Beranda MIMIKA Mimika Terbuka Untuk Investasi yang Bertanggungjawab

Mimika Terbuka Untuk Investasi yang Bertanggungjawab

60
0
BERBAGI
Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong saat memberikan sambutan. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika).

Investasi yang kita harapkan bukan hanya membawa modal, tetapi juga menghadirkan alih teknologi, meningkatkan kapasitas tenaga kerja lokal, membuka lapangan kerja, menggerakkan UMKM, serta memberi dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat, khususnya masyarakat asli Papua.

TIMIKA (4/6/26), NGK –  Ruang pertemuan Hotel Swissbelin Timika, Rabu (4/6/2026)  pagi  terasa berbeda.

Perwakilan lembaga keuangan dari Provinsi Papua, Papua Pegunungan, Papua Tengah dan Papua Selatan  berkumpul dalam kegiatan Papua Economic and Investment Forum (PEIF) ke-2 Tahun 2026 yang digagas Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Papua. Di sini, tersemat satu pesan utama Tanah Papua bukan sekadar tanah kaya, melainkan rumah bagi mimpi besar yang layak diinvestasikan.

Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong bersama Staff Ahli Gubernur Papua Tengah, Herman Kayame. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika)

Hadir Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong, didampingi Staf Ahli Bidang Hukum, Politik dan Pemerintahan, Ir. Yohanna Paliling, M.Si, Asisten II Setda Mimika, Santi Sondang, S.IP, M.Si  Bidang Perekonomian dan Pembangunan, serta Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP) Mimika, Marselino Mameyau dan Kepala Bagian Perekonomian dan Pembangunan Setda Mimika, Altianua Uamang. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa pembangunan ekonomi di tanah ini bukan lagi urusan satu pihak saja, melainkan tanggung jawab bersama.

Mimika Terbuka untuk Investasi yang Bertanggung Jawab

Sebagai tuan rumah kegiatan, Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong, menyampaikan komitmen daerahnya dalam mendukung setiap langkah kemajuan ekonomi yang berkeadilan.

“Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas kasih, anugerah, dan penyertaan-Nya kita dapat hadir bersama pada kegiatan Papua Economic and Investment Forum (PEIF) ke-2 Tahun 2026 ini,” ujar Emanuel membuka sambutannya pada Kamis (4/6/2026).

Atas nama Pemerintah Kabupaten Mimika, ia menyampaikan selamat datang dan terima kasih kepada Bank Indonesia yang telah menginisiasi forum ini, serta memilih Mimika sebagai pusat lokus pelaksanaan kegiatan.

Staff Ahli Gubernur Papua Tengah, Herman Kayame membuka kegiatan dengan pemukulan tifa. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika)

“Bagi kami, kepercayaan ini merupakan kehormatan sekaligus peluang penting untuk memperkenalkan potensi daerah, memperkuat jejaring kerja sama, serta mendorong percepatan pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di Papua, khususnya di Kabupaten Mimika,” tegasnya.

Emanuel menekankan dunia bergerak sangat cepat, namun di tengah dinamika dan tantangan ekonomi global, Papua memiliki peluang besar menjadi motor penggerak ekonomi baru di Indonesia Timur.

Wakil Bupati mengatakan, sebagai daerah strategis di Papua Tengah, Mimika memiliki keunggulan berupa kekayaan alam, posisi geografis penting, infrastruktur pelabuhan dan bandar udara yang terus berkembang, serta peluang investasi luas mulai dari pertambangan, perikanan, pertanian, pariwisata, perdagangan, jasa, hingga pengembangan UMKM.

Tema forum kali ini, menurutnya, sangat relevan karena Mimika tidak bisa lagi hanya bergantung pada pengelolaan sumber daya alam yang bersifat ekstraktif dan konvensional.

Peserta kegiatan. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika).

“Kita harus bergeser maju menuju hilirisasi, penguatan sektor UMKM, pengembangan pariwisata, peningkatan kualitas SDM, serta penciptaan iklim investasi yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan,” ujar Emanuel.

Pemerintah Kabupaten Mimika, lanjutnya, membuka pintu selebar-lebarnya bagi investasi yang bertanggung jawab. “Investasi yang kita harapkan bukan hanya membawa modal, tetapi juga menghadirkan alih teknologi, meningkatkan kapasitas tenaga kerja lokal, membuka lapangan kerja, menggerakkan UMKM, serta memberi dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat, khususnya masyarakat asli Papua. Investasi yang baik adalah yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga menghormati nilai-nilai sosial, budaya, lingkungan, dan keberlanjutan hidup masyarakat setempat.”

