Beranda MIMIKA Harapan Laut Mimika, Kampung Nelayan Merah Putih Kini Terwujud

Harapan Laut Mimika, Kampung Nelayan Merah Putih Kini Terwujud

77
0
BERBAGI
Potret Kampung Nelayan Pomako (Foto: Ist)

TIMIKA (31/8/26), NGK — Selama bertahun-tahun, garis pantai Mimika menyimpan janji kekayaan laut yang melimpah, namun tetap menjadi harapan yang jauh bagi masyarakat pesisir yang hidup di sana. Ikan-ikan berlimpah di perairan biru, namun para nelayan asli sering kali tak mampu melaut maksimal karena kesulitan bahan bakar. Hasil tangkapan pun sering kali lewat begitu saja, diambil pihak lain, dibawa pergi, lalu dikembalikan kembali sebagai barang impor dengan harga yang tidak lagi berpihak pada mereka.

Kini, setelah perjuangan tak kenal lelah sejak tahun 2023, harapan itu perlahan berubah menjadi kenyataan. Senin, 31 Agustus 2026, menjadi hari bersejarah bagi masyarakat pesisir Mimika. Di Kampung Poumako, Distrik Mimika Timur, Bupati Mimika Johannes Rettob bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) meletakkan batu pertama pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) — program strategis yang digagas Presiden Prabowo Subianto dan kini mulai tumbuh di bumi Mimika.

Bupati Mimika Johannes Rettob bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) meletakkan batu pertama pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP)

Jauh sebelum hari bersejarah itu tiba, seorang tokoh daerah telah berjalan jauh demi terwujudnya mimpi ini. John NR Gobai, kini Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah, sejak masih menjadi Anggota DPR Papua pada tahun 2023 telah memperjuangkan pembangunan kampung nelayan di Nabire maupun Mimika. Langkahnya tak henti: berkomunikasi intens dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan, duduk bersama Dinas Kelautan dan Perikanan Papua Tengah maupun Mimika, mengawal kunjungan ke lokasi-lokasi potensial, hingga menggelar sidang dengar pendapat bersama pimpinan DPR Papua Tengah bekerja sama dengan STIH Mimika — membahas masa depan nelayan dan hambatan pelayanan kapal perintis ke wilayah Jita, Mimika.

“Puji Tuhan, sekarang menjadi program strategis dari Presiden Prabowo Subianto dengan nama Kampung Nelayan Merah Putih,” ujar Gobai dengan nada penuh syukur. Baginya, kehadiran KNMP bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan wujud nyata dari nilai-nilai luhur tanah Papua: filosofi 3S — Sagu, Sampan, Sungai.

Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah, John NR. Gobai ketika berada di Kampung Nelayan Pomako.

“Sagu, sampan, batu, perahu, sungai — tempat mereka mencari nafkah. Pemerintah harus menyediakan agar mereka mencari dengan nyaman. Konsep kampung nelayan ini sangat baik, harus didukung pemerintah provinsi, kabupaten, dan seluruh masyarakat,” tegasnya.

Lebih dari sekadar permukiman nelayan, KNMP di Mimika dirancang menjadi pusat ekonomi terpadu. Delapan kampung pesisir di enam distrik telah ditetapkan menjadi lokasi pembangunan: Kampung Poumako (Mimika Timur), Atuka (Mimika Tengah), Kiura (Mimika Barat), Pronggo dan Mupuruka (Mimika Barat Tengah), Amar dan Ipiri (Amar), serta Potowaiburu (Mimika Barat Jauh). Di sana akan berdiri Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN), pabrik es, hingga sistem distribusi yang memadai — menjawab keluhan turun-temurun nelayan yang kesulitan BBM dan fasilitas penunjang melaut. Gobai pun berharap sebagian besar hasil tangkapan dapat didaratkan di Pelabuhan Perikanan Pantai Pomako, agar kekayaan laut memberi manfaat langsung bagi daerah sendiri.

Bupati Mimika Johannes Rettob menegaskan satu hal yang menjadi jantung program ini: KNMP harus benar-benar memberi manfaat langsung bagi nelayan lokal. “Potensi laut kita luar biasa, tapi pemanfaatannya masih kecil. Ikan kita diambil orang lain, dibawa keluar, lalu kita impor kembali. KNMP adalah langkah nyata agar kekayaan laut kembali untuk masyarakat Mimika,” ujar Rettob saat peresmian peletakan batu pertama.

Ia mengingatkan, kekayaan alam yang besar tak akan berarti tanpa wadah dan tata kelola yang kuat, terstruktur, dan berpihak kepada nelayan. KNMP hadir untuk membangun ekosistem perikanan seutuhnya — dari hulu hingga hilir: melengkapi sarana prasarana, memperkuat tata kelola, meningkatkan produksi, mengembangkan pengolahan, hingga membuka jalan pemasaran yang lebih adil. Sejalan dengan semangat Asta Cita Presiden, program ini ditujukan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berakar dari kekayaan laut, berdaya dari tangan masyarakat pesisir sendiri.

Langkah awal telah dimulai dari Poumako. Delapan titik kampung nelayan kini siap tumbuh menjadi delapan titik harapan. Bukan sekadar bangunan dan dermaga, melainkan jalan pulang kekayaan laut Mimika kepada pemilik aslinya — para nelayan yang setiap hari menebar jala demi keluarga dan masa depan daerah. Sebagaimana diucapkan Gobai dengan penuh keyakinan: “Tuhan Yesus dan Bunda Maria membuat segala sesuatu menjadi indah pada waktunya.” Kini, waktu itu tiba. Laut Mimika tak lagi hanya menyimpan janji, tetapi mulai mewujudkannya. (ka)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here