Beranda Serba Serbi Gubernur Nawipa dan Putra-Putri Papua di Freeport Menenun Harapan Baru

Gubernur Nawipa dan Putra-Putri Papua di Freeport Menenun Harapan Baru

125
0
BERBAGI
Gubernur Papua Tengah Meki F. Nawipa ketika bercerita tentang beban dan harapan membangun Provinsi Papua Tengah. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika)

Dari Lembah Tembagapura, Bediri Bersama Dari Titik Nol

TEMBAGAPURA (27/10/26), NGK— Udara di Tembagapura hari itu Senin, 26 Oktober 2026, sangat sejuk. Kabut pun masih mengambang di atas atap-atap rumah. Namun suasana di ruang pertemuan Guest House PT Freeport Indonesia terasa lebih hangat dari biasanya. Tidak ada meja panjang yang memisahkan pejabat dari karyawan, tidak ada nada bicara yang kaku. Di hadapan puluhan staf senior asal Papua yang bekerja di PT Freeport Indonesia, Gubernur Papua Tengah Meki F. Nawipa, Wakil Gubernur, Deinas Gelei, Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong dan sejumlah pejabat lainnya, duduk di antara mereka. Bukan sekadar pemimpin daerah, melainkan saudara yang datang berbagi cerita, beban, dan harapan.

Pertemuan itu bukan sidang resmi. Bukan pula penandatanganan perjanjian besar. Ini adalah ruang ‘curhat’ atau tempat di mana suara dari lembah bertemu dengan mereka yang bekerja di jantung tambang, tempat, fakta pembangunan dipertemukan dengan pengalaman nyata di tanah kelahiran.

Tangan-Tangan yang Bekerja dalam Kesunyian

Acara dibuka oleh Executive Vice President (EVP) Sustainable Development PT Freeport Indonesia, Claus Wamafma, yang menyambut kehadiran Nawipa dengan penuh rasa hormat.

Di hadapan hadirin, ia tidak berbicara tentang produksi atau keuntungan semata, melainkan tentang makna kerja di tanah sendiri. “Kami bekerja di tempat yang menantang secara alam, secara sosial. Banyak yang bekerja dalam kesunyian, tanpa banyak sorotan,” ujar Wamafma. Namun dari kesunyian itulah manfaat mengalir keluar. Beasiswa untuk rata-rata 1.500 siswa setiap tahun, pelayanan kesehatan bagi sekitar 80.000 orang, dan air bersih yang kini menjangkau 10.000 rumah.

Executive Vice President (EVP) Sustainable Development PT Freeport Indonesia, Claus Wamafma, menyambut kehadiran Gubernur Nawipa dengan penuh rasa hormat lalu berbicara tentang makna kerja di tanah sendiri. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika)

Ia bercerita tentang pengalaman pribadi. Bagaimana pekerjaan di sini memungkinkannya menyekolahkan adik-adiknya hingga ke perguruan tinggi. “Kalau tidak kerja di sini, tidak ada yang ke universitas. Dan bukan hanya keluarga mereka sendiri yang diberkati: setiap hasil kerja yang baik adalah jembatan bagi anak-anak lain untuk mendapatkan pendidikan, perawatan, dan kehidupan yang lebih layak,” tutur Claus Wamafma.

Bagi Wamafma, para karyawan asal Papua bukan sekadar tenaga kerja. Mereka adalah berkat yang hadir tanpa banyak suara — tangan-tangan setia yang menjaga agar roda kehidupan terus berputar bagi ribuan orang di luar pagar perusahaan.

Provinsi Muda yang Belajar Berjalan

Giliran Nawipa berdiri, suasana menjadi hening sejenak. Ia tidak membawa naskah yang tebal. Ia membawa kenyataan: Papua Tengah baru berusia satu tahun sepuluh bulan — masih bayi di antara provinsi lain di Indonesia.

“Kami lahir di masa yang tidak mudah,” akunya. Saat awal menjabat, angka pertumbuhan ekonomi tercatat turun 23 persen. Angka yang menyakitkan, dan banyak yang langsung menoleh kepadanya. Namun ia menegaskan: itu bukan gagal pribadi, itu adalah beban awal yang ditanggung bersama. Kini angka itu membaik, turun menjadi minus 13 persen dan sektor non-tambang justru tumbuh 4,25 persen.

Namun kenyataan yang paling berat bukanlah angka di atas kertas. 76 persen perekonomian daerah ini terikat pada satu sumber: tambang. Artinya, setiap langkah pendidikan, setiap bangunan puskesmas, setiap jalan yang dibangun, sangat bergantung pada bagaimana kita semua bekerja bersama di sini.

“Kita saling menentukan,” kata Nawipa, menatap para karyawan di hadapannya. “Apa yang kalian lakukan di sini menentukan masa depan anak-anak di pelosok Papua Tengah.”

Lebih berat lagi, banyak anak berhenti sekolah sebelum tamat. Indeks Pembangunan Manusia masih sekitar 60. Rata-rata pendidikan penduduk belum tinggi. Orang tua yang kurang berpendidikan cenderung sulit memastikan anak-anaknya bersekolah dengan baik dan lingkaran sulit ini terus berulang.

