Beranda PAPUA TENGAH Senyum Anak-Anak Mulia dan Peluk Hangat Sang Wakil Gubernur

Senyum Anak-Anak Mulia dan Peluk Hangat Sang Wakil Gubernur

33
0
BERBAGI
Wakil Gubernur Papua Tengah, Deinas Geley ketika mengangkat seorang anak SD di Mulia. (Foto: Humas Prov Papua Tengah)

MULIA (12/10/26), NGK— Bumbung asap masakan dari tradisi bakar batu meliuk-liuk di udara dingin Distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Senin (12/10/2026). Aromanya bercampur dengan keriuhan dan tawa hangat warga yang memadati bumi Lani tersebut. Satu armada truk pembawa babi yang didatangkan khusus dari Nabire menjadi pelengkap pesta rakyat, menyambut kedatangan jajaran Pemerintah Provinsi Papua Tengah.

Namun, di tengah kemeriahan tradisi adat itu, pemandangan paling menyentuh justru tersaji di pinggir landasan Bandara Mulia.

Setibanya pesawat yang membawa Wakil Gubernur Papua Tengah, Deinas Geley, bersama rombongan lintas instansi—termasuk jajaran Polda, TNI, hingga Kabinda—sekelompok anak-anak sekolah dasar berbaris rapi. Dengan seragam putih-merah yang bersih, sepatu hitam lengkap, serta tas punggung yang terikat erat, mata polos mereka menyambut sang pejabat daerah.

Pemandangan itu seketika meluluhkan hati sang Wakil Gubernur. Tanpa canggung, Deinas melangkah mendekat, bertekuk lutut, lalu merangkul erat tubuh-tubuh mungil itu satu per satu. Rasa haru dan bisikan nostalgia membuncah di dadanya.

“Saya merasa terharu dan sedih sekali melihat anak-anak sekolah yang menjemput kami di bandara. Anak-anak ini luar biasa, makanya saya peluk-peluk mereka,” ungkap Deinas dengan suara bergetar mengingat momen penjemputan tersebut.

Di balik dekapan hangat itu, tersemat sebuah pesan yang menjadi fondasi dan arah masa depan tanah Papua.

Merekam Jejak Kelam, Memeluk Harapan Baru

Bagi masyarakat luas, Puncak Jaya kerap kali diidentikkan dengan stigma daerah konflik, medan peperangan, dan ketegangan keamanan yang tak kunjung usai. Namun, melalui pelukan Deinas kepada anak-anak sekolah di Mulia, narasi itu seolah runtuh. Foto momen emosional saat sang Wagub merangkul seorang siswa kecil kini menyimpan makna yang begitu mendalam.

“Orang menilai Puncak Jaya itu tempat peperangan, tempat kekacauan. Tapi anak-anak di sana tetap ada yang sekolah. Saya dukung anak itu, saya pegang terus karena sekolah itu penting,” tegas Deinas.

Kehadirannya di Puncak Jaya bukan sekadar kunjungan kedinasan biasa, melainkan sebuah kilas balik perjalanan hidupnya sendiri. Deinas Geley adalah putra daerah asli Puncak Jaya. Di tanah berudara dingin inilah ia menempuh masa kecilnya dalam segala keterbatasan.

Wakil Gubernur Papua Tengah, Deinas Geley bersama anak-anak SD di Mulia. (Foto: Humas Prov Papua Tengah)

“Saya sampaikan kepada mereka: Saya ini kakak kalian, om kalian, orang tua kalian. Saya sebagai Wakil Gubernur berasal dari Puncak Jaya. Kamu sekolah di sini, dulu saya juga sekolah di sini,” kenang Deinas di hadapan para siswa.

“Perbedaannya, saya dulu sekolah di sini telanjang seperti kalian dulu. Tapi kalian sekarang hebat; seragamnya bagus, sepatu lengkap, tas lengkap. Kamu jagakan semangat sekolah ini dengan baik. Saya yakin kamu suatu saat akan jadi Gubernur, Wakil Gubernur, DPR, tentara, polisi, atau pegawai yang sukses. Maka kamu harus sekolah!”

Bagi Deinas, dekapan itu adalah simbol estafet kepemimpinan. Anak-anak yang hari ini berdiri mengenakan seragam sekolah kelak adalah sosok yang akan menggantikan posisinya saat ia telah menua.

Makanan Gratis hingga Karakter Moral di Sekolah Sepanjang Hari (SSH)

Usai meninjau pembangunan gedung asrama siswa yang dipatok wajib rampung pada 31 Desember 2026, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Sekolah Sepanjang Hari (SSH).

Sekolah ini menjadi salah satu program unggulan Pemprov Papua Tengah dalam memutus rantai putus sekolah dan kemiskinan. Di SSH, Pemerintah Provinsi menanggung seluruh biaya hidup siswa, mulai dari makan pagi, siang, hingga makan sore. Para siswa tak perlu pusing memikirkan perut yang lapar; fokus utama mereka hanyalah belajar dan membentuk diri.