Dalam sambutannya, Emanuel Kemong juga menyampaikan tiga hal penting sebagai fokus bersama dalam forum ini:

Sinergi dan Kolaborasi yang Kuat: Pembangunan ekonomi tidak bisa dilakukan pemerintah saja. Diperlukan pendekatan Pentahelix — kolaborasi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, sektor swasta/investor, akademisi, dan masyarakat adat. Dengan sinergi, setiap potensi dapat dikelola terarah, produktif, dan bermanfaat luas.

Peningkatan Kemudahan Berusaha: Pemerintah Mimika berkomitmen memperkuat reformasi birokrasi, meningkatkan kualitas pelayanan perizinan, memangkas regulasi yang menghambat, serta memberikan kepastian hukum. “Kami ingin memastikan Mimika menjadi daerah ramah investasi, terbuka kerja sama, dan memiliki tata kelola pemerintahan yang efektif,” janjinya.

Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif: Investasi harus memberi dampak langsung, berkontribusi menurunkan kemiskinan, pengangguran, dan stunting, serta mendorong pendapatan masyarakat. “Kita harus pastikan masyarakat lokal, terutama orang asli Papua, tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku utama dalam perputaran ekonomi daerah,” tegas Emanuel.

Ia berharap forum ini tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi tempat lahirnya gagasan dan komitmen nyata. “Pemerintah Kabupaten Mimika siap menjadi mitra yang terbuka, responsif, dan kolaboratif dalam mendukung setiap investasi yang memberi manfaat nyata bagi daerah dan masyarakat,” ujarnya, sembari mendoakan agar seluruh upaya ini membawa Papua menuju kemajuan, kemandirian, dan kesejahteraan.

Staff Ahli Gubernur Papua Tengah, Herman Kayame membacakan sambutan Gubernur Papua Tengah. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika).

Potensi Besar, Harapan yang Lebih Luas

Staff Ahli Gubernur Papua Tengah, Herman Kayame mewakili Gubernur Meki Nawipa mengatakan, Gubernur Meki Nawipa berhalangan hadir karena harus mendampingi Wakil Menteri Dalam Negeri dan Wakil Menteri Urusan Penduduk dan Perencanaan Pembangunan dalam peninjauan pusat pemerintahan serta program strategis nasional terkait ketahanan pangan dan gizi masyarakat.

“Beliau mohon maaf tidak bisa hadir secara fisik, namun mengirimkan salam hangat dan harapan besar agar forum ini melahirkan langkah nyata bagi kemajuan tanah ini,” ujar Herman membuka sambutan.

Dalam sambutan tertulis Gubernur Meki Nawipa yang dibacakannya, Herman mengajak seluruh hadirin menengok kekayaan yang dimiliki Papua Tengah.

“Kita punya segalanya: sumber daya alam yang melimpah, lahan pertanian yang luas, kekayaan laut yang belum tergali sepenuhnya, hutan yang menjulang, potensi energi yang besar, pariwisata yang mempesona, serta budaya dan pemuda-pemudi berbakat yang menjadi masa depan bangsa,” bunyi teks sambutan itu, bergema di seisi ruangan.

Namun, ada satu pesan penting yang disampaikan: kekayaan itu tidak akan berarti apa-apa jika hanya menjadi potensi belaka.

Foto bersama. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati Mimika)

“Segala kelebihan ini baru akan memberikan manfaat maksimal jika dibarengi investasi yang tepat, pembangunan infrastruktur yang merata, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta kerja sama lintas daerah dan lintas sektor yang kokoh,” tegas Herman, mewakili pemimpin daerah.

Forum PEIF ini, menurutnya, menjadi jembatan penting. Sebuah wadah untuk mempertemukan pemerintah, pengusaha, investor, dan seluruh pemangku kepentingan, agar saling berkenalan, berdiskusi, dan merancang langkah terbaik demi memacu pertumbuhan ekonomi yang merata. Di tengah semangat otonomi daerah yang terus bergulir, Papua Tengah bertekad tampil beda. Visi besarnya tertuang jelas mewujudkan wilayah yang adil, berdaya saing, bermartabat, harmonis, maju, dan berkelanjutan.

