JAYAPURA (23/8/26), NGK — Rangkaian cuaca ekstrem melanda Papua Tengah. Sejumlah titik di sekitar Bandara Nabire terbakar akibat angin kencang dan kekeringan, Danau Paniai mulai mengering, sementara di Ilaga (Kabupaten Puncak) terjadi frost (embun beku) yang merusak tanaman pangan dan menghanguskan rumah warga.

Menanggapi situasi ini, Dr. Ir. Agus Irianto Sumule M.Sc menegaskan bahwa embun beku, kekeringan, kebakaran, dan kerusakan tanaman pangan tidak boleh dilihat sebagai kejadian terpisah. Fenomena ini merupakan satu rangkaian krisis iklim yang berpotensi memicu krisis pangan jika diabaikan.
Pelajaran dari Masa Lalu dan Risiko 2026
Pengalaman bencana di Kuyawage (Lanny Jaya) pada 2015 membuktikan bahwa frost dapat menghancurkan ubi jalar dan tanaman pangan utama, yang berujung pada kelaparan dan jatuhnya korban jiwa.
Situasi tahun 2026 menjadi lebih rentan akibat musim kemarau panjang yang diperkuat oleh El Niño. Di Pegunungan Tengah, kerusakan kebun subsisten sangat berbahaya karena wilayahnya terpencil dan sangat bergantung pada akses udara. Mengingat adanya time lag (jeda waktu antara rusaknya tanaman dan timbulnya kelaparan), pemerintah tidak boleh menunggu laporan warga kelaparan baru bertindak.
Langkah Mendesak: Bentuk Sistem Peringatan Dini
Pemerintah Pusat, Provinsi Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan kabupaten perlu segera membentuk Posko Bersama Pemantauan Krisis, dengan melibatkan BMKG, BNPB/BPBD, dinas teknis, hingga jaringan sekolah, gereja, dan kader kesehatan. Sekolah seperti Sekolah Sepanjang Hari (SSH) di Ilaga dapat dijadikan titik pengamatan dini (sentinel point) untuk melaporkan cuaca, kondisi kebun, pangan, dan kesehatan anak secara berkala.
Pembagian Tindakan Berdasarkan Waktu
- Dalam 24–72 Jam: Pemerintah daerah wajib melakukan rapid assessment via telepon/Starlink ke wilayah terdampak, memetakan kebakaran, menghentikan sementara pembakaran lahan, serta mendata kebutuhan logistik wilayah terpencil.
- Dalam 7 Hari: Buat peta kerawanan pangan (kategori Hijau, Kuning, Merah). Wilayah kategori merah harus segera dikirimkan pangan, obat-obatan, dan cadangan beras tanpa prosedur birokrasi yang panjang.
- Dalam 30–90 Hari: Penanganan tidak cukup hanya dengan membagikan beras. Pemerintah harus memulihkan kemampuan produksi warga dengan menyediakan bibit ubi jalar, keladi, peralatan kebun, dan sumber air hingga kebun kembali produktif.
Ancaman Kebakaran dan Kebutuhan Integrasi
Kebakaran lahan dan permukiman harus diantisipasi segera dengan pembuatan sekat bakar di sekitar fasilitas vital, penyediaan tangki air portabel, serta kesiapsiagaan patroli hotspot satelit dan modifikasi cuaca.
Penanganan krisis ini juga tidak boleh hanya berfokus pada pengiriman beras, melainkan mencakup pemantauan kesehatan kelompok rentan (balita, ibu hamil, lansia) serta memastikan kelayakan transportasi udara yang menjadi urat nadi logistik di Pegunungan Tengah.
Informasi dari Ilaga dan wilayah lain adalah alarm early warning. Keberhasilan penanggulangan bencana bukan diukur dari banyaknya bantuan pasca-bencana, melainkan kemampuan membaca tanda-tanda awal untuk mencegah bencana kemanusiaan terjadi. Pemerintah Pusat, gubernur, dan bupati harus bergerak bersama sekarang—sebelum nyawa manusia menjadi taruhannya. (ka)








