Beranda MIMIKA Menyemai Benih Calon Imam Katolik Amungme dan Kamoro di Kaki Gunung Lokon

Menyemai Benih Calon Imam Katolik Amungme dan Kamoro di Kaki Gunung Lokon

93
0
BERBAGI
Tim YPMAK bersama para calon Imam asal Amungme dan Kamoro di Seminari Menengah St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen, Lokon, Tomohon, Sulawesi Utara, Selasa (02/07/25)

TIMIKA (19/5/26), NGK – Di ketinggian tanah Kota Tomohon, Sulawesi Utara, yang sejuk dan dikelilingi keindahan alam kaki Gunung Lokon, tumbuh benih-benih harapan baru bagi umat Katolik di Tanah Papua.

Sebanyak 13 putra asli suku Amungme dan Kamoro kini sedang menempuh pendidikan di Seminari Menengah Santo Fransiskus Xaverius Kakaskasen, sebagai bagian dari program beasiswa yang dikelola Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), lembaga pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia.

Tim YPMAK bersama Rektor dan pengelola Seminari Menengah Santo Fransiskus Xaverius Kakaskasen (Foto: YPMAK)

Langkah ini telah dimulai secara teratur sejak tahun 2022, di mana para pemuda ini mengikuti jenjang pendidikan selama empat tahun. Tiga tahun pertama mereka menempuh pendidikan formal setara Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), dan satu tahun sisanya diisi dengan kelas pembekalan atau persiapan untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi — yang dikenal sebagai kelas persiapan atas. Hingga kini, mereka masih terus menempuh masa pembinaan dengan penuh semangat dan dedikasi.

Ketua Pengurus YPMAK Dr. Leonardus Tumuka, memberikan arahan dan motivasi kepada calon imam Katolik di Seminari Menengah Santo Fransiskus Xaverius Kakaskasen, Tomohon (Foto: YPMAK)

Ketika tim pemantauan dan evaluasi (Monev) YPMAK yang dipimpin langsung oleh Ketua Pengurus, Dr. Leonardus Tumuka, berkunjung ke lokasi pendidikan pada Selasa (2/7/2025) lalu, Rektor SMA Seminari Menengah Santo Fransiskus Xaverius Kakaskasen, Pastor Albertus Imbar, Pr., menyampaikan perkembangan perjalanan pendidikan para peserta asal Mimika tersebut.

“Awalnya kami menerima 26 orang anak, namun seiring berjalannya waktu ada yang harus berhenti atau mundur. Ada yang disebabkan oleh masalah kesehatan, ada pula yang karena kesulitan dalam mengikuti materi pelajaran. Mereka yang keluar pun tetap kami arahkan untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah lain yang lebih sesuai dengan minat dan kemampuan mereka. Kini, dari kelompok yang tersisa, sudah ada satu pelajar asal suku Amungme yang berhasil naik ke tingkat keempat, yaitu persiapan untuk melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Hati Kudus Pineleng di Manado,” ungkap Pastor Albertus dengan nada bangga.

Di lingkungan seminari ini, para calon imam tidak hanya dibekali ilmu pengetahuan umum, tetapi juga ditempa untuk membentuk kepribadian yang unggul, tangguh, dan memiliki daya juang tinggi. Tujuannya jelas: mencetak sosok-sosok yang kelak menjadi imam yang saleh, kudus, serta mampu melayani umat dengan sepenuh hati. Kurikulum yang diterapkan pun sangat lengkap dan mendalam. Para siswa diajarkan berbagai bahasa, mulai dari Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Jepang, hingga Bahasa Latin.

“Bahasa Latin kami anggap sebagai ibu dari segala bahasa. Jika seseorang sudah menguasai Bahasa Latin, maka ia akan jauh lebih mudah mempelajari bahasa-bahasa lain, termasuk Bahasa Inggris,” jelas Pastor Albertus, menekankan pentingnya penguasaan bahasa dalam pembinaan rohani dan intelektual.

