Beranda Kabar dari Kampung (KDK) Kebangkitan Masyarakat Adat Diperingati di Kabupaten Jayapura

Kebangkitan Masyarakat Adat Diperingati di Kabupaten Jayapura

175
0
BERBAGI
Salah satu tarian adat yang ditampilkan oleh masyarakat kampung pada HUT Kebangkitan Masyarakat Adat, tahun lalu – Jubi/Engel Wally 

JAYAPURA, NGK – Adat Kuat, Ekonomi Meningkat, Jati Diri Terjaga akan mengembalikan jati diri dan membangun bangsa dengan kekuatan melalui pilar adat yang menjadi harapan bagi seluruh masyarakat adat Kabupaten Jayapura,” kata Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, SE, M.Si dalam sambutannya, pada puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kebangkitan Masyarakat adat yang ke 7 yang diperingati di masing-masing wilayah Dewan Adat Suku (DAS), pada 24 Oktober 2020.

Tema yang diusung pada HUT Kebangkitan Masyarakat adat yang ke 7, yaitu : “Adat kuat, Ekonomi Meningkat, Jati Diri Terjaga.”

Menurut Mathius Awoitauw, tema ini mengandung makna bahwa: Pembangunan yang dilaksanakan selalu mengedepankan Adat sebagai kekuatan besar untuk merubah dan mempercepat pembangunan dan kesejahteraan masyarakat adat, membangun perekonomian  masyarakat adat dan memastikan serta melindungi manusia, tanah, sumber daya alam yang dimiliki oleh masyarakat adat.

Lebih lanjut Bupati menjelaskan, pemerintah daerah dan  pemangku kepentingan bersama-sama bersinergi memberi dukungan dalam mempercepat kemajuan masyarakat adat dengan mengeluarkan dan menetapkan beberapa regulasi, kebijakan dan program kerja yang berpihak dan mendukung percepatan pembangunan di berbagai sektor kehidupan masyarakat Adat di Kabupaten Jayapura.

Dijelaskan juga, pada usia yang ke 7 tahun Hari Kebangkitan Masyarakat Adat di kabupaten Jayapura telah dicapai beberapa hal yaitu :

Pertama, pada tanggal 24 Oktober 2013, bersama–sama pemerintah dan masyarakat adat telah mentapkan Hari Kebangkitan Masyarakat Adat di Kabupaten Jayapura dan itu menjadi sebuah sejarah karena satu–satunya Kabupaten di Papua yang memiliki Hari Kebangkitan Masyarakat Adat yang saat ini kita rayakan hari ulang tahunnya yang ke 7

 Kedua, pada tahun 2015, pemerintah memberikan pengakuan terhadap sembilan wilayah adat di Kabupaten Jayapura melalui Surat Keputusan Bupati Nomor : 319 tahun 2015 dan Surat Keputusan Bupati Jayapura Nomor : 320 tahunn 2015 tentang Pengakuan 36 Kampung Adat di Kabupaten Jayapura.

Ketiga, untuk pembinaan masyarakat kepada Adat Pemerintah Kabupaten Jayapura juga telah membentuk satu Bidang Kelembagaan Adat pada Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung dan satu Bagian Pemerintahan Kampung dan Kampung Adat pada Sekretariat Daerah. “Hal ini menunjukan keseriusan Pemerintah Daerah untuk memberdayakan dan melindungi masyarakat Adat,” kata Bupati.

Keempat, satu–satunya Kabupaten di Papua dan Indonesia yang sudah membentuk Tim Gugus Tugas Masyarakat Adat yang bertugas melakukan Pemetaan Tanah–Tanah Adat di Kabupaten Jayapura.

Kelima, pada tahun 2016, Pemeriantah telah mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor : 08 Tahun 2016 Tentang Kampung Adat ini juga satu-satunya Peraturan Daerah tentang Kampung Adat di Provinsi Papua

Keenam, pada Tahun 2017, telah berubah status 14 Kampung Dinas menjadi Kampung Adat dan Pemerintah Daerah sudah mengalokasikan sejumlah Dana Afirmasi untuk Kampung–kampung Adat.

“Terkait informasi kodefikasi 14 Kampung Adat saat ini sudah ada Draf Perdasus Kampung Adat di tingkat Provinsi dan telah mendapat perhatian dan dukungan dari Kementrian Dalam Negeri Republik Indonesia yang dipastik  awal Tahun 2021,  14 Kampung Adat sudah mendapat kodefikasi Desa dari Pemerintah Pusat,” kata Mathius.

Ketujuh, semua yang direncakan dan kerjakan telah ditetapkan dalam Dokemunen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tahun 2017 – 2022.

“Kita berdoa bersama agar melalui moment hari Kebangkitan Masyarakat Adat ini mengingatkan kita bahwa adat, manusia, tanah dan sumber daya alam adalah anugerah Tuhan yang untuk kita kelola demi kemajuan dan kesejahteraan kita bersama,” ucap Mathius.

Selain itu, kata Mathius, pemerintah juga mendorong untuk melestarikan  nilai-nilai adat yang mengandung kearifan lokal untuk memberi dampak positif  pembangunan, diantaranya mengharagai atau menghormati kedudukan peran dan fungsi lembaga-lembaga adat dalam masyarakat,  menghormati berbagai norma dan kaidah-kaidah  yang bernilai tinggi yang telah telah lama ada dan hidup ditengah masyarakat, menghormati dan menggunakan segala sumber daya alam maupun manusia  serta kekayaan khasana budaya yang dimilikinya sebagai warisan bagi anak cucu dan masa depan yang terus berubah sertaa memperhatikan dampaknya kepada kelestarian   lingkungan alam. (Krist Ansaka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here