“Hanya anak-anak negeri sendirilah yang bisa membangun negerinya.”
TIMIKA (24/10/26), NGK — “Terima kasih Pak Wakil Bupati Mimika. Orangtua kita. Beliau sebagai guru telah mendidik banyak anak anak, salah satunya, saya sendiri,” tutur Gubernur Papua Tengah Meki F. Nawipa diawal sambutannya pada acara penyerahkan paket bantuan alat pengolahan pascapanen kopi kepada Kelompok Tani Tunas Jaya, Kelurahan Kamoro Jaya, Kabupaten Mimika, pada Sabtu (24/10/2026) di Timika.

Pernyataan Nawipa itu disambut tepuk tangan riuh dari semua tamu undangan yang hadir saat itu. “Hari ini kita berkumpul di sini, baik yang datang dari pulau-pulau maupun pesisir, tapi kita bisa bersatu. Hari ini mungkin jumlah kita baru satu dua orang, tetapi kita sedang memulai sesuatu yang besar. Apabila kita mau bekerja keras, disiplin, komitmen, dan konsisten, kita pasti bisa menciptakan sesuatu yang bertahan lama. Jika generasi sebelumnya belum mampu, kita pasti bisa melakukannya, apalagi dengan niat dan hati yang tulus,” ujar Meki Nawipa.

Digitalisasi dan Transparansi Sistem Pelayanan
Meki Nawipa menjelaskan, sebelum kita melangkah lebih jauh, kelompok-kelompok usaha masyarakat di provinsi sekarang mulai kita arahkan melalui pembentukan sebuah sistem yang terintegrasi. Baik untuk sektor pertanian, kopi, koperasi, rumah ibadah (gereja dan masjid), hingga kelompok masyarakat umum, semuanya bisa mulai mengajukan proposal secara resmi melalui system digitalisasi.

“Nanti jadwal pembukaannya akan ditentukan, dari tanggal berapa sampai tanggal berapa. Setelah itu, seluruh prosesnya diselenggarakan secara digital dan online. Dengan begitu, tidak ada lagi praktik “orang dalam” atau istilah “karena dia orangnya gubernur/bupati maka dibantu”. Sistem ini dirancang fair dan adil untuk semua orang,” kata Gubernur.
Lebih lanjut dijelaskan, kita sedang meletakkan fondasi agar masyarakat kita bisa berkembang. Lewat sistem yang disiapkan ini, siapa saja—baik yang berada di pelosok gunung, pesisir, laut, maupun di mana saja yang memiliki akses internet, bisa mendaftarkan kelompoknya dan mengajukan proposal secara mandiri. Siapa yang lolos dan tidak, semuanya transparan.
Menurut Meki, langkah ini perlu di-backup penuh dengan sistem aplikasi terintegrasi. Tidak ada lagi sistem titipan pejabat. Semua proposal yang masuk akan ditelaah oleh tim hingga tahap akhir, untuk menentukan bantuan mana yang layak diberikan. Hal ini juga berlaku untuk program DPR melalui pokir (pokok pikiran); semuanya harus lewat sistem online. Untuk pembangunan fisik seperti jembatan, lapangan, atau dana hibah, masyarakat dapat menyuarakan aspirasinya secara terbuka dan akuntabel.

