Beranda MIMIKA Kolaborasi Freeport, Pemda, dan YPMAK, Mendongkrak Masa Depan Mimika

Kolaborasi Freeport, Pemda, dan YPMAK, Mendongkrak Masa Depan Mimika

80
0
BERBAGI
Bupati Mimika, Johanes Rettob dan Presiden PT Freeport Indonesia, Tony Wenas menandatangani MoU disaksikan Wakil Bupati, Emanuel Kemong dan Claus Wamafma (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati)

JAKARTA (17/6/26), NGK – Di ruang Hotel Fairmont Jakarta, suasana penuh harap dan keyakinan menyelimuti pertemuan penting hari ini, Rabu (17/6/2026). Pemerintah Kabupaten Mimika, PT Freeport Indonesia (PT FI), dan Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) resmi menandatangani dua Nota Kesepahaman (MoU), menandai babak baru kerja sama yang tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan terpadu, terarah, dan berfokus pada kesejahteraan seluruh masyarakat Mimika.

Acara ini dihadiri langsung oleh Bupati Mimika, Johannes Rettob, Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong, Pj Sekretaris Daerah Abraham Kateyau, Presiden Direktur PT FI Tony Wenas, Direktur  Executive Vice President Sustainable Development, Claus Wamafma, Ketua  YPMAK Dr. Leonardus Tumuka, serta jajaran pimpinan perangkat daerah dan manajemen terkait.

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas memberikan sambutan. (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati)

Dalam sambutannya, Tony Wenas membuka pertemuan dengan rasa syukur, menyebut momen ini sebagai rencana baik Tuhan yang akhirnya terwujud setelah perjalanan panjang pengaturan jadwal dan penyusunan kesepakatan.

“Hubungan kita sudah sangat baik, tapi MoU ini hadir untuk meningkatkan apa yang sudah kita lakukan, melanjutkan sinergi, dan memastikan hasilnya lebih terasa bagi semua—terutama masyarakat Amungme, Kamoro, suku kerabat lain, maupun warga pendatang di Mimika,” ujar Tony.

Ia menegaskan, keberadaan PT FI dan YPMAK di Mimika adalah keistimewaan yang tidak dimiliki kabupaten lain di Papua, sehingga manfaatnya harus jauh lebih besar dan merata, bahkan bisa menjangkau wilayah tetangga di Papua Tengah hingga luar wilayah itu.

Bupati Mimika, Johanes Rettob dan Ketua YPMAK. Leonardus Tumuka menandatangani MoU disaksikan Presiden PTFI, Tony Wenas dan Sekretaris YPMAK, Kristianus Ukago (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati)

Fokus kerja sama ini jelas: pendidikan, kesehatan, ekonomi berbasis kampung dan pembangunan infrastruktur. Tony juga menyampaikan data kontribusi nyata perusahaan. Pada tahun lalu, PT FI menyalurkan total 6 triliun rupiah ke Pemkab Mimika, terdiri dari 4,8 triliun rupiah dari PNBP, pajak daerah, dan royalti, ditambah 1,2 triliun rupiah dari bagi hasil keuntungan bersih yang baru diterima tahun 2026. Meski saat ini produksi baru mencapai 50 persen dari kapasitas normal pasca longsoran material basah September lalu—dengan rencana peningkatan bertahap menjadi 65 persen di semester II 2026, 75 persen di semester I 2027, dan kembali 100 persen di akhir tahun depan—kontribusi tetap terjamin. Tahun ini diperkirakan mencapai 4 triliun rupiah, naik menjadi 5 triliun di 2027, 7 triliun di 2028, dan 7,5 triliun di 2029 ke atas.

“Kami juga berharap perpanjangan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) dapat terwujud, agar manfaat ini tidak berhenti di 2041, tapi berlanjut sepanjang umur tambang—semata-mata untuk kepentingan pemerintah, masyarakat, dan bangsa Indonesia,” tambah Tony.

Foto bersama (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati)

Sementara itu, Bupati Mimika Johannes Rettob menyambut kesepakatan ini dengan antusiasme tinggi, namun juga membawa catatan penting agar kerja sama ini tidak sekadar seremonial. Ia mengakui selama ini hubungan baik sudah terjalin, namun pelaksanaannya masih parsial, tanpa pedoman jelas, bahkan sering terjadi tumpang tindih program.

