Beranda MIMIKA Penutupan Festival Budaya Bukan Penghentian Pelestarian Budaya

Penutupan Festival Budaya Bukan Penghentian Pelestarian Budaya

31
0
BERBAGI
Tarian adat Suku Amungme menyambut kedatangan Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong di lokasi Festival Seni Budaya. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati)

“Kita punya kekayaan sumber daya alam yang perlu dikelola seperti air terjun di Potowaiburu, Distrik Mimika Barat Jauh kalau dikelola dengan baik, bisa menjadi destinasi wisata.  Begitupun hutan bakau yang ditumbuhi pohon mangi- mangi (mangrove) bisa dikelola menjadi wisata mangrove”

TIMIKA (8/10/26), NGK – Penutupan Festival Budaya bukan berarti kita menghentikan upaya pelestarian budaya. Kita harus terus merawat, mengembangkan, dan mewariskan kekayaan budaya kepada generasi muda, serta memanfaatkan potensi alam dan budaya untuk mendorong pariwisata dan ekonomi kreatif daerah.

Hal ini disampaikan Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong ketika menyampaikan sambutan pada penutupan Festival Seni Budaya Mimika di Lapangan Ex–Pasar Lama pada Kamis (8/10/2026).

“Festival ini menjadi momentum kebangkitan budaya, bukan sekadar kegiatan seremonial,” tegas Emanuel Kemong.

Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong saat tiba di lokasi Festival Budaya. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati)

Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Mimika ini berlangsung selama empat hari sejak Senin (5/10/2026) hingga Kamis (8/10/2026) sekaligus memperingati Hari Jadi Kabupaten Mimika ke–30.

Foto bersama Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Mimika, Elisabet Tsenawatme dan Sekretaris Dinas, Daniel Orun. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati)

Dalam sambutannya, Kemong menyampaikan syukur atas kelancaran seluruh rangkaian acara. Ia mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada panitia, seniman, budayawan, tokoh adat, tokoh agama, pimpinan TNI–Polri, Forkopimda, organisasi kepemudaan, lembaga adat, serta seluruh warga yang mendukung.

Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong mengunjungi stand pengukir asal Suku Kamoro. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati)

Festival ini mencatat capaian penting berupa pendokumentasian 21 cerita rakyat, 18 lagu musik akustik tradisional, 19 busana adat khas Amungme dan Kamoro, serta 14 tarian tradisional dalam bentuk video. Kegiatan melibatkan 12 sanggar seni, 12 sanggar kuliner, 30 kelompok pengrajin, pelajar dari 29 sekolah, dan dikunjungi sekitar 3.000 orang.

Kemong menegaskan penutupan acara tidak berarti menghentikan pelestarian budaya.

Wakil Bupati menyerahkan secara simbolis hadiah kepada pemenang. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati)

“Kita punya kekayaan sumber saya alam yang perlu dikelola seperti air terjun di Potowaiburu, Distrik Mimika Barat Jauh kalau dikelola dengan baik, bisa menjadi destinasi wisata, termasuk pantainya. Begitupun hutan bakau yang ditumbuhi pohon mangi-mangi (mangrove) bisa dikelola menjadi wisata mangrove,” tegas Kemong

Untuk itu, Wakil Bupati mengajak masyarakat terus merawat, mengembangkan dan mewariskan kekayaan budaya kepada generasi muda, serta memanfaatkan potensi alam dan budaya untuk mendorong pariwisata dan ekonomi kreatif daerah.

Penutupan kegiaran Festival Seni Budaya ditandai pemukulan tifa secara bersama sama. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati)

“Festival ini menjadi momentum kebangkitan budaya dan bukan sekadar kegiatan seremonial,” ujarnya saat menutup Festival Budaya itu. (tob/ka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here