Beranda Nusantara Ancaman di Langit Papua Terulang Kembali

Ancaman di Langit Papua Terulang Kembali

68
0
BERBAGI
Infografis Gemini- NGK

Para Pilot dan Awak Pesawat Hanyalah Pelayan Masyarakat.

JAKARTA (5/7/26), NGK— Langit yang seharusnya menjadi jalur aman penghubung antarwilayah, kembali berubah menjadi ruang yang penuh bahaya di tanah Papua.

Ikatan Pilot Indonesia (IPI) menyuarakan keprihatinan paling dalam sekaligus melontarkan kecaman keras atas terjadinya insiden serius yang menimpa Nicholas F. Goselin, piloit pesawat sipil (AMA- Associated Mission Aviation (AMA)) dengan nomor registrasi PK-RCY pada 2 Juli 2026 di Yahukimo, Papua Pegunungan.

Sebelumnya, pada 1 Februari 2026 di Boven Digoel, Papua Selatan, Kapten Egon Erawan, dan Baskoro Adi Anggoro (kopilot), keduanya warga Indonesia dari Maskapai Smart Cakrawala Aviation (Smart Air), ditembak mati saat pesawat mendarat di lapangan terbang Korowai Batu. Pelaku diduga kelompok sipil bersenjata di Papua.

Peristiwa penembakan pilot ini sudah beberapa terjadi. Pada 5 Agustus 2024 di Mimika, Papua Tengah, Glen Malcolm Conning (berkewarganegaraan Selandia Baru), Pilot helikopter milik Intan Angkasa Air Service, disergap dan dibunuh sesudah mendarat. Oenyelidikan masih berlangsung, tuduhan saling silang antara aparat dan kelompok bersenjata.

Ini bukanlah peristiwa terisolir. Di tengah perjalanan tahun 2026, insiden ini tercatat sebagai kejadian kedua yang merenggut nyawa seorang pilot secara langsung, sekaligus membahayakan keselamatan seluruh awak kabin, penumpang, serta mengganggu roda operasional penerbangan sipil di wilayah Papua itu.

Berulangnya kejadian serupa dalam kurun waktu yang singkat menjadi bukti nyata, bahwa ancaman terhadap keamanan penerbangan belumlah sirna, dan membutuhkan perhatian serius yang tidak bisa ditunda-tunda lagi.

Melalui pernyataan resminya, Ketua IPI, Kapten Muammar Reza Nugraha, menegaskan sikap tegas organisasi profesi tersebut. Setiap bentuk penyerangan, intimidasi, tindak kekerasan, perusakan, hingga pembakaran terhadap pesawat sipil maupun personel penerbangan adalah kejahatan yang tak memiliki alasan pembenaran sedikit pun.

“Tindakan ini bukan sekadar merusak benda mati, melainkan mengancam nyawa manusia dan memutus urat nadi kehidupan masyarakat Papua,” tegas Ketua IPI, Kapten Muammar Reza Nugraha melalui siaran pers tertanggal 4 Juli 2026.

Penerbangan sipil di sana bukan sekadar moda transportasi biasa. Ia adalah urat nadi utama yang menghubungkan desa dan kota, jalur penyelamat bagi distribusi logistik pangan, obat-obatan, serta layanan kesehatan darurat yang sulit dijangkau lewat darat maupun laut. Ketika pesawat diserang, maka akses kehidupan ribuan jiwa pun terancam terputus.

IPI menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada semua pihak yang sigap bertindak dalam penanganan kejadian ini, mulai dari operator penerbangan, aparat keamanan, petugas lapangan, hingga warga yang memberikan dukungan informasi.

Namun, rasa syukur itu harus dibarengi langkah nyata. IPI menegaskan akan terus mempererat koordinasi dengan otoritas penerbangan, pengelola maskapai, aparat hukum, pemerintah pusat dan daerah, serta organisasi pilot tingkat dunia, guna menyusun dan memperkuat sistem keamanan penerbangan di Papua.

Pesan terakhir yang disampaikan IPI adalah pesan kemanusiaan: Para pilot dan awak pesawat hanyalah pelayan masyarakat yang menjalankan tugas mulia. Mereka tidak boleh menjadi sasaran kemarahan atau ancaman dalam bentuk apa pun. Keselamatan di langit Papua adalah tanggung jawab bersama, dan sejarah kelam seperti ini tidak boleh terulang lagi selamanya. (Krist A)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here