JAYAPURA (30/8/26), NGK – Ketinggian pegunungan yang terjal di Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua Pegunungan, suara deru pesawat yang biasa menjadi harapan kini perlahan hilang sejak Juli 2026.
Selama berbulan-bulan, akses penerbangan yang menjadi urat nadi kehidupan warga di puluhan distrik terpencil terputus. Dampaknya kini mulai terasa nyata. Angka kesakitan dan kematian dikhawatirkan terus meningkat, terutama bagi mereka yang sangat bergantung pada transportasi udara untuk bertahan hidup.
Salah satu kisah yang paling menyayat hati adalah kematian Enina Tuliahanuk, seorang ibu berusia 28 tahun, warga Kampung Pontenikma, Distrik Panggema. Pada Selasa, 7 Juli 2026 lalu, Enina meninggal dunia bukan karena penyakit yang tak tertahankan semata, melainkan karena ketiadaan jalur transportasi untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan. Saat ia membutuhkan pertolongan segera, pesawat yang seharusnya menjadi jembatan keselamatan tak bisa mendarat.
Ketiadaan layanan penerbangan itu bermula dari peristiwa kelam pada 2 Juli 2026. Sebuah pesawat milik PT Associated Mission Aviation (AMA) ditembak dan dibakar di Balinggama, Distrik Sobaham. Insiden itu merenggut nyawa pilot asal Amerika Serikat, Kapten Nicholas Francis Gosselin.
Sejak saat itu, sebagian besar layanan penerbangan perintis yang melayani wilayah Yahukimo berhenti beroperasi. Langit yang dulu menghubungkan kampung-kampung terpencil dengan dunia luar kini sepi, membiarkan ribuan warga terisolasi.
Ketika akses udara terputus, seluruh sendi kehidupan ikut lumpuh. Petugas kesehatan tak dapat menjangkau tempat tugasnya. Obat-obatan tertahan di pusat kabupaten. Pasien darurat seperti Enina tak dapat dirujuk ke rumah sakit di Wamena atau pusat pelayanan kesehatan terdekat. Belum lagi tekanan cuaca kemarau yang berlangsung berbulan-bulan, membuat jalur darat yang terbatas pun semakin sulit dilalui. Distribusi kebutuhan pokok terhambat, pendidikan terganggu, dan perekonomian masyarakat merosot tajam.

Melihat kenyataan yang memilukan ini, Anggota DPRK Yahukimo sekaligus Anggota Komisi C dan Juga Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Yahukimo, Sipe Sobolim, yang juga membidangi kesehatan dan pendidikan, menyuarakan keprihatinan mendalam. Melalui siaran persnya pada 30 Agustus 2026, ia meminta pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan segera turun tangan.
“Kami berharap pemerintah pusat segera berkomunikasi dengan pihak-pihak penerbangan yang beroperasi di Papua, terutama penerbangan subsidi yang memang diperuntukkan bagi masyarakat wilayah pegunungan seperti Yahukimo,” tegas Sipe.
Pemerintah dan masyarakat dari 51 distrik di Yahukimo pun telah menyampaikan sikap bersama, memberikan jaminan keamanan bagi setiap penerbangan yang melintas dan mendarat di wilayah mereka. Namun hingga kini, langkah pemulihan belum terwujud. Sipe pun memohon kepada seluruh operator penerbangan untuk mempertimbangkan penderitaan rakyat dan segera menindaklanjuti komitmen tersebut.
Pesan yang disampaikan Sipe begitu dalam, menyentuh hati setiap pihak yang terlibat dalam dinamika di tanah Papua. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk TPNPB, TNI-Polri, pemerintah daerah, hingga pihak penerbangan, untuk menempatkan kepentingan kemanusiaan di atas segalanya.
“Kita semua harus mengutamakan hak asasi manusia dan kemanusiaan di atas segala-galanya. Kita berjuang untuk rakyat dan masyarakat kecil. Kalau masyarakat ini terus meninggal karena sakit dan tidak mendapatkan pelayanan kesehatan akibat akses yang terputus, lalu kita sebenarnya berjuang untuk siapa?” ujarnya dengan suara bergetar penuh penekanan.
Pemulihan penerbangan, menurut Sipe, bukan sekadar urusan transportasi. Ini menyangkut kehidupan. Ketika pesawat kembali mendarat di tanah-tanah Yahukimo, bukan hanya penumpang yang turun, melainkan obat, tenaga medis, kebutuhan pokok, harapan, dan kesempatan untuk hidup. Karena itulah, ia mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjamin keamanan penerbangan sipil, agar langit Yahukimo kembali hidup dengan deru pesawat yang membawa harapan, bukan lagi air mata dan duka.
Pemerintah pusat, pemangku kepentingan, dan seluruh elemen di Yahukimo kini berdiri di persimpangan jalan. Apakah mereka akan membiarkan nyawa rakyat terus terancam karena terputusnya akses udara, atau segera bersatu demi kemanusiaan? Jawaban itu sedang ditunggu oleh ribuan warga yang menengadah ke langit pegunungan, berdoa agar pesawat kembali datang membawa keselamatan. (krist)







