Aksesibilitas, Tantangan Stunting, dan Ketimpangan Layanan Primer di Posyandu Santarosa, Distrik Jayapura Selatan
Oleh: Kristian Ansaka, Jurnalis Portal Berita – New Guinea Kurir (NGK)
Sinar matahari pagi membakar pelataran Posyandu Santarosa di Kelurahan Ardipura, Jayapura Selatan. Di balik antrean puluhan ibu yang menggendong balita, tersimpan realitas yang jauh lebih kompleks dari sekadar rutinitas penimbangan bulanan.
Posyandu binaan Puskesmas Ely Uyo ini menjadi garis depan dalam benteng pertahanan kesehatan masyarakat setempat. Namun, di balik senyum para kader dan ramahnya pelayanan perawat, investigasi lapangan menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan di tingkat akar rumput Papua masih dibayangi tantangan struktural yang berulang: keterbatasan akses ekonomi, literasi kesehatan yang minim, serta ancaman gizi buruk yang membayang.
Budaya “Berobat Saat Parah
Di kawasan pinggiran kota Jayapura, keputusan untuk mendatangi fasilitas kesehatan sering kali bukan didasari oleh kesadaran pencegahan, melainkan oleh rasa terpaksa akibat kondisi fisik yang telah memburuk.
Mama Yosi, warga Santarosa, Distrik Jayapura Selatan, mengungkapkan pola pikir yang menjangkiti sebagian besar warga berpenghasilan rendah:
“Dulu saya selalu berpikir, kalau badan tidak sakit berarti sehat. Kalau ada yang terasa sakit, baru saya berani datang ke puskesmas atau kalau ada uang baru ke dokter. Biaya berobat itu takutnya mahal, apalagi kalau harus bolak-balik,” ungkap Mama Yosi.

Pola laten ini menyebabkan penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, dan gangguan jantung berkembang tanpa terdeteksi sehingga menjadi “pembunuh diam-diam” (silent killer). Hambatan geografis dan biaya transportasi antar-wilayah turut memperkeruh kondisi. Bapak Aras Wonda (67), warga asal kawasan Santarosa , mengaku sempat tiga tahun tidak pernah menyentuh fasilitas medis akibat tingginya ia merasa sehat-sehat saja.
Proyeksi Data & Analisis Prevalensi Stunting (2023–2026)
Selain ancaman PTM pada usia dewasa, persoalan gizi buruk dan stunting pada anak menjadi kerentanan terbesar di wilayah kerja Puskesmas Ely Uyo. Berdasarkan estimasi dan pemantauan data kesehatan wilayah, prevalensi stunting di wilayah pelayanan Puskesmas Ely Uyo secara konsisten berada di atas rata-rata Kota Jayapura.
Berikut adalah tabel komparasi capaian historis serta proyeksi target penurunan angka stunting:
Tabel 1: Perbandingan Prevalensi Stunting dan Capaian Gizi Balita
| Tahun | Prevalensi Stunting Kota Jayapura (%) | Prevalensi Stunting Wilayah Puskesmas Ely Uyo (%) | Partisipasi Posyandu (D/S)* (%) | Capaian ASI Eksklusif (%) |
| 2023 (Historis) | 20,4% | 24,1% | 61,2% | 48,5% |
| 2024 (Historis) | 18,2% | 20,8% | 67,5% | 53,2% |
| 2025 (Target) | 15,5% | 17,2% | 75,0% | 62,0% |
| 2026 (Proyeksi) | 13,8% | 14,5% | 82,0% | 70,0% |
*D/S = Jumlah balita yang ditimbang dibanding total balita yang ada di wilayah posyandu.
Visualisasi Proyeksi Penurunan Stunting
Dari data di atas terlihat bahwa intervensi agresif yang dilakukan melalui posyandu dan penguatan pangan lokal diproyeksikan mampu menekan angka stunting di wilayah kerja Puskesmas Ely Uyo mendekati target nasional (di bawah 14%) pada akhir 2026.
Strategi Intervensi: Pangan Lokal & Edukasi HPK
Wellem Eppang, SKM, Kepala Puskesmas Ely Uyo, menegaskan dalam wawancaranya bahwa penanganan stunting tidak dapat diselesaikan hanya dengan membagikan biskuit tambahan saat kondisi anak sudah terlanjur kerdil.
“Stunting itu pencegahannya dimulai dari masa kehamilan hingga 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Strategi kami adalah memperkuat pelayanan Posyandu di tingkat RT agar risiko kurang gizi bisa dideteksi sejak dini sebelum terlambat. Kami tidak ingin warga hanya datang, ditimbang, lalu pulang tanpa pemahaman. Kami mendorong intervensi gizi berbasis pangan lokal seperti ikan segar, keladi, dan daun kelor. Kerjasama antara dokter, suster, dan kader adalah kunci agar deteksi dini ini benar-benar tuntas,” ujar Wellem.
Beban Kerja Kader dan Keterbatasan Fasilitas
Penelusuran lebih dalam memperlihatkan beban berat yang dipikul para kader posyandu dan tenaga medis di lapangan. Suster Arie Asmuruf, penanggung jawab pelayanan Posyandu Puskesmas Ely Uyo, mengungkapkan bahwa tingkat kehadiran warga sangat fluktuatif dan kerap bergantung pada ada atau tidaknya program bantuan langsung atau pemeriksaan gratis.
Tabel 2: Pemetaan Akar Masalah dan Dampak Pelayanan Kesehatan
| Indikator Masalah | Akar Penyebab Utama | Dampak pada Masyarakat |
| Deteksi Terlambat | Persepsi bahwa “berobat hanya saat sakit parah” | Tingginya komplikasi PTM (Stroke, Diabetes, Hipertensi) |
| Kerentanan Stunting | Kurangnya edukasi gizi 1.000 HPK & pengolahan pangan lokal | Gangguan tumbuh kembang fisik dan kognitif balita |
| Presensi Posyandu Fluktuatif | Jarak, biaya angkutan, serta kesibukan ekonomi orang tua | Imunisasi dasar tidak lengkap & pemantauan gizi terputus |
Urgensi Reformasi Layanan Primer
Program seperti “Cek Kesehatan Gratis: Cegah Dini, Tuntas Obati” yang dicanangkan di wilayah kerja Puskesmas Ely Uyo menjadi bukti bahwa pendekatan proaktif (outreach) sanggup memotong mata rantai keterlambatan diagnosis. Ketika layanan mendekat ke lingkungan RT dan kampung, warga yang selama ini terisolasi secara finansial maupun edukasi mulai tersentuh.
Namun, untuk mewujudkan komitmen “Sehat untuk Semua” di Tanah Papua, langkah-langkah insidental tidaklah cukup. Diperlukan penguatan anggaran untuk kader lapangan, jaminan ketersediaan reagen dan obat di tingkat Puskesmas Pembantu (Pustu), serta edukasi berkelanjutan yang mengikis stigma biaya berobat. Tanpa pembenahan sistemik di tingkat dasar, Posyandu akan terus berjuang sendirian menahan gelombang krisis kesehatan masyarakat di Ujung Timur Indonesia. ***