“Kita tidak ingin hanya dikenal sebagai daerah kaya sumber daya. Kita ingin Papua Tengah yang masyarakatnya sehat, cerdas, sejahtera, dan mampu berdiri tegak sejajar dengan daerah lain di Indonesia,” ujar Herman, mengulangi amanat Gubernur.

Lebih jauh, ia menegaskan  investasi yang masuk harus memiliki jiwa. Artinya harus membuka lapangan kerja, meningkatkan keterampilan warga asli Papua, menguatkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), mendorong ekonomi berbasis kampung, serta menjaga kelestarian alam dan nilai budaya yang menjadi jati diri masyarakat.

Di samping pesan-pesan penuh harapan, Herman juga membuka ruang diskusi dengan memaparkan tantangan nyata yang dihadapi daerah ini. Ia menyentuh dua hal utama yang menjadi perhatian pemerintah: pertumbuhan ekonomi dan stabilitas harga barang atau inflasi.

Selama ini, pertumbuhan ekonomi Papua Tengah sangat bergantung pada sektor pertambangan. “Ini satu sisi menguntungkan, tapi di sisi lain sangat rentan. Jika ada perubahan di sektor itu, pendapatan daerah dan kehidupan masyarakat pun ikut terguncang,” jelasnya.

Masalahnya, pertumbuhan ekonomi dari sektor lain masih berjalan lambat. Padahal, jika banyak investor masuk ke sektor pertanian, perikanan, atau pariwisata, maka terbukalah lapangan kerja baru.

“Banyak kerja baru berarti pendapatan masyarakat naik, dan kesejahteraan pun tercapai. Itu rumus sederhana yang sedang kita perjuangkan,” tambahnya, sembari menatap kepala dinas terkait yang duduk di barisan depan.

Tantangan kedua adalah inflasi. Harga kebutuhan pokok yang kerap bergejolak, seperti bawang merah, cabai, dan beras, menjadi musuh bersama yang harus dikendalikan. Pemerintah daerah pernah melakukan langkah subsidi kepada pedagang agar harga tetap terjangkau, namun upaya itu belum cukup.

“Ini tugas berat kita semua, terutama para pemangku kebijakan ekonomi. Menjaga stabilitas harga sama pentingnya dengan membangun jalan atau jembatan. Karena harga yang terjangkau adalah hak seluruh masyarakat Papua,” ujarnya dengan nada serius.

Meski begitu, Herman memastikan pemerintah daerah terus berupaya menciptakan iklim investasi yang aman dan nyaman. Mulai dari memperbaiki tata kelola pemerintahan, menyederhanakan perizinan, hingga memperkuat konektivitas antarwilayah. Ia pun berpesan kepada para investor yang hadir: jangan hanya melihat Papua dari sisi kekayaan alamnya saja.

“Lihatlah Papua sebagai tanah masa depan. Wilayah strategis di timur Indonesia yang siap tumbuh menjadi pusat ekonomi baru nasional yang hebat dan lestari,” ajaknya.

Di penghujung rangkaian acara, dengan suara lantang dan penuh keyakinan, Herman Kayame kembali menyampaikan amanat terakhir dari Gubernur Meki Nawipa:

“Melalui forum ini, mari lahirkan kerja sama nyata, komitmen investasi baru, dan gagasan pembangunan yang manfaatnya langsung dirasakan masyarakat. Jadikan momen ini titik tolak baru, di mana kita bersatu hati membangun Papua yang maju, damai, sejahtera, dan bermartabat.”

Dan dengan itu, secara resmi kegiatan Papua Economic and Investment Forum ke-2 Tahun 2026 dibuka. Di ruangan itu, tidak ada lagi sekadar pejabat, pengusaha, atau akademisi. Semuanya menyatu menjadi bagian dari satu mimpi besar: melihat Papua Tengah, dan seluruh tanah Papua, bangkit, tumbuh, dan membawa kesejahteraan sejati bagi setiap anak bangsa yang tinggal di atasnya.

Di Timika pagi itu, terbukti bahwa mimpi bukan lagi sekadar kata-kata. Di sana, mimpi sedang disusun rencananya, disiapkan jalannya, dan dipastikan akan terwujud. Karena di tangan bersama, Papua pasti bisa.(tob/ka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here