
MIMIKA (20/8/26), NGK – Di bawah rimbun hutan belantara yang kini telah bertransformasi menjadi pusat pemerintahan distrik, Mapuru Jaya merayakan usia emasnya. Perjalanan lima puluh tahun bukanlah sekadar deretan angka, melainkan catatan keringat dan gotongroyong dari para pionir yang membangun fondasi Distrik Mimika Timur dari nol.

Bupati Mimika, Johannes Rettob, dalam puncak peringatan HUT ke-50 Mapuru Jaya, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memaknai usia emas ini sebagai titikbalik pembangunan daerah. Baginya, sejarah panjang Mapuru Jaya adalah asset berharga yang harus didokumentasikan agar generasi mendatang tidak melupakan akar perjuangannya. Namun, di balik perayaan, tantangan nyata masih membayangi. Sengketa tanah yang kerap menghambat proyek infrastruktur menjadi perhatian serius pemerintah.

“Pemerintah daerah berencana menyusun regulasi terkait tata cara pengelolaan kontrak tanah agar tidak terjadi penuntutan berulang setelah pembayaran,” tegas Johannes Rettob.
Menurut Bupati Rettob, banyak orang yang tidak paham tentang persoalan tanah di areal Pelabuhan Paomako. “Mereka menilai pemerintah mengabaikan pembangunan di sana, padahal mereka tidak tau akar persoalannya. Tapi pemerintah terus berusaha untuk menyelesaikan sengketa tanah agar pembangunan bisa berjalan di wilayah Paomako.
Selain infrastruktur, Bupati juga menekankan perang melawan pengaruh negative seperti minuman keras (miras) dan aksi pemalangan jalan.

Senada dengan hal itu, Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong, menekankan perubahan perilaku sebagai kunci. “Mari kita jaga kebersamaan, keamanan, dan kedamaian untuk membangun Mapuru Jaya,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu pelaku sejarah, Martin Maturbongs menuturkan, “Kami membuka lokasi ini tahun 1975 bersama Camat A.R. Yap, BA. Waktu itu sama sekali masih hutan belantara, belum ada perkampungan. Kami bekerja secara gotong royong tanpa alat berat, masing-masing membawa kampak dan parang sendiri,” kenang Martin Maturbongs saat pembukaan Mapurujaya.
Berikut ini, pengakuan Martin Maturbongs ketika membuka Mapuru Jaya :

Saya teringat kembali awal mula kami membuka lokasi Mapurujaya pada tahun 1975 bersama Bapak Camat A.R. Yap, BA. Waktu itu lokasi Mapuru Jaya yang terletak kurang lebih dua kilo meter di atas Kampung Kaugapu dan lokasi itu masih hutan belantara. Belum ada perkampungan di situ.
Sebelum lokasi itu dibuka, terlebih dahulu dibuatkan upacara adat di tempat keramat yg kemudian dibangun Tugu Mapuru. Setelah itu, hutan lokasi distrik mulai ditebang dengan tenaga manusia secara gotong royong tanpa menggunakan alat berat. Masyarakat, terutama pemuda didatangkan dari wilayah Kecamatan Mimika Timur yaitu dari Otakwa sampai Keakwa. Sementara Kecamatan Mimika Barat dari Kaokanao sampai Potowai Buru juga sedang membangun kecamatan barunya di Uta.
Masyarakat bekerja secara bergiliran masing-masing kelompok selama satu minggu sesuai jadwal yg dibuat dan diedarkan ke seluruh kampung dengan pembagian kelompok sebagai berikut :
- Kampung Otakwa (Ohotiya) , Inauga (Manasari) dan Omouga (Omawita)
- Koperapoka, Wauneripi, Naigeripi
- Tipuka, Kaugapu, Hiripau dan Muware-Pigapu.
- Iwaka, Miyoko dan Atuka.
- Timika, Aika-Wapuka dan Keakwa.
Masyarakat datang dengan masing-masing membawa bekal makanan dan alat kerja (kampak dan parang) sendiri.
Singkat cerita, pembukaan lahan Ibu Kota Mimika Timur di Mapurujaya dapat berjalan lancar kemudian berkembang hingga sekarang.
Setelah pemekaran KPS (Kepala Pemerintah Setempat) Mimika-Agimuga menjadi tiga Distrik yakni : Distrik Mimika Timur, Mimika Barat dan Agimuga. Sejak itulah Bapak Camat A.R. Yap, BA dan tim melakukan survey menentukan Ibu Kota Kecamatan Mimika Timur dan Pelabuhan Laut di Paomako.

Setelah NGK menelusuri data dari dari Martin Maturbongs dan berbagai sumber, mereka menyebutkan,staf distrik Mimika Timur yg merintis lokasi distrik Mapuru Jaya dan penetapan pelabuhan Paomako tahun 1974 :
1. Camat : Amos Raymind Yap, BA.
2. Kepala Kantor : Yoseph Renwarin
3. Agen Pamong Praja (APP) : Bapak Beny Warinussy
4. APP : Bapak Torey
5. APP : Tobias Waukateyau (asal kampung Keakwa)
6. Staf Adm : Gabriel Orun
7. Leander Weyau (asal kampung Keakwa)
8. Clemens Ainiyu, (asal kampung Timika Pantai)
9. Engel Rahaded
10. C. Thenny Reyaan
11. Ibu Anna M. Rettob
12. Yohana Makeya (ibu asal kampung Aika-Wapuka)
13. Marthin R. Maturbongs
14. Clining Servis : (bapak asal kampung Ipaya Daniel Mauri)
Ketika membuka lokasi, dari Koramil Kaokanao itu, Tomas Muda.
Sementara pekerjaan pembukaan lokasi sedang berjalan, tahun 1975, Marthin R. Maturbongs ditempatkan pada pos pemerintahan di Tembagapura sambil menunggu Costan R. Anggaibak, BA menyelesaikan studinya di APDN Yoka dan datang Kembali bergabung untuk pembukaan lokasi Mapuru Jaya.
Kisah Martin menjadi pengingat bahwa Mapuru Jaya dibangun dari solidaritas lintas kampung, mulai dari Otakwa hingga Keakwa. Semangat kolektif inilah yang diharapkan kembali menyala di usia ke-50. Kini, di tengah pesatnya perkembangan ekonomi Mimika, Mapurujaya tetap menjadi pilar strategis, baik dari sisi budaya

Pemerintah Kabupaten Mimika berkomitmen penuh untuk terus mendorong potensi tersebut, memastikan bahwa setengah abad usia Mapurujaya menjadi loncatan menuju masa depan yang lebih aman, maju, dan berkelanjutan. (tob/ka)







