
TELUK WONDAMA (19/5/26), NGK– Di tengah hamparan hutan adat yang membentang melintasi wilayah Kabupaten Teluk Wondama hingga Kaimana, semangat baru kini tumbuh di kalangan pemuda Suku Mairasi.

Puluhan anak muda berkumpul di Rumah Inisiasi Suku Mairasi, Kampung Wombu, Distrik Naikere, bukan sekadar bertemu, melainkan untuk belajar cara menjadi juru cerita bagi tanah dan budaya mereka sendiri.

Mereka adalah 30 pemuda yang tergabung dalam Jurnalis Masyarakat Adat (JMA) Suku Mairasi, yang mengikuti pelatihan dasar-dasar jurnalistik yang digelar pada Selasa (19/5/2026). Kegiatan ini merupakan inisiatif Pengurus Daerah Asosiasi Jurnalis Masyarakat Adat Nusantara (PD AJMAN) Suku Mairasi, bekerja sama dengan Yayasan Lingkungan Hidup Papua (Yali Papua), sebagai langkah strategis agar kisah, perjuangan, dan kearifan lokal masyarakat adat tidak lagi diceritakan dari sudut pandang orang luar.

Nesta Makuba, staf Kampanye Yali Papua sekaligus pemateri dalam kegiatan ini, menjelaskan bahwa materi yang disampaikan dirancang khusus untuk pemula. Fokus utamanya adalah pengenalan prinsip dasar penulisan berita menggunakan rumus 5W+1H (Apa, Siapa, Di mana, Kapan, Mengapa, dan Bagaimana), serta cara menentukan judul dan kalimat pembuka berita yang jelas. Tak hanya soal tulisan, para peserta juga diperkenalkan pada dasar fotografi dan teknik pengambilan gambar, mengingat berita yang utuh membutuhkan dukungan visual yang tepat.
“Mereka masih pemula, jadi pondasi ini sangat penting. Kami ingin mereka paham betul apa yang akan ditulis, bagaimana menyusun informasi, hingga teknik mengambil sudut pandang foto yang baik. Ini menjadi bekal awal agar mereka mampu menyampaikan pesan dari kampung masing-masing dengan benar,” ungkap Nesta.
Semangat tinggi terlihat jelas dari wajah para peserta. Materi yang disampaikan langsung dipraktikkan dalam bentuk simulasi, di mana peserta dibagi menjadi tiga kelompok. Setiap kelompok berdiskusi dan saling bertukar gagasan untuk merumuskan satu judul berita, menerapkan langsung ilmu yang baru saja mereka dapatkan.

Bagi Petrus, salah seorang peserta yang datang dari salah satu kampung di wilayah Teluk Wondama, pelatihan ini adalah kesempatan langka dan sangat berharga. Selama ini, ia dan pemuda lainnya sering merasa kisah serta perjuangan masyarakat adat sering kali disampaikan secara keliru oleh pihak luar. Baginya, cerita tentang kampung, hutan, dan kehidupan mereka harus lahir dari pengalaman dan pemahaman mereka sendiri.

“Ilmu seperti ini jarang kami dapatkan di kampung. Bagi kami, ini sangat penting. Cerita dari kampung harus diceritakan oleh kami, masyarakat adat itu sendiri. Saya berharap, lewat pelatihan ini, anak muda Suku Mairasi bisa menjadi penjaga sekaligus penulis kisah kami. Sehingga ke depannya, tidak ada lagi cerita tentang kami yang disampaikan secara salah atau menyesatkan,” ujar Petrus dengan penuh harap.

Harapan senada disampaikan oleh Sulis Urio, Ketua PD AJMAN Suku Mairasi. Menurutnya, pengetahuan jurnalistik bukan sekadar keterampilan menulis, melainkan alat strategis. Wilayah adat Suku Mairasi yang luas dan membentang di dua kabupaten membuat arus informasi terkadang terputus dan pergerakan masyarakat menjadi sulit. Ditambah lagi dengan tantangan nyata berupa ekspansi perusahaan kayu yang terus menguras sumber daya alam hutan adat mereka, kemampuan menyuarakan fakta menjadi sangat krusial.
“Selama ini kami terus berjuang menyelamatkan wilayah adat, hutan, dan sumber daya alam kami. Namun, akses informasi yang terbatas membuat suara kami belum terdengar luas. Pengetahuan dasar jurnalistik ini sangat membantu kami yang masih pemula. Kami sangat berterima kasih, terutama setelah pulang dari Rapat Kerja Nasional AJMAN baru-baru ini, ilmu ini segera bisa kami terapkan,” tegas Sulis.
Kini, setelah satu hari penuh menyerap materi dan berlatih, puluhan pemuda Suku Mairasi pulang membawa bekal baru. Mereka bukan lagi sekadar pendengar cerita tentang tanah kelahiran mereka, melainkan mulai bertransformasi menjadi jurnalis yang siap merekam, menulis, dan menyebarkan informasi. Di tangan merekalah, kebenaran tentang kehidupan masyarakat adat, kelestarian hutan, dan kekayaan alam Papua akan terus dikisahkan—langsung dari sumbernya, untuk dunia yang lebih mengerti. (Nesta/ka)







