
“Ingat, perjuangan kalian belum selesai saat dinyatakan lulus seleksi. Justru di sinilah awal pengabdian. Menjadi ASN bukan sekadar punya pekerjaan, tapi panggilan hati untuk melayani.”
TIMIKA (15/6/26), NGK – Suasana Gedung Tongkonan di Jalan Sam Ratulangi, Timika, Senin (15/6/2026), tampak berbeda dari biasanya. Ratusan anak muda mengenakan seragam rapi berkumpul dengan tatapan penuh harap. Hari itu, sebanyak 528 putra-putri terbaik daerah resmi memulai perjalanan mereka dalam Pelatihan Dasar (Latsar) Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kabupaten Mimika tahun 2026.

Latsar ini bukanlah sekadar formalitas administratif untuk mengganti status dari calon menjadi pegawai tetap. Bagi Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong, kegiatan ini adalah kawah candradimuka. Ini adalah proses pembentukan karakter, mentalitas dan integritas bagi mereka yang akan menjadi garda terdepan pelayanan publik di tanah Mimika.
“Menjadi ASN bukan sekadar memperoleh pekerjaan, tetapi panggilan untuk melayani. Saudara-saudara adalah generasi baru birokrasi yang akan menentukan wajah pelayanan publik Mimika di masa depan,” tegas Emanuel dalam sambutannya.

Di hadapan 230 peserta golongan II dan 298 peserta golongan III, Wakil Bupati memberikan pesan yang cukup tajam dan menohok. Ia menekankan bahwa status sebagai CPNS menuntut tanggung jawab moral yang besar. Ia mengingatkan agar para peserta tidak terjebak dalam perilaku indisipliner, termasuk peringatan keras mengenai gaya hidup yang tidak mencerminkan nilai-nilai aparatur negara.
“Sebagai ASN, Anda adalah pelayan masyarakat. Hati-hati, jangan sampai melakukan pelanggaran. Kita ingin ASN yang bekerja dengan hati, berintegritas dan menjauhi praktik yang merugikan publik,” tambahnya dengan nada tegas namun humanis.

Pelatihan yang merupakan kerja sama antara BKPSDA Kabupaten Mimika dengan BPSDM Provinsi Papua ini akan berlangsung intensif. Peserta akan menjalani 511 jam pelajaran (JP), yang terbagi dalam 21 hari on campus untuk pembelajaran klasikal dan 30 hari kerja off campus untuk pembelajaran non-klasikal. Mereka ditempa untuk memahami nilai-nilai dasar ASN yang ‘BerAKHLAK’—berorientasi pelayanan, akuntabel, kompeten, harmonis, loyal, adaptif, dan kolaboratif.
Kabupaten Mimika, dengan segala tantangan geografis dan keberagaman budayanya, memang membutuhkan sosok-sosok yang responsif. Peserta Latsar ini diharapkan mampu menjadi agen perubahan di unit kerja masing-masing nantinya. Bukan sekadar pengisi daftar hadir, melainkan solusi bagi persoalan masyarakat yang semakin kompleks.

Kini, perjuangan mereka baru saja dimulai. Di balik seragam dan atribut yang mereka kenakan, tersimpan harapan besar masyarakat Mimika akan lahirnya birokrasi yang lebih bersih, transparan, dan benar-benar hadir untuk melayani. Sebuah pengabdian panjang telah dimulai dari Gedung Tongkonan hari ini.

Pelatihan ini menandai lahirnya generasi baru birokrasi yang diharapkan membawa perubahan nyata bagi masyarakat.

Sebanyak 528 peserta menjadi bagian dari momen bersejarah ini. Angka itu terbagi menjadi 230 orang golongan II dan 298 orang golongan III, yang akan mengikuti proses pembelajaran selama 511 jam pelajaran (JP). Program ini dirancang dalam dua tahap yaitu 21 hari pembelajaran tatap muka di kampus setara 191 JP, dan 30 hari kerja pembelajaran di luar kampus atau non-klasikal setara 320 JP, termasuk kegiatan aktualisasi nilai dan pembinaan fisik serta mental. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama erat antara Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Aparatur (BKPSDA) Kabupaten Mimika dengan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Papua, didukung para narasumber dan widyaiswara berkompeten.

