Beranda Freeport Di Ujung Muara Tipuka, Harapan Baru Berenang Bersama Bibit Baramundi

Di Ujung Muara Tipuka, Harapan Baru Berenang Bersama Bibit Baramundi

71
0
BERBAGI
Vice President Environmental PTFI Gesang Setyadi (kiri, bertopi) melakukan pelepasan simbolis 10.000 ikan baramundi di Muara Tipuka, Distrik Mimika Timur, Kabupaten Mimika papua Tengah pada Kamis, 28 Mei 2026. (Foto: Corcom PTFI)

TIMIKA (2/6/26), NGK – Di bawah langit cerah yang memayungi pesisir Selatan Mimika, riak air Muara Tipuka bergerak pelan menyambut kedatangan ribuan makhluk hidup baru. Suara riuh rendah warga dari lima kampung pesisir berpadu dengan desiran angin yang menyapu hutan bakau, menciptakan harmoni kehidupan yang kembali diperkuat.

Hari itu, Kamis 28 Mei 2026, bukan sekadar hari biasa. Di sana, PT Freeport Indonesia (PTFI) melepaskan 10.000 bibit ikan baramundi dan 1.000 ekor kepiting bakau ke dalam habitat aslinya — sebuah langkah nyata yang menjembatani pelestarian alam dan masa depan penghidupan masyarakat setempat.

Bibit ikan baramundi dan kepiting bakau diangkut menggunakan perahu dan dilepaskan di perairan Muara Tipuka. (Foto: Corcom PTFI)

Bagi masyarakat Kamoro yang telah hidup beriringan dengan alam pesisir selama turun-temurun, laut dan hutan bakau bukan sekadar wilayah alam. Ia adalah dapur, sumber penghasilan, dan bagian tak terpisahkan dari identitas budaya mereka. Ikan baramundi yang berdaging tebal dan kepiting bakau yang bernilai ekonomi tinggi adalah dua komoditas utama yang menjadi tumpuan kehidupan keluarga-keluarga di Nayaro, Koprapoka, Nawaripi, Ayuka, dan Tipuka. Namun, seiring berjalannya waktu, kebutuhan akan sumber daya perikanan yang terus meningkat menuntut perhatian serius agar keseimbangan alam tidak terganggu, dan ketersediaan sumber daya tetap terjaga untuk generasi mendatang.

“Program restocking ini bukan sekadar kegiatan melepas bibit ke air. Ini adalah upaya sadar untuk menjaga keberlanjutan populasi ikan dan kepiting yang menjadi nyawa ekonomi masyarakat pesisir,” ujar Gesang Setyadi, Vice President Lingkungan Hidup PTFI, di tengah acara pelepasan yang dihadiri warga dan pejabat daerah.

Langkah ini, kata dia, lahir dari kerja sama mendalam dengan Universitas Papua (UNIPA), yang melalui serangkaian survei dan penelitian, menunjukkan perlunya intervensi untuk menjaga ketersediaan sumber daya hayati di wilayah pesisir Mimika.

 

Lebih dari sekadar tanggung jawab sosial, kegiatan ini juga merupakan pemenuhan komitmen perusahaan terhadap peraturan lingkungan. Berdasarkan persetujuan teknis yang diterbitkan Kementerian Lingkungan Hidup pada 2023, PTFI memiliki kewajiban nyata untuk meningkatkan jasa ekosistem di wilayah pesisir. Dan wujudnya tidak hanya terlihat dari pelepasan bibit ikan semata.

Mewakili perwakilan Pemerintah, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Mimika Clemens Ohoilulin melakukan pelepasan simbolis 1.000 bibit kepiting bakau. (Foto: Corcom PTFI)

Di balik layar, ada kerja keras yang melibatkan masyarakat setempat secara langsung. Sebanyak 27 kontraktor lokal dari lima kampung pesisir telah dilibatkan untuk membangun struktur di muara — bangunan sederhana namun berfungsi vital untuk mengendapkan sedimen, menciptakan lingkungan yang cocok untuk pertumbuhan tanaman bakau.

Hingga kini, upaya penghijauan itu telah menghasilkan lebih dari 2.100 hektare lahan di Muara Ajkwa yang tertutup rimbun oleh tanaman bakau. Pohon-pohon itu bukan hanya penahan abrasi, tetapi juga rumah alami bagi ribuan jenis hewan air, termasuk ikan dan kepiting yang menjadi sasaran program pelestarian ini.

Kegiatan pelepasan bibit di Muara Tipuka ini sebenarnya adalah kelanjutan dari serangkaian program berkelanjutan. Tahun lalu, tepatnya pada 2025, PTFI juga telah melepas 10.000 anakan ikan baramundi dan 500 indukan kepiting bakau di Muara Ajkwa. Polanya jelas: berulang, terukur, dan berorientasi jangka panjang.

Bibit ikan baramundi didatangkan dari luar Papua dan untuk menambah populasi di perairan pesisir Mimika. (Foto: Corcom PTFI)

Clemens Ohoilulin, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Mimika, menyambut baik langkah ini dengan apresiasi tinggi. Baginya, kolaborasi antara perusahaan dan pemerintah daerah adalah kunci agar manfaat alam bisa dinikmati secara adil dan lestari. “Ini dampak yang langsung dirasakan masyarakat. Ke depan, kami ingin kerja sama ini diperluas — tidak hanya untuk baramundi dan kepiting bakau, tapi juga komoditas lain seperti ikan nila dan ikan mas. Potensinya besar, dan kami siap terus bergandengan tangan dengan PTFI,” ungkapnya.

Saat matahari mulai meninggi dan bibit-bibit itu berenang menjauh ke tengah muara, warga pulang dengan hati tenang. Mereka tahu, hari ini mereka telah menyaksikan satu babak baru: di mana kekayaan alam yang diambil dari jauh, lalu kembali disalurkan untuk merawat kehidupan di pesisir.

Di Muara Tipuka, air beriak tenang, bakau berdesir pelan, dan harapan warga setempat kini berenang bebas di antara gelombang — memastikan bahwa laut Mimika akan terus memberi, hari ini, esok, dan selamanya.

Pelaksanaan kegiatan restocking 10.000 ikan baramundi dan 1.000 kepiting bakau dilaksanakan PTFI bersama Dinas Perikanan Kabupaten Mimika, mewakili Pemerintah. (Foto: Corcom PTFI)

Sebagai perusahaan tambang mineral terkemuka yang mengelola kawasan Grasberg — salah satu wilayah dengan cadangan tembaga dan emas terbesar di dunia — PTFI memahami betul bahwa keberhasilan usaha tidak hanya diukur dari hasil galian di pegunungan, tetapi juga dari bagaimana perusahaan merawat lingkungan di sekitar wilayah operasionalnya.

Melalui pengolahan yang terintegrasi, mulai dari penambangan, pengolahan, hingga pemurnian di fasilitas Gresik, Jawa Timur, PTFI berkomitmen memberikan nilai tambah ekonomi nasional. Namun, di saat yang sama, perhatian besar tetap ditujukan pada kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya, khususnya di Mimika, Papua Tengah. (Corcom PTFI/NGK)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here