“Kalian tinggal sekolah saja, sampai ke pembentukan karakter dan moral. Kalau karakter dan moral sudah terbentuk dan sekolah sudah siap, berarti mereka akan jadi pemimpin,” kata Deinas menegaskan.

Ia mengingatkan bahwa nasihat orang tua di rumah adalah pendidikan pertama, sedangkan pengajaran bapak dan ibu guru di sekolah adalah petunjuk jalan yang wajib ditaati.

Menyalakan Kembali ‘Lampu’ Rumah Sakit Imanuel

Tak hanya masa depan pendidikan, kunjungan kerja marathon ini juga menyasar sektor vital lainnya: Kesehatan. Dari sekolah, Deinas beserta jajaran bergerak menuju Rumah Sakit Imanuel.

RS Imanuel menyimpan rekam jejak sejarah yang megah sekaligus prihatin. Di masa lalu, fasilitas kesehatan ini merupakan rumah sakit rujukan utama bagi belasan kabupaten di wilayah Pegunungan Tengah Papua—mulai dari Paniai, Timika, Intan Jaya, Deiyai, Dogiyai, Nabire, Jayapura, Wamena, Yahukimo, Pegunungan Bintang, Tolikara, hingga Lanny Jaya. Operasi patah tulang hingga persalinan gawat darurat dulunya berpusat di sini.

Namun, kejayaan itu meredup setelah sang pendiri dan dokter utama, dr. Foyle Luru, meninggal dunia di Amerika Serikat. Sejak saat itu, tindakan medis besar/operasi terhenti. Pelayanan hanya mengandalkan mantri-mantri lokal peninggalan misionaris yang melayani pengobatan jalan.

Kendati fasilitas serba terbatas, haus masyarakat akan pelayanan kesehatan tak pernah surut. Petugas medis RS Imanuel, Yona Kogoya, membeberkan fakta lapangan yang mengejutkan kepada Wagub.

“Setelah kita buka kembali, pasien yang datang setiap hari mencapai 200 orang. Datang 200 orang diberi obat lalu pulang, begitu terus setiap hari,” tutur Yona.

Menjawab pergumulan tersebut, Pemprov Papua Tengah mengambil langkah cepat. Masalah ketersediaan penerangan/listrik yang menjadi kendala mendesak akan segera dibantu, termasuk rencana pengadaan generator listrik (genset) kapasitas besar serta pemenuhan stok obat-obatan yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal.

“Saya sampaikan kepada pihak rumah sakit, kalian ketua yayasan silakan siapkan dan cari dokter—apakah dokter teman-teman dari Santaraka atau dokter orang Papua. Kamu putuskan, lalu laporkan kepada kami,” instruksi Deinas.

Secara akumulatif, dukungan anggaran kesehatan dari Pemprov Papua Tengah untuk Puncak Jaya telah dialokasikan secara berkelanjutan, di mana bantuan tahun sebelumnya sebesar Rp14,87 miliar dan berlanjut di tahun berjalan (termasuk untuk Puskesmas Ilu) dengan total komitmen mencapai sekitar Rp28 miliar. Dalam kunjungan ini, diserahkan pula secara simbolis bantuan kendaraan operasional roda dua dari total alokasi 34 unit motor bagi petugas di lapangan.

Menatap Masa Depan Papua Tengah

Waktu menunjukkan sore hari ketika asap bakar batu di Mulia perlahan menyatu dengan kabut pegunungan. Rombongan Wagub harus menyudahi agenda di Puncak Jaya untuk terbang menuju Timika guna menghadiri Peringatan HUT ke-30 Kabupaten Timika.

Kunjungan kerja singkat di Puncak Jaya ini membawa pesan yang terang benderang: pembangunan di tanah Papua tidak hanya soal fondasi semen asrama yang harus tuntas akhir tahun, atau pasokan genset dan obat-obatan bagi rumah sakit. Pembangunan sejati di Puncak Jaya dimulai dari pemenuhan gizi, pendidikan karakter, serta keyakinan di dalam dada anak-anak sekolah.

Sebelum melangkah menuju pesawat kecil yang menunggunya di landasan, kata-kata Deinas Geley kembali bergema sebagai pegangan bagi setiap anak-anak Puncak Jaya yang menatap langit masa depan mereka:

“Kamu harus sekolah ya, sekolah yang rajin. Dengar orang tua, dengar ibu dan bapak guru. Suatu saat kamu bisa jadi Gubernur, Wakil Gubernur, Ketua DPR, pegawai, tentara, polisi… apa saja bisa terjadi. Yang penting kamu sekolah dengan baik.” (Krist A)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here