Beranda Serba Serbi Jeritan Usai Bencana di Sentani

Jeritan Usai Bencana di Sentani

133
0
BERBAGI
Pengungsi

 

Pengungsi

BELUM hilang dari ingatan, ketika gemuruh dari gelindingan bebatuan, tanah longsor dan air bah tercurah dari Pegunungan Cycloop ke lembah Kota Sentani.

Sementara itu, Jeritan tangais anak2 dan orang dewasa, masih mengiyang-iyang di telingaku. Bahkan teriakan Minta Tolong pun masih bergema. Saat itu, 16 Maret 2019 – setahun yang lalu. Kota Sentani dan sekitarnya diterjang banjir bandang. Ribuan nyawa melayang dan harta benda hilang.

Ketika itu, Papua berduka. Lalu bantuan kemanusiaan pun berdatangan. Baik dari pemerintah di Tanah Papua (Papua dan Papua Barat) maupun dari luar Papua. Berbagai lembaga terus memberikan bantuan untuk meringankan beban para korban.  Triliun rupiah pun, masuk ke Kabupaten Jayapura. Jumlah dana bantuan ini, mungkin lebih besar dari APBD Kabupaten Jayapura.

Kini sudah satu tahun. Bongkangan batu dan kubangan air di perumahan Yahim dan sekitarnya, masih Nampak. Para pengungsi belum semua mendapatkan tempat tinggalnya.

Luka dari bencana itu belum sembuh. Ditambah lagi dengan dibakar atau terbakarnya dusun-dusun sagu. Sementara penghijauan di Pegunungan Cycloop, nyaris tak jalan.

Para politisi, termasuk Sang Bupati  Jayapura dan cerdik pandai pun terus berceloteh, bahwa bencana ini terjadi karena intensitas hujan yang tinggi dan juga diakibatan gundulnya Pegunungan Cycloops. Tapi setelah setahun peristiwa bencana, apa saja yang dilakukan untuk mencegah bencana itu lagi  ?

Jangan kita biarkan Jeritan tangis dan Ribuan nyawa manusia yang terkapar dan terbungkus lumpur itu,  menghilang begitu saja dan kita semua mulai sibuk dengan (bencana)  PON XX ….Sungguh Tragis..

Menanti Uluran Tangan

Sementara itu, para pengungsi yang kehilangan rumah dan harta benda lainnya, hingga kini masih bermukim di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Sentani, dan nasibnya terkatung-katung, tanpa kepastian.

Seperti yang ditulis Tabloidjubi.com, bahwa warga korban banjir bandang Sentani mempertanyakan kepastian bantuan dana hunian selama di pengungsian. Pencairan bantuan senilai Rp500 ribu sebulan untuk setiap keluarga pengungsi tersebut tersendat sejak tiga bulan lalu.

“Sebagian pengungsi belum menerima bantuan tersebut. Saat kami usulkan, pihak BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Jayapura bilang tunggu (pencairan) tahap II,” kata Paula Suebu, warga pengungsi di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Sentani, Senin (8/6/2020).

Sebanyak 40 keluarga pengungsi di SKB Sentani kini menanti-nanti pencairan bantuan tahap berikutnya seperti yang telah dijanjikan pemerintah daerah setempat.

“Pada tahap pertama, pencairannya dananya juga tidak full (penuh). Kami baru terima separuhnya,” ungkap perempuan berusia 34 tahun tersebut.

Suebu mengaku kecewa atas keterlambatan pencarian tersebut karena dana hunian sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan warga selama di pengungsian. “Bantuan dana hunian dapat meringankan beban kebutuhan kami.”

Ketua Posko Pengungsian di Kampung Toladan Ambas Kogoya juga turut mempertanyakan kejelasan pencairan dana hunian tersebut. “Kami seharusnya menerima Rp500 ribu setiap bulan, tetapi ini telah berbulan-bulan belum juga terima seluruhnya,.”  (Krist Ansaka)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here