penyuluh adalah motivator sosial yang mengubah mindset warga bahwa pangan lokal memiliki nilai ekonomi tinggi yang sanggup menyejahterakan keluarga.

Menagih Dukungan Nyata bagi Sang Ujung Tombak

Menggenjot produksi pangan lokal di Papua Tengah sejatinya adalah benteng pertahanan terakhir dalam menjaga kedaulatan pangan dan mengangkat taraf hidup Orang Asli Papua.

Penyuluh pertanian memang telah terbukti menjadi ujung tombak perubahan yang menyambungkan arah kebijakan Pemprov Papua Tengah dengan aksi nyata di kampung-kampung. Namun, jembatan perubahan itu hanya akan berdiri kokoh apabila para penyuluh di lapangan didukung secara utuh—dibekali sarana operasional yang memadai, jaminan perlindungan keselamatan di medan ekstrem, serta peningkatan kapasitas teknis yang berkelanjutan.

Sebab pada akhirnya, ketika para penyuluh berdaya dan petani OAP tersenyum di ladangnya, kedaulatan pangan Papua Tengah bukan lagi sekadar impian di atas kertas dokumen perencanaan, melainkan kenyataan yang menghidupi seluruh penjuru negeri. (ka)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here