Beranda PAPUA TENGAH Ketika Papua Tengah Hadapi Kebakaran dan Cuaca Ekstrem

Ketika Papua Tengah Hadapi Kebakaran dan Cuaca Ekstrem

38
0
BERBAGI

NABIRE (23/8/26), NGK— Di tengah hamparan kekayaan alam yang menjadi nyawa kehidupan warga Papua Tengah, bayang-bayang bahaya kini meluas. Kebakaran hutan dan lahan, kekeringan yang memanjang, hingga fenomena cuaca tak biasa seperti embun es di dataran tinggi, seakan menjadi peringatan alam yang tak boleh diabaikan. Menatap risiko yang kian nyata, Pemerintah Provinsi Papua Tengah pun bergerak menyusun benteng bersama.

Melalui penguatan koordinasi dan pembentukan Satuan Tugas penanganan bencana, delapan kabupaten bersatu menyusun langkah terpadu. Juru Bicara Gubernur Papua Tengah, Emanuel You, menyampaikan bahwa Gubernur dijadwalkan memimpin rapat koordinasi secara daring bersama tim penanganan darurat bencana dari delapan kabupaten pada Minggu, 23 Agustus 2026. Di meja pembicaraan, tak hanya perkembangan kebakaran hutan dan lahan yang dibahas, tetapi juga dampak kekeringan, kondisi kesehatan masyarakat, hingga kerusakan tanaman pangan yang dipicu cuaca ekstrem—termasuk embun es yang menyapa warga Kabupaten Puncak dengan cara yang justru merugikan.

Juru Bicara Gubernur Papua Tengah, Emanuel You didamping Humas Prov Papua Tegah, Abeth Youw ketika memberikan keterangan pers di Nabire (Foto; Humas Pemprov Papua Tengah)

“Setiap kabupaten akan menyampaikan laporan kondisi dan kebutuhan masing-masing wilayah. Laporan tersebut menjadi dasar pemerintah provinsi dalam memberikan dukungan berupa armada, personel, obat-obatan, masker maupun kebutuhan penanganan lainnya,” ujar Emanuel di Nabire, Sabtu silam.

Jelas terlihat di sini, kerja sama berjalan beriringan: pemerintah kabupaten tetap menjadi komandan di garis depan, sementara pemerintah provinsi siap mengulurkan bantuan saat kapasitas daerah tak lagi memadai. Semua bergerak seirama, bukan sekadar untuk memadamkan api atau mengatasi keringnya sumber air, melainkan menjaga masa depan yang bertumpu pada kesuburan tanah dan hijau hutan.

Pesan pun tersampaikan lantang, menyentuh hati setiap warga: berhentilah membakar lahan maupun sampah sembarangan. Sebab hutan dan lahan bukan sekadar tanah dan pepohonan—ia adalah kehidupan.

“Kalau kita merasa hutan dan lahan itu adalah kehidupan, maka kewajiban kita adalah menjaganya dan melestarikannya. Kita tidak boleh lagi melakukan aksi-aksi pembakaran yang dapat merusak hutan dan lahan,” tegas Emanuel, mengingatkan bahwa bila hutan dan lahan terbakar, kitalah yang akhirnya menanggung derita.

Rapat koordinasi ini diharapkan melahirkan langkah nyata, mempercepat penanganan di segala penjuru. Di atas segalanya, ia mengandalkan kesadaran bersama: menjaga hutan dan lahan sama artinya dengan menjaga nyawa dan kehidupan generasi Papua Tengah. (ka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here