Beranda Nusantara Di Balik Awan Papua, Ada Nyawa yang Terancam

Di Balik Awan Papua, Ada Nyawa yang Terancam

62
0
BERBAGI
Theo Hesegem, Direktur Eksekutif, Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP) -- Foto: YKKMP

Prabowo Diminta Segera Lakukan Evaluasi Terbuka

WAMENA (6/7/26), NGK – Langit yang seharusnya menjadi jalur harapan bagi ribuan warga di pedalaman Papua, kini berubah menjadi lorong bahaya yang penuh ketakutan.

Di atas gunung dan lembah yang menjulang, suara mesin pesawat perintis bukan lagi sekadar tanda kedatangan bantuan, melainkan juga pengingat nyata betapa rentannya kehidupan manusia di tengah pusaran konflik yang tak kunjung usai.

Selama puluhan tahun, siklus kekerasan di tanah ini terus berputar tanpa henti, meninggalkan jejak luka yang mendalam bukan hanya bagi mereka yang terlibat langsung dalam pertempuran, tetapi terutama bagi mereka yang tak bersalah: rakyat sipil.

Di antara mereka yang paling merasakan dampak pahit itu adalah para penerbang sipil—pahlawan tanpa seragam yang menjadikan udara sebagai jalan satu-satunya untuk menghubungkan dunia luar dengan daerah-daerah terpencil yang terputus dari akses darat dan laut.

Merekalah yang mengangkut obat-obatan untuk orang sakit, makanan bagi keluarga yang kekurangan, guru yang mendidik anak-anak, dan tenaga kesehatan yang menyelamatkan nyawa. Namun, catatan hingga bulan Juli 2026 mencatat kenyataan yang memilukan: sedikitnya empat penerbang telah gugur dalam insiden yang berkaitan dengan konflik bersenjata, dan satu orang lainnya pernah dirampas kebebasannya sebelum akhirnya dibebaskan.

Kejadian-kejadian ini membuktikan bahwa konflik tak hanya memakan korban dari dua pihak yang bertikai, tetapi juga meruntuhkan jembatan kehidupan yang sangat dibutuhkan masyarakat.

Kebijakan yang Perlu Diuji Ulang

Melihat kenyataan ini, Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP) melalui Direktur Eksekutifnya, Theo Hesegem, menyampaikan seruan tegas sekaligus keprihatinan mendalam.

Dalam pernyataan resminya di Wamena pada Senin (6/7/2026), organisasi ini menegaskan bahwa pendekatan keamanan yang diterapkan selama ini belum membuahkan hasil damai. Sebaliknya, kekerasan terus meluas, warga terus mengungsi, trauma melingkar dari generasi ke generasi, dan pelayanan dasar semakin terganggu.

“Sudah saatnya langkah berani diambil,” ujar Theo Hesegem. “Kami mendesak Presiden Republik Indonesia untuk segera melakukan evaluasi terbuka, menyeluruh, dan independen terhadap seluruh kebijakan keamanan serta penempatan pasukan di wilayah ini. Kita harus bertanya jujur: apakah jalan yang ditempuh saat ini benar-benar melindungi rakyat, atau malah memperpanjang penderitaan?”

Seruan ini bukan tanpa dasar hukum yang kokoh. YKKMP menggarisbawahi bahwa perlindungan terhadap warga sipil adalah kewajiban mutlak, baik berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945, Undang-Undang Hak Asasi Manusia, maupun Konvensi Jenewa yang telah disahkan Indonesia.

Dalam hukum humaniter internasional, setiap warga sipil—termasuk penerbang yang melaksanakan misi kemanusiaan—harus dijauhkan dari sasaran serangan selama tidak ikut serta langsung dalam pertempuran.

Menyerang mereka sama artinya dengan menutup akses bantuan hidup bagi ribuan jiwa yang menanti harapan.

Jalan Damai sebagai Satu-Satunya Solusi

Dalam pandangan YKKMP, kekerasan tak akan pernah melahirkan perdamaian yang abadi. Oleh karena itu, organisasi ini menyampaikan serangkaian rekomendasi yang tegas namun membangun. Kepada aparat keamanan, diminta agar setiap operasi senantiasa berlandaskan hukum dan hak asasi manusia.

Kepada pihak bersenjata, diimbau untuk menghormati aturan kemanusiaan dan tidak menjadikan warga sipil sebagai sasaran. Kepada lembaga pengawas seperti DPR RI dan Komnas HAM, diminta untuk menjalankan peranannya secara ketat dan transparan. Bahkan dukungan komunitas internasional pun diharapkan, dalam batas penghormatan terhadap kedaulatan negara, untuk turut mendorong situasi yang lebih manusiawi.

Inti dari seluruh tuntutan ini adalah satu tujuan mulia: menghentikan aliran darah, membuka ruang dialog yang setara dan bermartabat, serta memulihkan kehidupan masyarakat agar dapat tumbuh dalam ketenangan.

“Langit Papua harus kembali menjadi jalur harapan, bukan jalur kematian,” tegas Theo Hesegem dalam penutup pernyataannya. “Tidak boleh ada lagi nyawa yang melayang saat sedang berusaha menolong sesama. Perdamaian yang berkeadilan hanya akan tumbuh jika kita semua sepakat menempatkan keselamatan dan martabat manusia sebagai prioritas tertinggi.”

Demikianlah, dari langit yang sunyi hingga lembah yang terdalam, seruan ini menggema: cukup sudah penderitaannya. Saatnya memilih jalan damai. (Krist A)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here