Sejumlah calon imam Katolik asal suku Amungme dan suku Kamoro di Seminari Menengah Santo Fransiskus Xaverirus Kakaskasen, Tomohon (Foto: YPMAK)

Lembaga pendidikan ini menjalankan dua jalur kurikulum sekaligus. Pertama, kurikulum merdeka yang mengacu pada ketentuan resmi Kementerian Pendidikan Republik Indonesia untuk jenjang SLTA. Kedua, kurikulum khusus seminari yang berisi materi pembinaan rohani, pemahaman tugas pastoral, cara melayani umat, serta tata cara kehidupan dalam komunitas.

Meski tujuan utamanya adalah mendidik calon pemimpin rohani, pihak seminari tidak memaksakan kehendak. Pastor Albertus menegaskan bahwa keputusan akhir ada di tangan masing-masing individu dan panggilan hati mereka.

“Kami tidak pernah memaksakan kehendak. Jika setelah lulus mereka merasa terpanggil dan memilih jalan menjadi imam, itu adalah jawaban atas panggilan Tuhan. Namun jika jalan hidup mereka ternyata bukan di sini, maka ilmu dan bekal yang mereka dapatkan selama tiga hingga empat tahun ini sudah cukup menjadi modal berharga untuk menjalani kehidupan yang lebih baik di masa depan, ke mana pun mereka melangkah,” ujarnya.

Keberadaan para pelajar asal Amungme dan Kamoro ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi pihak pengelola seminari. “Kami sangat bangga karena ada peserta beasiswa dari YPMAK. Kelak, dari tanah Mimika ini akan lahir para imam Katolik yang akan melayani umat, termasuk di daerah asal mereka sendiri,” tambah Pastor Albertus.

Seminari Menengah Santo Fransiskus Xaverius Kakaskasen sendiri memiliki sejarah panjang dan bermakna. Berdiri pertama kali pada tahun 1928 di Woloan, lembaga ini kemudian dipindahkan ke Kakaskasen pada tahun 1936. Nama pelindungnya diambil dari Santo Fransiskus Xaverius, yang dikenal sebagai Rasul Indonesia dan pelindung karya misi, mengingat peran besarnya dalam penyebaran ajaran Kristen di nusantara.

Secara historis, tepat pada 19 April 1928, pengelolaan karya misi di Sulawesi Utara dialihkan dari Tarekat Yesuit kepada Tarekat Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC). Enam imam Yesuit yang bertugas saat itu digantikan oleh enam imam MSC, dan dari kelompok inilah lahir sosok Pastor Hendricus Croonen, yang dikenal sebagai pendorong utama sekaligus pendiri Seminari Menengah Keuskupan Manado yang kini telah berusia lebih dari satu abad.

Saat ini, seminari yang menampung total 159 murid ini memiliki visi mulia: mempersiapkan calon-calon imam yang semakin dewasa, seimbang, dan utuh dalam berbagai aspek kehidupan — baik dari segi kesehatan maupun kekudusan, penguasaan ilmu pengetahuan maupun semangat pelayanan kasih (amor pastoralis), serta memiliki ketahanan mental dalam menghadapi segala perubahan zaman.

Tim YPMAK bersama Rektor dan Jajaran penanggung jawab, Seminari Santo Fransiskus Xaverius Kakaskasen, Tomohon (Foto: YPMAK)

Misi yang diemban pun tak kalah penting, yakni menciptakan suasana pembinaan yang kondusif bagi para siswa melalui bimbingan rohani yang terarah, pembentukan kedisiplinan yang tegas, serta pendidikan dan pelatihan yang terkoordinasi dengan baik, baik di lingkungan sekolah maupun di asrama tempat mereka tinggal.

Di bawah naungan lembaga bersejarah ini, benih-benih harapan dari suku Amungme dan Kamoro kini tumbuh dan berkembang. Mereka membawa serta doa dan dukungan dari masyarakat di tanah asalnya, menempuh pendidikan jauh dari rumah, demi kelak dapat pulang membawa ilmu, hikmat, dan pelayanan bagi sesama saudara sebangsa dan setanah air. Di kaki Gunung Lokon inilah, kisah panggilan dan pengabdian baru sedang ditulis, demi masa depan rohani tanah Papua. (yeri)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here