“Prinsip utamanya hanya satu: kepentingan rakyat jauh lebih penting daripada hal-hal lainnya. Jabatan dan masa kepemimpinan akan datang dan pergi, tetapi sejarah peletakan fondasi yang kuat harus kita tancapkan hari ini, agar generasi muda ke depan bisa berdiri mandiri dan menjadi kuat,” tegas Meki Nawipa.
Pengembangan Komoditas Kopi dan Branding Produk
Sebagai bentuk dukungan nyata, pada kesempatan ini Gubernur Papua Tengah menyerahkan bantuan unit mesin pengolah kopi, yang terdiri dar:
- 1 unit mesin pengupas kulit kopi basah
- 1 unit mesin sangrai (roaster)
- 1 unit mesin penepung/bubuk kopi
- 1 unit mesin penyegel (sealer)
“Silakan kembangkan fasilitas ini. Jika sistem pengajuan di provinsi sudah dibuka, silakan mendaftar agar usaha ini dapat berjalan maju,” kata Gubernur.
Nawipa juga menjelaskan mengenai komoditas kopi. Kualitas rasa kopi Papua pada dasarnya sudah sangat baik. Namun, hal yang membedakannya di pasaran adalah kemasan (packaging). Para petani dan pelaku usaha harus mulai memikirkan kemasan yang menarik. Di Nabire, kami mencoba membuat kemasan eksklusif menggunakan kotak kayu khas Papua Tengah yang memuat berbagai varian kopi daerah, seperti Kopi Modio, Kopi Intan Jaya, hingga Kopi Mimika.
“Kita harus bangga dengan daerah kita (proud of the place). Kita akan terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten dan provinsi untuk merancang kemasan yang memikat sehingga memiliki nilai jual tinggi dan membanggakan Kabupaten Mimika serta Provinsi Papua Tengah,” ujarnya.
Mobilisasi Ekonomi dan Regulasi Daerah
Gubernur Nawipa juga menjelaskan, Pemerintah Provinsi Papua Tengah juga sedang merancang strategi agar Kabupaten Mimika dan daerah sekitarnya dapat meningkatkan pendapatan daerah. “Salah satu langkah strategisnya adalah melalui kerja sama transportasi pelayaran. Kita akan mendorong subsidi kapal penumpang yang menghubungkan rute Kaimana, Timika (Paumako), hingga Asmat dan Nabire,” ujarnya.
Dengan dibukanya alur pergerakan masyarakat antarwilayah ini, perputaran uang dan APBD antar-daerah akan saling mengisi. Ketika mobilitas orang meningkat, aktivitas ekonomi masyarakat juga ikut hidup—orang akan membeli kopi, menikmati cokelat, dan menghidupkan UMKM lokal.
Untuk mendukung keberlanjutan ini, kita membutuhkan proteksi hukum berupa regulasi daerah yang kuat. Sebagai provinsi baru, kita harus membuat aturan main yang jelas agar daerah ini berkembang secara mandiri, bukan sekadar tergantung pada luar.
Menurut Meki, pembangunan ke depan membutuhkan kesiapan dari kita semua. Hal-hal yang berkaitan dengan sektor perikanan pun demikian, kita bisa berdiskusi langsung di lapangan—bahkan sambil memancing di laut bersama masyarakat.
“Hanya anak-anak negeri sendirilah yang bisa membangun negerinya. Saya selalu menekankan kepada jajaran di kantor bahwa fokus utama kita adalah melayani dan membantu rakyat. Kita tidak perlu mempersulit diri; dengan bekerja tulus membantu rakyat dan meletakkan fondasi yang benar, kita sedang menyiapkan masa depan yang lebih baik bagi generasi esok,” tegasnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Rafael Heri Nugroho dalam laporannya menyatakan bantuan ini mengubah kedudukan kelompok tani — yang sebelumnya hanya menjual buah kopi mentah — kini mampu menghasilkan produk olahan sendiri dengan nilai tambah yang lebih tinggi. “Petani tidak lagi hanya menyerahkan bahan mentah, melainkan menjadi produsen dengan produk, kemasan, dan merek sendiri yang membawa nama Mimika dan Papua Tengah,” ujarnya.
Rafael menjelaskan, setiap pagi di kota-kota besar Indonesia, jutaan orang menikmati secangkir kopi. Mereka rela membayar mahal Petani menanam, memanen dengan keringatnya tetapi nilai tambahnya dinikmati di tempat lain.
“Untuk kopi yang enak dan bermutu, berapa bagian dari harga secangkir kopi itu yang sampai ke tangan petani yang menanamnya? Petani menanam, memanen dengan keringatnya tetapi nilai tambahnya dinikmati di tempat lain. Kita ubah. Dan perubahan itu kita mulai hari ini di sini bersama kelompok Tani Tunas Jaya,” katanya.

Keberhasilan sesungguhnya tidak diukur dari berapa alat yang kita serahkan hari ini. Tetapi dari berapa banyak kopi bermutu yang dihasilkan dan berapa besar peningkatan pendapatan petani dalam tahun-tahun ke depan. (tob/ka)