Dalam laporannya, Ketua Panitia, Yulius Pinimet menegaskan bahwa tujuan utama pelatihan ini bukan sekadar pemenuhan syarat administrasi. “Kami ingin membentuk PNS yang profesional, berkarakter disiplin, memahami nilai dasar, kedudukan serta perannya, dan memiliki wawasan luas dalam memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat,” ujarnya di hadapan para peserta dan tamu undangan yang hadir, meliputi Pj. Sekretaris Daerah, Kepala BPSDM Provinsi Papua, Emanuel Korey, unsur Forkopimda, pimpinan OPD, serta para pejabat di lingkungan Pemkab Mimika.

Pesan yang sama namun lebih mendalam disampaikan Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong, saat memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan secara resmi. Baginya, Latsar adalah titik balik dan proses pembentukan jati diri, bukan sekadar kewajiban formal. “Ini adalah proses pembentukan karakter, integritas, mentalitas, kedisiplinan, dan profesionalisme Aparatur Sipil Negara (ASN). Saudara-saudari adalah generasi baru birokrasi yang akan menentukan wajah pelayanan publik Mimika ke depan,” tegasnya.

Emanuel mengingatkan bahwa menjadi ASN berarti memegang amanah besar. Tidak cukup hanya cerdas secara akademis, setiap peserta wajib menanamkan nilai-nilai dasar ASN BerAKHLAK: Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif. Nilai-nilai ini harus hidup dalam cara berpikir, bersikap, hingga bekerja sehari-hari.
“Dunia berubah cepat. Masyarakat kini menuntut pelayanan yang cepat, mudah, transparan, adil, dan bebas dari segala bentuk penyimpangan. Mimika adalah daerah yang kaya potensi namun juga memiliki tantangan berat—mulai dari keberagaman budaya, kondisi geografis, hingga kebutuhan pembangunan yang kompleks. Daerah ini butuh aparatur yang tidak hanya pandai, tapi juga responsif dan berhati pelayan,” tambahnya.
Wakil Bupati juga mengingatkan status mereka saat ini masih sebagai calon pegawai. Ia berpesan agar menjaga nama baik institusi, menjauhi perilaku yang mencoreng citra birokrasi seperti mabuk-mabukan, pelanggaran disiplin, hingga penggunaan atribut yang tidak sesuai aturan. “Ingat, perjuangan kalian belum selesai saat dinyatakan lulus seleksi. Justru di sinilah awal pengabdian. Menjadi ASN bukan sekadar punya pekerjaan, tapi panggilan hati untuk melayani,” tandas Emanuel.
Ia berharap melalui pelatihan ini, lahir agen perubahan yang mampu memberi solusi, bukan menambah masalah. “Jadilah ASN yang melayani dengan hati, bekerja dengan integritas, dan mengabdi dengan dedikasi tinggi. Hindari korupsi, kolusi, dan nepotisme. Pegang teguh prinsip netralitas dan loyalitas pada bangsa serta negara,” pesannya.
Di akhir sambutan, ia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah bekerja keras mewujudkan kegiatan ini. Dengan mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, ia secara resmi membuka pelatihan ini, berharap 528 calon aparatur ini kelak pulang membawa bekal ilmu dan karakter yang kuat, siap membangun Mimika menjadi daerah yang maju, sejahtera, aman, dan berdaya saing melalui pelayanan publik yang berkualitas.
Hari itu, di Gedung Tongkonan, benih-benih pemimpin masa depan Mimika mulai ditanam. Dan seperti pesan yang bergema di ruangan itu: perjalanan panjang pengabdian baru saja dimulai. (tob/ka)







