Beranda Ekbis FDS: Antara Seremonial dan Harapan Dampak Ekonomi

FDS: Antara Seremonial dan Harapan Dampak Ekonomi

54
0
BERBAGI
Ilustrasi

SENTANI (2/9/26), NGK — Sudah sembilan belas kali Danau Sentani menjadi panggung warna-warni budaya. Sejak pertama kali digelar di Kalkote, tepian Danau Sentani yang memesona itu menyaksikan euforia yang serupa: tawa, tarian, lampu-lampu, dan hiruk-pikuk seremonial yang mewarnai setiap gelaran Festival Danau Sentani (FDS) sejak tahun 2007.

Namun, di balik kemeriahan yang terus berulang itu, satu hal yang belum pernah ada. data dari kajian mendalam tentang dampak nyata festival tersebut. Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Jayapura terus melangkah menyelenggarakannya dari tahun ke tahun.

Kini, memasuki FDS XV tahun 2026 yang mengusung tema “Budayaku adalah Hidupku”, ada nada yang berbeda dari nada-nada sebelumnya. Bupati Jayapura, Yunus Wonda, menyuarakan harapan yang lebih membumi. Dalam jumpa pers di Kalkote, Sentani, Rabu (2/9/2026), menjelang puncak pelaksanaan FDS pada 3–5 September 2026, Yunus menegaskan, festival tak lagi cukup sekadar menjadi ajang pelestarian dan promosi budaya yang bersifat seremonial semata. Lebih dari itu, FDS harus memberikan manfaat nyata.

“Dampak ekonominya harus terasa. Harus ada pertumbuhan ekonomi yang bisa didapat. Mari berpikir positif,” ujar Yunus dengan tegas. Ia berharap FDS mampu meningkatkan ekonomi keluarga serta mendorong perputaran dan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Jayapura secara keseluruhan. Manfaat itu, tegasnya, bukan hanya untuk pelaku UMKM dan pedagang, melainkan menyentuh seluruh lapisan masyarakat yang terlibat dalam mendukung kegiatan tersebut. Ia pun mengajak warga memanfaatkan momen festival sebagai peluang nyata untuk membuka usaha dan mengambil bagian dalam arus perputaran ekonomi yang melintas.

Namun, muncul pertanyaan besar. Mampukah harapan itu mewujud menjadi kenyataan, atau hanya akan tetap berupa kata-kata manis di atas panggung seremonial? Sebab, dampak ekonomi dari sebuah perhelatan besar tidak bisa sekadar diduga-duga atau diucapkan sebagai janin politik. Ia harus diukur. Dan pengukuran itulah yang selama ini belum pernah dilakukan.

Mengukur pertumbuhan dan perputaran ekonomi daerah melalui event pariwisata seperti FDS memerlukan pendekatan serius, mencakup indikator makro maupun mikro. Bukan sekadar kegiatan pencitraan dari pemimpin daerah atau kemeriahan hura-hura yang hilang saat panggung dibongkar. Diperlukan data yang mampu menggambarkan bagaimana arus uang mengalir, bagaimana modal berputar di tangan masyarakat, hingga sejauh mana kesejahteraan pelaku usaha lokal dan Orang Asli Papua ikut terangkat.

Secara garis besar, ada empat pilar utama yang seharusnya menjadi tolok ukur dampak ekonomi FDS, namun belum pernah dibuktikan datanya:

Pertama, aliran uang dan transaksi langsung. Di sinilah terlihat seberapa besar uang benar-benar berpindah tangan. Mulai dari omzet penjualan UMKM dan makanan tradisional, penjualan suvenir, kerajinan noken, lukisan kulit kayu, hingga pendapatan dari transportasi—termasuk sewa perahu dan speedboat yang menghubungkan kampung-kampung di tepian danau. Jika angka-angka ini tidak dicatat dan dibandingkan, mustahil diklaim ada peningkatan.

Kedua, kinerja pariwisata dan perhotelan. FDS diklaim mampu mendatangkan wisatawan. Namun, berapa persen tingkat hunian kamar yang benar-benar naik? Berapa jumlah wisatawan yang benar-benar datang dan berapa lama mereka tinggal? Semakin lama mereka menetap, seharusnya semakin besar pula uang yang mereka belanjakan. Tanpa data ini, sebutan “festival mendatangkan ribuan wisatawan” hanyalah retorika belaka.

Ketiga, pemberdayaan ekonomi masyarakat dan Orang Asli Papua. Inilah inti dari harapan Yunus Wonda: manfaat harus menetes ke yang paling bawah. Berapa persen stan ekonomi kreatif yang dikelola langsung oleh warga asli setempat? Berapa rata-rata pendapatan bersih mereka selama festival dibandingkan hari biasa? Berapa banyak warga lokal yang diserap bekerja sebagai tenaga harian, penari, pemandu wisata, petugas keamanan, hingga petugas kebersihan? Jika kemeriahan itu hanya dinikmati segelintir pihak, maka tujuan pemberdayaan ekonomi belum tercapai.

Keempat, efek berganda jangka panjang. Perputaran ekonomi festival seharusnya tidak berhenti saat penutupan. Harus terlihat pula peningkatan Pendapatan Asli Daerah dari pajak dan retribusi, terbukanya peluang pasar baru bagi produk lokal, serta dampak promosi yang mendatangkan wisatawan bahkan di luar musim festival.

Keberhasilan FDS sesungguhnya tidak terlihat dari kemegahan panggung atau keramaian tamu undangan. Ia terlihat dari seberapa efektif festival ini mampu mengubah kekayaan budaya dan keindahan Danau Sentani menjadi kesejahteraan yang nyata bagi warganya—sebuah manfaat yang menetes ke bawah, dirasakan langsung oleh masyarakat, dan dapat dibuktikan dengan data.

Harapan Bupati Jayapura itu memang mulia. Namun mulia pun butuh pembuktian. Dan pembuktian itu hanya bisa disampaikan melalui satu hal yang belum pernah ada sejak FDS pertama kali digelar, yaitu : kajian dampak yang jujur, mendalam, dan transparan. Tanpa itu, FDS kelima belas dan FDS-festival selanjutnya, hanyalah euforia yang sama, berulang dengan harapan yang sama pula. (Krist A)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here