Namun di tengah gelap, ada cahaya kecil yang mulai menyala. Berkat pembenahan data dan program yang terarah, jumlah siswa putus sekolah turun drastis. Dari 25.000 orang menjadi tinggal 113 orang. Angka yang belum sempurna, namun kemajuan yang luar biasa untuk waktu yang singkat.

Membangun dari Nol: Sekolah, Kota, dan Harapan

“Kami tidak membangun dari yang sudah jadi. Kami membangun dari nol,” ujar Nawipa dengan suara tenang namun tegas.

Di Puncak Jaya, kota sedang ditata kembali. Di Kapiraya, pelabuhan dan bandara akan dikembangkan menjadi pusat pertumbuhan baru yang menghubungkan wilayah timur dan barat. Di Nabire, sekolah akan dibuka, tempat di mana anak-anak dari pedalaman dan dari berbagai daerah Papua dapat belajar berdampingan, berbagi meja, berbagi mimpi.

Foto bersama. – Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika).

Namun rencana yang paling membuat hadirin menahan napas adalah pendirian Universitas Meepago. Di tanah yang belum pernah memiliki perguruan tinggi negeri, kini sedang disusun kerja sama dengan ITB, UMKS, dan BINUS. Di atas lahan sekitar 50 hektare, akan berdiri gedung tempat anak-anak Papua sendiri belajar ilmu logam, ketenagalistrikan, ilmu sosial — lima program studi awal, tiga di bidang eksakta dan dua di bidang sosial.

“Kita tidak ada di sini. Sorong ada, Jayapura ada, Merauke ada. Di sini belum ada,” kata Nawipa. “Kita mulai dari titik nol.”

Tidak ada yang instan. Gedung tidak berdiri dalam semalam. Sistem pendidikan tidak sempurna dalam sehari. Namun pemerintah bergerak cepat. Sekolah asrama mulai dibuka, anak-anak mulai makan dan belajar secara cuma-cuma, jalan dan akses sedang dibuka ke pelosok yang dulu terisolasi.

Memilih Harapan di Tengah Keraguan

Pertemuan itu bukan tanpa bayang-bayang. Nawipa mengakui ada suara-suara yang tidak menyenangkan, ada yang menyebarkan berita buruk, ada yang ingin memecah belah. Ia tidak menampik bahwa ada kesalahan dan kekurangan di sepanjang jalan. Namun ia mengajak semua orang di ruangan itu untuk memilih jalan yang berbeda.

“Jangan sampaikan hal-hal yang memecah belah. Sampaikan fakta yang membangun,” pesannya. Ia tahu, tidak semua orang akan senang melihat perubahan. Namun ia berpegang pada satu hal. Apa pun yang terjadi, pekerjaan yang baik harus terus dilakukan.

Di akhir pertemuan, para karyawan asal Papua menyampaikan gagasan mereka tentang beasiswa, tentang peluang kerja, tentang bagaimana universitas nanti dapat menyerap anak-anak dari daerah sekitar. Setiap suara didengarkan. Setiap usulan dicatat. Karena bagi Nawipa, pembangunan bukanlah satu orang yang berbicara dan yang lain mendengarkan. Ia adalah percakapan yang terus berjalan.

Semua gagasan, saran dan control yang dilakukan para karyawan PT FI itu, diterima denganlapang dada sambil mengucapkan : “Terima kasih saudara-saudaraku.”

Satu Langkah di Lembah Ini

Saat pertemuan usai, matahari mulai condong ke Gunung Nenangkawi. Di luar jendela, pegunungan menjulang tenang.  Saksi bisu dari segala perjuangan yang telah berlalu, dan harapan yang sedang lahir.

Papua Tengah masih muda. Jalan masih panjang. Angka ekonomi belum hijau sepenuhnya. Banyak anak masih butuh sekolah. Banyak jalan masih harus dibuka. Namun di ruangan itu, pada Senin akhir Oktober 2026, satu hal sudah jelas: tidak ada yang berjalan sendirian.

Mereka yang bekerja di dalam pagar perusahaan dan mereka yang memimpin di luar sana, berdiri di tanah yang sama, menghadapi masa depan yang sama. Dan dari lembah Tembagapura ini, satu langkah telah diambil: tidak menunggu perubahan datang, melainkan membangunnya sendiri, bersama-sama, dari titik nol.

Pertemuan ini bersifat dialog kekeluargaan, bukan perjanjian kerja sama tertulis. Rencana universitas, infrastruktur, dan pusat pertumbuhan baru masih dalam tahap perencanaan dan pembicaraan kerja sama. Dan bagi PT Freeport Indonesia tetap menyatakan komitmen mendukung program-program yang membawa manfaat nyata bagi masyarakat Papua. (Krist Ansaka & Thobias Maturbongs)

BERBAGI
Artikel sebelumyaHUT ke-70 GKI di Tanah Papua

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here