
TIMIKA (20/2/2026), NGK – Di tengah hutan belantara Papua Tengah yang menyimpan sejuta misteri, terdengar jeritan pilu menggema dari Distrik Mimika Barat Tengah yaitu di Kampung Kapiraya.

Konflik berdarah antar dua kelompok suku yang tak kunjung padam telah merenggut kebahagiaan dan kedamaian dari tanah yang seharusnya subur dan makmur ini. Namun, harapan kembali mencuat ketika Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, SH, memutuskan untuk turun tangan langsung, menerjunkan ‘pasukan perdamaian’ demi mengakhiri pertikaian yang telah berlangsung terlalu lama.
Bak seorang jenderal yang memimpin pasukannya ke medan perang, Nawipa dengan tegas memerintahkan tiga bupati untuk segera mengirimkan tim harmonisasi yang telah mereka bentuk. “Cukup sudah air mata dan darah! Hari Senin (23/2/2026), semua tim harus berkumpul di Timika. Kita akan bersama-sama menginjakkan kaki di Kapiraya, membawa misi suci perdamaian,” seru Nawipa dengan suara lantang dalam arahannya ketika memimpin rapat koordinasi yang digelar melalui zoom meeting pada Jumat (20/2/2026).

Tapi kemudian ada perubahan waktu. Gubernur dan tim ke Timika pada Rabu (25/2/2026) lalu direncanakan pada Kamis (26/2/2026) ke Kapiraya
Rapat yang dipandu oleh Pj Sekda Provinsi Papua Tengah, dr. Silwanus Soemoele di ruang rapat Gubernur itu, diikuti oleh Bupati Mimika, Johannes Rettob, Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong, Bupati Deiyai, Melkianus Mote, Bupati Dogiyai, Yudas Tebai, Plt Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Papua Tengah, Albertus Adii, Wakil Ketua I Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua Tengah, Yehuda Gobai, dan Wakil Ketua IV DPRPT John NR Gobai.
Pj Sekda Provinsi Papua Tengah, dr. Silwanus Soemoele membuka rapat itu dengan mempersilahkan Bupati Mimika, Johannes Rettob untuk menyampaikan pendapatnya. “Kabupaten Mimika sudah siap dengan Tim Tapal Batas Kapiraya dan kami siap berkoordinasi dengan tim dari Kabupaten Deyai dan Dogiyai, untuk penyelesaian batas wilayah adat antara Suku Mee dan Kamoro,” ujar Johannes Rettob mengawali pembicaraan.
Bupati Mimika juga menjelaskan tentang nama-nama kampung yang ada di Kapiraya, yaitu : Komauto atau Kampung Kapiraya, Idego, Mogodagi, Uwe, Onagei, Yamouwitina. Mupuruka, Uta, Wumuka, dan Wakia.
“Jadi masih tidak jelas, letak Distrik Kapiraya berada di sebelah mana dan kampung Kapiraya atau Komauto ada di sebelah mana. Kalau di Mimika, Kampung Kapiraya itu ada di Distrik Mimika Barat Tengah. Jangan sampai, Distrik Kapiraya dan Kampung Kapiraya itu berada di titik yang sama, sehingga kita harus sepakat dulu, Distrik Kapiraya itu ada di mana dan Kampung Kapiraya/Komauto itu ada di mana ?” ungkap Johannes Rettob.
Bupati Rettob juga menegaskan, tim tapal batas adat Kapiraya yang dibentuk Pemda Mimika sudah melakukan kunjungan ke Kapiraya dan sejumlah kampung di sekitar Kapiraya. “Kami sudah turun ke Kapiraya dan bertemu dengan para pemilik hak ulayat, baik Suku Kamoro maupun Suku Mee. Kami juga membagi-bagi sembako di sana. Di sana, mereka aman-aman saja. Dan para tua-tua adat di sana minta, supaya kita para pemimpin yang sudah sekolah tinggi-tinggi, jangan membuat konflik dengan melontarkan pendapat di media social. Untuk itu, kami mohon petunjuk Pak Gubernur,” kata Bupati Rettob.
Berbicara melalui zoom, Bupati Mimika, Johanes Rettob juga meminta kepada para bupati maupun pejabat di Provinsi Papua Tengah agar tidak serta merta mempercayai berita berita hoax yang tersebar melalui medsos maupun media media online yang bersifat provokatif.