Foto bersama usai penandatanangan MoU (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati)

“Kita punya sumber daya besar—ada Freeport, ada YPMAK, ada APBD, ada APBN. Tapi kalau jalan sendiri-sendiri, hasilnya tidak maksimal. Contoh sederhana: penurunan stunting, pengendalian malaria, hingga bantuan pendidikan—semua pihak punya program, tapi tidak saling terhubung. Akhirnya ada penerima bantuan ganda, ada yang terlewat, dan dana besar tidak terpakai seefisien mungkin,” tegas Johannes.

Rettob menyoroti ironi besar di Mimika: daerah ini merupakan penyumbang kontribusi terbesar bagi negara, namun tercatat memiliki pertumbuhan ekonomi terendah di Indonesia. Penyebabnya, ketergantungan berlebih pada sektor tambang, sementara sektor lain belum tumbuh. Belum lagi kendala dana transfer daerah yang terpotong besar—tahun ini saja diperkirakan ada kekurangan 1,3 triliun rupiah dari Dana Bagi Hasil (DBH). Padahal, APBD Mimika hanya sekitar 5 triliun rupiah, jauh lebih kecil dibanding kontribusi PT FI yang mencapai 6 triliun rupiah setahun lalu.

Bupati Mimika, Johannes Rettob ketika memberikan sambutan (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati)

Di sisi lain, Bupati Mimika, Johanes Rettob, menyambut langkah ini dengan antusiasme tinggi. Rettob blak-blakan mengenai tantangan pembangunan selama ini yang masih bersifat parsial dan tumpang tindih. “Kita tidak bisa jalan sendiri-sendiri lagi. Hari ini kita mulai kolaborasi sungguh-sungguh. Kita ‘keroyok’ masalah pembangunan bersama-sama,” tegasnya.

Foto bersama (Foto: Tim Multi Media Wakil Bupati)

Bupati menyoroti perlunya integrasi data dan aksi nyata, mulai dari penanganan stunting hingga beasiswa pendidikan agar tidak terjadi duplikasi program. Ia pun menantang jajaran OPD-nya untuk meninggalkan cara lama dan mulai berpikir kreatif, seiring dengan target pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Mimika yang saat ini masih terkendala ketergantungan pada sektor pertambangan.

“Uang kita banyak, tapi outputnya belum terlihat maksimal. Mulai hari ini, kita ubah cara kerja. Pemerintah akan menjadi pemimpin penyusunan cetak biru pembangunan, agar setiap program dari Pemkab, PT FI, dan YPMAK masuk ke dalam rencana yang sama, tidak tumpang tindih. Saya minta kolaborasi nyata, mulai dari riset kesehatan dasar, pengaturan beasiswa yang terukur dan diawasi, hingga pengembangan ekonomi lokal dan BUMD agar tidak lagi bergantung hanya pada tambang,” ucap Johannes dengan tegas.

Ketua YPMAK, Dr. Leonardus Tumuka, yang sejak lama mendorong kesepakatan ini, menyambut baik langkah ini. Ia berjanji pihaknya akan berperan aktif menyelaraskan program pemberdayaan masyarakat dengan kebutuhan daerah, agar setiap bantuan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi tepat sasaran dan berdampak jangka panjang.

Dalam penutupannya, Bupati Johannes menegaskan satu hal: “MoU ini tidak boleh tidur di laci. Ini adalah titik balik. Kita ubah kecepatan dari 40 PK menjadi 200 PK. Target kita jelas: Mimika yang cerdas, sehat, aman, dan sejahtera. Momen ini kita jadikan bukti bahwa dengan kolaborasi, sumber daya besar di tanah ini bisa mengangkat derajat masyarakat Mimika setinggi-tingginya.”

Hari ini, 17 Juni 2026, bukan sekadar tanggal di kalender. Ini adalah hari di mana tiga kekuatan besar di Mimika menyatukan langkah, berjanji bekerja bersama, dan meletakkan dasar yang kokoh untuk masa depan yang lebih cerah—bukan hanya untuk satu pihak, tapi untuk setiap warga yang hidup dan berkarya di tanah Amungme dan Kamoro. (tob/ka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here