Beranda PAPUA TENGAH Pendidikan, Pondasi Masa Depan Papua Tengah

Pendidikan, Pondasi Masa Depan Papua Tengah

15
0
BERBAGI
Open House Sekolah Papua Harapan (SPH) Nabire yang berlangsung di Aula Gereja Pantekosta Serikat di Indonesia (GPSDI), Jalan Martadinata, Kelurahan Nabarua, Nabire, Jumat (28/8/2026).

NABIRE (28/8/26), NGK — Di tengah hiruk-pikuk pembangunan fisik yang terus berjalan di berbagai penjuru Papua Tengah, Gubernur Papua Tengah Meki Fritz Nawipa menyampaikan pesan yang mendalam dan mengubah pandangan, bahwa tiada pembangunan yang lebih hakiki selain membangun manusia melalui pendidikan.

Pernyataan tegas itu disampaikannya saat menghadiri Open House Sekolah Papua Harapan (SPH) Nabire, yang berlangsung di Aula Gereja Pantekosta Serikat di Indonesia (GPSDI), Jalan Martadinata, Kelurahan Nabarua, Nabire, pada Jumat (28/8/2026).

Di hadapan para orang tua siswa dan para pendidik, Meki berbicara bukan sekadar sebagai pemimpin daerah, melainkan sebagai seorang yang merasakan sendiri bagaimana pendidikan mengubah jalan hidupnya.

Gubernur Papua Tengah Meki Fritz Nawipa pada Open House Sekolah Papua Harapan (SPH) Nabire. (Foto: Humas PPTT)

Dari Pengalaman Sendiri

Meki tak segan membuka lembaran masa lalunya. Ia mengenang pernah bekerja mengangkat barang di gudang milik orang asing, sebuah perjuangan yang mengajarkannya bahwa keberhasilan tak selalu bermula dari sesuatu yang besar.

“Semua itu mulai dari hal kecil,” ujarnya dengan tulus. Dari pengalaman itulah ia memahami, keberhasilan tak datang secara instan. Ada proses panjang yang mesti dilalui dengan kerja keras, ketekunan, dan keyakinan diri yang kokoh.

Nawipa pun mengenang masa-masa menempuh pendidikan saat dibimbing oleh guru-guru dari luar negeri. Pengalaman itu membentuk keyakinannya bahwa pendidikan adalah jalan yang mampu mengubah segalanya — bukan hanya membuka wawasan, melainkan membentuk watak dan memberi arah kehidupan.

Pendidikan Lebih dari Sekadar Ijazah

Bagi Gubernur Papua Tengah Meki Fritz Nawipa, pembangunan gedung, jalan, dan infrastruktur memang penting, namun belum cukup untuk menjamin masa depan daerah.

“Pendidikan itu senjata. Orang berpendidikanlah yang bisa merubah segalanya,” tegasnya. Pendidikan yang sejati tak sekadar mencetak keunggulan akademik, melainkan membentuk manusia yang berkarakter kuat, bermoral luhur, terampil, dan berguna bagi tanah kelahirannya.

Ia pun menaruh apresiasi yang tinggi terhadap peran yayasan gereja dan misionaris yang telah lama membuka ruang bagi masyarakat Papua untuk berkembang.

Kehadiran Sekolah Papua Harapan di Nabire, menurutnya, adalah peluang berharga bagi anak-anak Papua Tengah, termasuk mereka yang berasal dari pedalaman, untuk memperoleh pendidikan berkualitas sekaligus membangun kepercayaan diri dan keterampilan hidup.

Komitmen Nyata dan Harapan Besar

Dalam sambutannya, Gubernur Papua Tengah Meki Fritz Nawipa menyampaikan tanda kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada pihak yayasan serta dewan guru atas dedikasi dan ketulusan mereka dalam mendidik anak-anak. Ia juga melihat secara langsung perkembangan fasilitas, lingkungan belajar, program pembelajaran, serta kemajuan para siswa.

Sebagai wujud komitmen, Pemerintah Provinsi Papua Tengah akan membantu pembangunan fasilitas Sekolah Papua Harapan secara bertahap. Gubernur Papua Tengah Meki Fritz Nawipa menyatakan akan mengalokasikan bantuan sebesar 56 miliar rupiah secara bertahap, disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah dan kebutuhan pengembangan sekolah.

Para siswa didik Sekolah Papua Harapan (SPH) Nabire (Foto: Humas PPTT)

“Uang kita bisa dicari, tetapi meletakkan pondasi untuk anak-anak kecil itu susah,” jelasnya. Itulah sebabnya pembangunan pendidikan menjadi salah satu program prioritas dalam masa kepemimpinannya. Ia menginginkan agar Sekolah Papua Harapan terus berkembang dan menjadi teladan, sehingga kelak berdiri lebih banyak sekolah berkualitas sejenis di seluruh Papua Tengah.

Peran Orang Tua Tak Tergantikan

Di tengah harapan besar terhadap peran sekolah, Gubernur Papua Tengah Meki Fritz Nawipa mengingatkan satu hal yang kerap terlupakan: peran keluarga. Ia meminta orang tua tidak menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan kepada pihak sekolah. Sesibuk apa pun, perhatian dan kehadiran orang tua tetap menjadi fondasi pembentukan watak anak.

“Saya pesan kepada orangtua, pagi antar, sore jemput,” ucapnya penuh harap. Perhatian sederhana itu, katanya, adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan pendidikan seorang anak. Banyak anak di luar sana yang tak memiliki kesempatan serupa — maka kesempatan yang ada harus diiringi perhatian penuh kasih sayang.

Masa Depan Dibangun di Ruang Kelas

Pada akhirnya, Gubernur Papua Tengah Meki Fritz Nawipa berpesan kepada seluruh anak didik, bahwa kesempatan datang tak berulang. Selagi masih di bangku sekolah, belajarlah dengan tekun. Jadilah generasi yang berilmu, berkarakter, terampil, dan kelak mampu menciptakan lapangan kerja sendiri — bukan sekadar mencari pekerjaan.

“Hujan itu akan turun dengan sendirinya, tetapi seorang anak manusia membentuk dirinya hanya melalui pendidikan,” ungkapnya.

Masa depan Papua Tengah, sesungguhnya, tak hanya sedang dibangun di atas tanah berupa jalan dan gedung. Ia sedang dibentuk di ruang-ruang kelas, saat anak-anak Papua diberi kesempatan belajar, dibimbing dengan tulus, dan didampingi dengan penuh kasih.

Di sanalah pondasi sesungguhnya diletakkan. Pondasi yang kelak akan menopang langkah mereka menentukan arah masa depan Papua sendiri. (ka)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here