Beranda MIMIKA Rettob: Persoalan Keluarga, Diatur Kekeluargaan dan Adat, Bukan Perang

Rettob: Persoalan Keluarga, Diatur Kekeluargaan dan Adat, Bukan Perang

118
0
BERBAGI
Bupati Mimika, Johanes Rettob bersama Wakil Bupati, Emanuel Kemong.

TIMIKA (19/1/26), NGK – Sudah seminggu, sejak Senin 12 Januari 2026, kesepakatan damai antara Kelompok Dang dengan Newegalen di Kwamki Narama, Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah.  Tak ada lagi konflik antar kelompok di sana yang santer diistilahkan dengan sebutan perang suku.

Penyerahan babi pada ritual adat perdamaian.

“Jika ada persoalan keluarga, harus diselesaikan secara kekeluargaan melalui adat. Persoaan keluarga diselesaikan dengan adat, Bukan dengan perang,” tegas Bupati Mimika, Johannes Rettob pada Senin (12/1/2026) ketika mengajak Kelompok Dang dengan Newegalen untuk terlibat dalam proses perdamaian saat itu.

 

Pj Sekda Kabupaten Puncak, Nenu Tabuni.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Mimika, Johannes Rettob, menegaskan pentingnya penyelesaian persoalan keluarga melalui mekanisme kekeluargaan dan adat, bukan dengan cara perang suku.

Bupati Mimika, Johanes Rettob menandatangani berita acara perdamaian.

Dalam pertemuan yang digelar di Kwamki Narama, Bupati Johannes Rettob yang didampingi Wakil Bupati, Emanuel Kemong serta Ketua DPRK, Primus Natikapereyau mengingatkan masyarakat untuk mengedepankan dialog dan musyawarah sebagai jalan terbaik dalam menyelesaikan konflik.

Wakil Bupati Puncak, Naftali Akawal melakukan patah panah didampingi Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong.

“Persoalan keluarga harus diselesaikan secara keluarga dan adat, sesuai dengan nilai-nilai budaya kita. Perang suku bukanlah solusi dan hanya akan membawa kerugian bagi semua pihak,” tegas Rettob.

Bupati juga menekankan peran tokoh adat dan pemuda dalam menjaga perdamaian dan mencegah terjadinya konflik serupa di masa depan. Dengan semangat persatuan dan kesatuan, diharapkan Kwamki Narama dapat terus berkembang dalam suasana yang aman dan harmonis.

Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong turut menandatangani pernyataan perdamaian.

Penegasan Rettob ini lantaran konflik yang terjadi Kelompok Dang dengan Newegalen berawal dari kasus perselingkuhan di Kabupaten Puncak, lalu konflik ini meluas ke Kwamki Narama, Mimika, sehingga menelan korban jiwa.

Sementara itu, pada puncak perdamaian saat itu, Wakil Bupati Puncak, Naftali Akawal bersama Pj Sekda Puncak, Nenu Tabuni dengan suara lantang dan berulang-ulang menyeruhkan supaya kelompok yang bertikai itu, tidak boleh menghalangi proses perdamaian. “Persoalan yang lalu, sudah diselesaikan. Hari ini, agendanya perdamaian.  Siapapun, tidak boleh ada yang menghalangi prosesi perdamaian. Yang menghalangi akan berhadapan dengan pihak keamanan,” tegas Naftali yang juga dipertegas oleh Nenu Tabuni.

Bupati Mimika, Johanes Rettob didampingi Kapolres dan Dandim 1710 Mimika melakukan patah panah pada proses perdamaian.

Seperti diberitakan NGK pada Sabtu (10/1/2026),  bahwa perdamaian itu dirajut dengan benang persaudaraan dan kesetaraan.

Untuk itu,  Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong terus  merajut perdamaian antara kelompok Dang dan Kelompok Newegalen yang berkumpul di Pendopo Rumah Negara, Jalan SP3, Timika, Jumat (9/1/2025).

Pj Sekda Kabupaten Puncak, Nenu Tabuni ikut menandatangani berita acara perdamaian.

Dalam ruangan pondopo itu, tak tampak lagi wajah-wajah beringas dari dua kelompok yang bertikai itu. Mereka bertepuk tangan dan tersenyum, ketika Emanuel Kemong mengatakan: “Saya bangga, karena baru terjadi, kubuh yang bertikai datang dan duduk berhadapan. Tidak pernah terjadi seperti ini. Semua kondisi ini karena Tuhan punya kerja.”

Hasil kerja keras Pemerintah Kabupaten Mimika dan Puncak serta Polri dan TNI untuk mendamaikan Kelompok Dang dengan Kelompok Newegalen akhirnya membawa hasil.

Pada Senin 12 Januari 2026, perdamaian pun dilakukan dengan ditandai ritual adat patah panah, bela kayu dan tukar babi, serta penandatanganan kesepakatan hukum antara dua kubu yang bertikai (Keluarga Newegalen dan Dang) dan disaksikan Pemerintah Daerah Mimika bersama Pemerintah Daerah Puncak serta aparat keamanan sebagai simbol berakhirnya permusuhan dan komitmen penyelesaian konflik secara damai. (tob/ka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here