Beranda Kabar dari Kampung (KDK) Dusun Sagu Ditebas, Jati Diri Hilang

Dusun Sagu Ditebas, Jati Diri Hilang

356
0
BERBAGI
(Foto : Musa/Ist)

JAYAPURA, NGK – Sisa-sisa pohon sagu yang masih ada di Kabupaten Jayapura, adalah sisa sejarah dari keberadaan hutan sagu yang hilang karena pembangunan. Kalaupun ada, lahan sagu yang dipagari, itu berarti sudah dibeli orang dan tinggal menunggu untuk dieksekusi menjadi tempat lain.

Begitulah gambaran dari dusun sagu yang menjadi jati diri masyarakat adat di Kabupaten Jayapura yang tergadaikan hanya karena pembangunan. Disisi lain, masyarakat adat dan Pemerintah Kabupaten Jayapura kini berjuang untuk menjaga jati diri masyarakat adat yang sudah tercoreng dengan ditebasnya dusun sagu di mana-mana di Kabupaten Jayapura.

Simbolis perjuangan masyarakat adat dan Pemerintah Kabupaten Jayapura diperingati melalui Hari Ulang tahun ke 7 Kebangkitan Masyarakat Adat di Kabupaten Jayapura pada 24 Oktober 2020.

Sungguh tragis, sagu yang menjadi jati diri masyarakat adat itu, dusunnya telah ditebas atas ijin pemerintah daerah itu.  Lalu jati diri apa yang harus dijaga?

Idealisme yang Tergadaikan. (gambar: http://siluethuruf.blogspot.com)

Sementara itu, tema peringatan 7 tahun kebangkitan masyarakat adat, yaitu : Adat Kuat, Ekonomi Meningkat, Jati Diri Terjaga. “Kami akan mengembalikan jati diri dan membangun bangsa dengan kekuatan melalui pilar adat yang menjadi harapan bagi seluruh masyarakat adat Kabupaten Jayapura,” kata Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, SE, M.Si dalam sambutannya, pada puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kebangkitan Masyarakat adat yang ke 7 yang diperingati di masing-masing wilayah Dewan Adat Suku (DAS), pada 24 Oktober 2020.

Menurut Mathius Awoitauw, tema ini mengandung makna bahwa: Pembangunan yang dilaksanakan selalu mengedepankan Adat sebagai kekuatan besar untuk merubah dan mempercepat pembangunan dan kesejahteraan masyarakat adat, membangun perekonomian  masyarakat adat dan memastikan serta melindungi manusia, tanah, sumber daya alam yang dimiliki oleh masyarakat adat.

Kabupaten Jayapura merupakan salah satu Kabupaten di Papua dan Indonesia yang mempunyai wilayah penghasilan sagu. Oleh karena itu, sejak kepemimpinan Bupati Karafir hingga saat ini, Kabupaten Jayapura telah memiliki Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2000 tentang Perlindungan Hutan Sagu di Kabupaten Jayapura. Hal tersebut dikatakan Bupati Kabupaten Jayapura, Mathius Awoitauw, SE, M. Si disela-sela peringatan Hari Sagu ke II Papua di Kampung Kwadeware, Distrik Waibu, pada hari, Kamis, tanggal, 21 Juni 2018.

Dalam kesempatan saat itu, Mathius Awoitauw mengatakan, Perdanya masih berlaku, tapi hutan sagu juga terganggu terus. Oleh karena itu, kita kembali diingatkan untuk bagaimana menjaga dan melindungi hutan sagu. Masyarakat disuruh menjaga, tapi Pemerintah kasih ijin untuk sagu ditebas.

Aneh, Kabupaten Jayapura punya Peraturan Daerah, tapi Pemerintah dan masyarakat adat tidak mematuhi. Padahal, Untuk menjaga kelestarian hutan sagu, kata Mathius, sebenarnya daerahnya memiliki aturan khusus, yaitu Peraturan Daerah Kabupaten Jayapura Nomor 3 Tahun 2000 tentang Pelestarian Kawasan Hutan Sagu. Hanya Pemda Jayapura yang memiliki aturan ini tapi sayangnya, aturan ini belum sepenuhnya ditaati.

Untuk itu, seharusnya, DPRD Kabupaten Jayapura harus memanggil dan menyidangkan saudara Bupati karena ia tidak menjalankan amanat Perda No. 3 Tahun 2000 dan dapat dianggap tindakannya melanggar Perda itu. “Wakil rakyat jangan tidur dengar lagu soal rakyat,” begitulah lirik lagi Wakil Rakyat dari Iwan Fals.

Menurut  Bank Data NGK, bahwa Pemerintah Kabupaten Jayapura telah melakukan kerja sama dengan Universitas Negeri Papua Manokwari , Papua Barat untuk melakukan penelitian tentang sagu di Kabupaten Jayapura. Berdasarkan penelitian itu, ternyata kawasan satu atau wilayah satu di Kabupaten Jayapura yang berada di sekitar Sentani memiliki keunggulan sagu yang luar biasa.

Kerjasama dengan Universitas Negeri Papua ini, diharapankan bisa mendapatkan kajian-kajian yang pasti sehingga dapat menolong Pemerintah Kabupaten Jayapura untuk pengembangan usaha sagu menjadi andalan dari masyarakat untuk masa depan di bumi Kenambai Umbai.

Kajian tinggal kajian. Perda tinggal perda. Dusun sag uterus dibabat, jati diri masyarakat adat tergadaikan. Tragis…  (Kris Ansaka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here