Beranda Agama Menjaga Amanat, Menguatkan Iman: Langkah Awal Temu Raya Kaum Bapak GKI di...

Menjaga Amanat, Menguatkan Iman: Langkah Awal Temu Raya Kaum Bapak GKI di Tanah Papua ke-8

136
0
BERBAGI
Ketua Panitia Panitia Temu Raya Persekutuan Kaum Bapak (PKB) GKI di Tanah Papua yang ke-8., Henock Puraro (tengah) bersama sekretaris dan bendahara panitia (Foto: KA/NGK)

SENTANI (13/6/26), NGK – Di tengah suasana penuh semangat dan doa, Gedung Serba Guna GKI Filadelfia, Kampung Harapan, menjadi saksi langkah awal persiapan kegiatan besar gerejawi. Di tempat itu, digelar Rapat Pertama Panitia Temu Raya Persekutuan Kaum Bapak (PKB) GKI di Tanah Papua yang ke-8.

Koordinator seksi Panitia Temu Raya Persekutuan Kaum Bapak (PKB) GKI di Tanah Papua yang ke-8. sedang melaporkan program kerjanya (Foto: Krist/NGK)

Pertemuan ini menandai dimulainya perjalanan panjang untuk menyatukan ribuan bapak dari seluruh penjuru Tanah Papua dalam satu tujuan—menguatkan iman dan tanggung jawab sebagai Imam dalam keluarga dan imam dalam jemaat.

Kegiatan Temu Raya ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan amanat yang telah berjalan bertahun-tahun, sebagaimana diungkapkan Ketua Panitia, Henock Puraro S.Sos. “Ini adalah amanat dari Sidang Sinode. Dari tahun ke tahun dan ini sudah ke-8 kali dilaksanakan. Artinya, gereja melihat betapa pentingnya peran kaum bapak dalam kehidupan jemaat,” ujar Henock saat berbincang dengan NGK usai rapat.

Kepala Biro Persekutuan Kaum Bapak (PKB) Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Hanock Tomisha, S.Si, bersama panitia.

Ada dua hal besar yang menjadi jiwa dari kegiatan ini. Peningkatan kualitas iman dan evaluasi program kerja. “Kaum bapak adalah imam di dalam rumah tangga dan juga imam di dalam jemaat. Penguatan iman mereka harus dilakukan bersama-sama, agar setiap bapak mampu menjalankan tanggung jawab rohani dan sosialnya dengan baik,” jelas Henock.

Selain itu, pertemuan ini juga menjadi wadah untuk meninjau kembali seluruh program PKB yang telah berjalan, sekaligus merumuskan rekomendasi bagi Sidang Sinode selanjutnya.

Sejarah pelaksanaan kegiatan ini mencatat bahwa Temu Raya ke-7 digelar di Kabupaten Biak Numfor. Hasil pertemuan saat itu menetapkan Klasis Kota Jayapura sebagai tuan rumah berikutnya. Namun, karena satu dan lain hal, tanggung jawab mulia ini kemudian diambil alih oleh Klasis Sentani.

“Ini adalah tanggung jawab gereja, tanggung jawab anak-anak Tuhan. Waktu yang tersisa hanya sekitar 5 bulan, sangat mendesak, sehingga kami harus segera memulai kerja keras ini,” tambah Henock.

Tantangan terbesar yang dihadapi panitia adalah jumlah peserta dan ketersediaan anggaran. Berdasarkan keputusan Sidang Sinode, setiap klasis diharapkan mengirimkan 300 utusan. Dengan jumlah 70 klasis yang ada di seluruh Tanah Papua, jumlah peserta bisa mencapai 21.000 orang. Namun, melihat kondisi keuangan  global dan kondisi keuangan panitia yang terbatas, panitia mencari jalan tengah yang bijak. “Kami sedang mempertimbangkan untuk menyesuaikan jumlah peserta menjadi sekitar 200 orang per klasis, sehingga diperkirakan ada sekitar 14.000 peserta. Kami terus berupaya mencari bentuk terbaik agar kegiatan tetap berjalan besar dan bermakna, sesuai makna kata ‘Raya’ yang berarti luas dan besar,” ungkap Henock Puraro, yang juga Senator dari Tanah Papua yang kini duduk di DPD RI.

Ketua Panitia, Henock Puraro bersama istri.

Panitia juga berencana menghadirkan nuansa yang lebih meriah dan bermakna. Salah satu rencana yang sedang dibahas adalah siapa yang akan membuka kegiatan ini—apakah Ketua Umum PKB Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) atau Ketua Sinode GKI di Tanah Papua. Hal ini masih dalam tahap pembicaraan dan menunggu persetujuan dari Sinode, mengingat kegiatan ini berlandaskan Surat Keputusan resmi Sinode.

Kepala Biro Persekutuan Kaum Bapak (PKB) Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Hanock Tomisha, S.Si, ketika memimpin doa

Dalam rapat perdana ini, hadir pula Kepala Biro Persekutuan Kaum Bapak (PKB) Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Hanock Tomisha, S.Si, yang memberikan arahan penting bagi seluruh panitia. Ia mengingatkan bahwa panitia sebenarnya telah dilantik pada 7 Juni 2026 di Jemaat GKI Rafael Kemiri, dan seksi-seksi kerja sudah mengadakan pertemuan internal sebelumnya.

“Hari ini adalah saatnya setiap seksi melaporkan hasil pembahasan mereka, agar seluruh pekerjaan tersusun rapi. Yang paling terpenting, ingatlah bahwa pekerjaan ini adalah pekerjaan Tuhan. Kita semua punya komitmen yang sama untuk mengerjakannya,” tegas Pdt. Tomisha.

Ia juga menyoroti besarnya tanggung jawab yang dipikul panitia. Dengan perkiraan peserta mencapai 10.000 hingga 11.000 orang, persiapan harus matang dari awal hingga akhir. “Mulai dari kedatangan peserta, ibadah pembukaan, rangkaian kegiatan selama empat hari, hingga ibadah penutupan, semuanya harus dipersiapkan sebaik mungkin. Kita tidak bisa memprediksi segala kendala, namun jika kita bekerja dengan hati, kekompakan, dan kasih, saya percaya semua akan berjalan lancar dan berkat Tuhan menyertai,” pesannya.

Kepala Biro Persekutuan Kaum Bapak (PKB) Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Hanock Tomisha, S.Si,

Rapat pertama ini baru permulaan. Panitia berjanji akan terus mengadakan pertemuan lanjutan untuk merampungkan segala detail persiapan. Di balik hitungan angka, anggaran, dan jadwal, ada harapan besar: ribuan bapak dari berbagai penjuru Papua akan berkumpul, bersatu hati, dan pulang membawa iman yang semakin kokoh, siap menjadi pemimpin yang baik bagi keluarga dan gerejanya. Sebuah karya besar yang dibangun bukan hanya dengan tenaga, tapi dengan keyakinan bahwa apa yang dikerjakan adalah pelayanan bagi Sang Pemilik Hidup.

Rapat perdana ini membahas rencana program dari masing-masing seksi.  (krist A/Andika W)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here