
TIMIKA (7/3/26), NGK – Upaya penguatan ekonomi kerakyatan bagi masyarakat asli Papua di Kabupaten Mimika khususnya suku Amungme dan Kamoro terus bergulir.
Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) sebagai pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia (PTFI) konsisten mendorong pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) binaan untuk naik kelas, tidak hanya melalui bantuan fisik, tetapi juga pembekalan literasi keuangan.
Kamis (5/3/2026) menjadi momentum penting bagi empat pelaku UMKM asal suku Amungme dan Kamoro. Mereka resmi menerima kunci kios kelontong yang berlokasi di titik strategis, yakni SP 12, SP 5, Kelurahan Sempan dan Kelurahan Koperapoka. Penyerahan ini menandai babak baru bagi kemandirian ekonomi keluarga di tengah dinamika pasar Kabupaten Mimika yang kian kompetitif,
Kepala Divisi Program Sosial Ekonomi YPMAK, Octovianus Jangkup, menjelaskan bahwa bantuan ini tidak diberikan begitu saja. Ada proses panjang yang harus dilalui para penerima manfaat, mulai dari pelatihan tahap kedua hingga pembangunan fisik kios, hingga dinyatakan layak beroperasi.
“Hari ini kita kembali menyerahkan kunci kios kelontong kepada empat UMKM binaan. Sebelumnya mereka sudah mendapatkan pelatihan Financial Literacy (literasi keuangan), sehingga dengan penyerahan kunci ini, menandai bahwa kios sudah siap beroperasi,” ujar Octovianus dalam seremoni penyerahan kunci kios yang berlokasi di SP 12, SP 5, Kelurahan Inauga Sempan dan Kelurahan Koperapoka.
Program ini merupakan bagian dari target besar YPMAK untuk menyediakan 20 unit kios bagi masyarakat asli. Proporsi penerima manfaat dibagi secara merata, yakni 10 unit untuk pelaku UMKM asal suku Amungme dan 10 unit bagi suku Kamoro. Dengan penyerahan empat unit terbaru ini, total kios yang telah beroperasi mencapai 14 unit.
Sementara itu, enam unit kios lainnya masih dalam tahap penyelesaian pembangunan serta pengisian stok barang dagangan. Octovianus menyebutkan, penyerahan sisa unit tersebut akan dilakukan segera setelah proses teknis rampung, yang diperkirakan pada akhir pekan ini.
YPMAK menekankan bahwa kunci dari keberhasilan program ini adalah rasa memiliki dan tanggung jawab dari para pengelola. “Kami berharap penerima kios benar-benar memiliki rasa tanggung jawab terhadap kios ini, sehingga bisa dimanfaatkan dengan baik dan penuh semangat. Dengan begitu, perputaran ekonomi bisa berjalan lancar dan memberi manfaat bagi masyarakat sekitar,” tambahnya.

Di balik bangunan kios yang kini berdiri kokoh, tersimpan harapan besar dari para ibu dan kepala keluarga. Empat kios tersebut kini dikelola oleh Lewi Onawame (Nok Hin Womie) di Kampung Mimika Gunung, Agus Janampa (Buginme Mart) di SP 12, Yuliana Sawakurpi (Omawita Mart) di Jalan Busiri, serta Yasinta Wayawiyuta (Unurpa Mart) di Koperapoka.
Yuliana Sawakurpi, pemilik sekaligus mengelola Omawita Mart di Kelurahan Inauga Sempan, tampak terharu saat memegang kunci kiosnya. Baginya, bantuan ini adalah jembatan untuk meningkatkan taraf hidup keluarga, sekaligus ruang belajar untuk menjadi pengusaha yang profesional.
“Kios ini akan membantu saya meningkatkan ekonomi keluarga, sekaligus menambah pengetahuan dan wawasan saya dalam berusaha. Terima kasih kepada PT Freeport Indonesia melalui dana kemitraan yang dikelola YPMAK yang telah membantu saya,” tutur Yuliana.
Senada dengan Yuliana, Yasinta Wayawiyuta dari Unurpa Mart melihat bantuan ini sebagai peluang untuk mempraktikkan manajemen keuangan yang telah dipelajarinya dalam pelatihan. Ia optimistis kehadiran kios ini akan menjadi sumber pendapatan tetap bagi keluarganya.

Langkah yang diambil YPMAK selaras dengan tantangan ekonomi makro di Kabupaten Mimika. Berdasarkan data Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Mimika tahun 2025, diperkirakan terdapat sekitar 18.000 UMKM di wilayah tersebut. Namun, tantangannya terletak pada pembinaan dan ketepatan sasaran kebijakan.
Pada awal 2024, tercatat baru sekitar 1.850 pelaku UMKM yang masuk dalam radar pembinaan intensif pemerintah kabupaten. Data ini menjadi krusial bagi pemerintah dan mitra seperti YPMAK untuk merancang intervensi ekonomi yang mampu menyentuh akar rumput.
Kehadiran kios-kios binaan YPMAK di kawasan seperti SP 12 hingga Koperapoka diharapkan menjadi stimulus bagi ekosistem UMKM lokal. Program ini membuktikan bahwa sinergi antara dana kemitraan dengan pendampingan teknis yang tepat dapat menjadi kunci bagi akselerasi kesejahteraan masyarakat adat Amungme dan Kamoro di tanah leluhur mereka. (yeri)