Mendengar penjelasan Bupati Mimika, lalu Gubernur Papua Tengah langsung merespon dan mengatakan, pentingnya kerja sama antara para pimpinan daerah dan tim harmonisasi untuk meredam api yang telah membakar Kapiraya.
“Kita harus bersatu, menunjukkan kepada dunia bahwa kita mampu menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin dan hati yang tulus. Perdamaian adalah satu-satunya jalan keluar. Untuk itu, ketiga bupati (Deiyai, Mimika dan Dogiyai) besok hari Rabu, (25/2/2026) dan semua tim yang sudah dibentuk harus ketemu di Timika, lalu ketiga Bupati utus mereka sama-sama ke Kapiraya,” kata Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa.
Menurut Gubernur, hal itu dilakukan supaya masyarakat juga mengetahui bahwa adanya kerjasama yang baik antara para pimpinan daerah dan tim harmonisasi yang diutus dari tiga kabupaten.
“Kami akan keluarkan surat undangan rapat itu di Timika. Dua Bupati (Deiyai dan Dogiyai) beserta tim ke Timika, rapat bersama. Selanjutnya hari Selasa tim ini (Timika, Deiyai dan Dogiyai) sama-sama pergi ke Kapiraya ketemu masyarakat,” katanya tegas.
Dalam rapat nanti, lanjut Nawipa, ketiga Bupati akan tentukan pihak-pihak yang pergi ke Kapiraya menggunakan jalur laut dan pesawat udara.
“Terkait dengan penerbangan ke Kapiraya, nanti Pak Sekda (Provinsi Papua Tengah) akan keluarkan surat akses masuk pesawat ke Kapiraya,” ujar Gubernur pertama ini.
Usai tatap muka dengan masyarakat kedua belah pihak, kata Gubernur, selanjutnya pihaknya akan atur rekonsiliasi perdamaian.
Gubernur menegaskan, persoalan di Kapiraya harus ditetapkan melalui tapal batas adat. “Apapun ceritanya harus buat tapal adat dulu,” ujarnya tegas.

Gubernur Nawipa juga menyampaikan terima kasih banyak Kabupaten Deiyai, Dogiyai dan Mimika sudah membentuk tim harmonisasi. “Itu artinya satu langkah perdamaian sudah tampak, jadi tim ini harus dilepas sama-sama oleh ketiga bupati,” katanya.
“Setelah itu mulai ketemu tokoh-tokoh orang Kamoro itu pastikan siapa saja yang benar-benar ada di daerah perbatasan. Orang Mee dari Deiyai siapa saja, orang Dogiyai juga siapa saja. Jangan libatkan orang yang bukan asli Kapiraya. Tidak boleh ada orang baru yang masuk, karena dia tidak tahu tapal batas,” katanya.
Gubernur tegaskan, semua pihak yang tidak ada hubungan dengan Kapiraya harus netral, biarkan masyarakat sendiri berkonsolidasi untuk menyelesaikan.
“Pemerintah dan tim hanya memediasi, yang kita bicara hari ini adalah masyarakat menentukan tapal batas adat, setelah itu baru kita semua bersatu buat perdamaian dan menentukan tapal batas. Tim harmonisasi harus mulai bergerak mulai hari Senin ke atas. Setelah itu menentukan batas, dan kesepakatan hak-hak ulayat dan perdamaian,” katanya.
Dengan tekad membara dan semangat pantang menyerah, Gubernur Meki Nawipa dan juga Bupati Mimika berharap dapat membawa secercah harapan bagi masyarakat Kapiraya. Misi penyelamatan ini diharapkan menjadi titik balik bagi terciptanya rekonsiliasi dan persatuan di antara kedua suku yang bertikai.
Akankah Kapiraya kembali tersenyum? Akankah perdamaian benar-benar bersemi di tanah yang telah lama dilanda konflik? Kita tunggu saja! (tob/ka)







