Beranda PAPUA TENGAH Tinggi Biaya Logistik, Kunci Nilai Jual Produk Papua Tengah

Tinggi Biaya Logistik, Kunci Nilai Jual Produk Papua Tengah

62
0
BERBAGI
Meki F. Nawipa, Gubernur Papua Tengah (Foto: Humas Pemprov Papua Tengah)

NABIRE (26 /9/26), NGK — Di tengah hamparan kekayaan alam yang melimpah di tanah Papua Tengah, tersembunyi sebuah tantangan berat yang tak boleh diabaikan. Tantangan itu adalah,  tingginya biaya pengiriman yang memisahkan potensi dari pasar yang menanti jauh di sana. Namun, bukan berarti harapan tertutup rapat. Justru di sinilah letak seni mengelola hasil bumi agar setiap komoditas yang berangkat tetap memancarkan nilai saat tiba di tangan pembeli.

Saat membuka Rapat Pimpinan Provinsi (Rapimprov) II Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Papua Tengah di Kabupaten Nabire, Kamis (24/9/2026), Gubernur Meki F. Nawipa, SH menegaskan hal ini dengan tegas.

Menurut Gubernur, biaya logistik memang tinggi, namun ia dapat diimbangi sepenuhnya melalui pengelolaan produk yang cermat serta strategi pemasaran yang tepat sasaran agar komoditas tetap memiliki nilai jual yang kokoh ketika tiba di pasar tujuan,” tegas Gubernur

“Papua Tengah menyimpan potensi besar di sektor perikanan maupun hasil bumi lainnya. Namun kita berhadapan dengan tantangan nyata: distribusi yang jauh, kualitas yang harus dijaga, pengemasan yang memadai, dan jangkauan pasar yang perlu diperluas,” ungkap Gubernur.

Sebagai gambaran nyata, pengiriman kepiting dari perairan Papua Tengah menuju pasar Pulau Jawa memikul beban ongkos angkut yang tidak ringan. Jika produk tiba dalam kondisi tidak segar atau tampilannya kurang meyakinkan, harga yang diterima akan turun drastic, dan biaya pengiriman yang tinggi menjadi sia-sia.

“Logistik memang mahal jika dilihat sendirian. Tetapi jika kita belajar cara memasarkan dengan baik, dan memastikan produk tiba dalam kualitas terbaik, maka nilai yang didapat akan menutupi segala biaya itu,” tegasnya.

Menyadari hal ini, Pemerintah Provinsi Papua Tengah telah menyusun langkah nyata: pembangunan pelabuhan nelayan dan gudang pendingin (cold storage) di Nabire, guna menjaga kesegaran hasil laut sebelum dikirim ke berbagai daerah.

Bukan hanya perikanan, sektor peternakan pun disiapkan untuk tumbuh. Rencana pembangunan fasilitas peternakan ayam di sejumlah wilayah digarap, dengan semangat kerja sama antara pengusaha, Kadin, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan. “Bersatu dikelola secara profesional, usaha ini pasti berjalan. Kita membangun bersama,” ujar Gubernur.

Lebih jauh dikatakan, sentuhan kreativitas dan inovasi menjadi kunci untuk mengangkat derajat produk lokal. Kopi dari Paniai, Nabire, hingga Intan Jaya bukan sekadar biji sangrai, ia dapat menjadi produk berharga tinggi jika dibalut kemasan yang menarik, diberi identitas yang bangga, dan dipasarkan dengan cerita yang menyentuh hati.

“Bukan hanya isinya yang menentukan harga. Kemasannya, ceritanya, kebanggaannya. Itulah yang membuat orang rela membayar lebih. Kita harus kreatif,” ucap Gubernur Nawipa.

Ia pun mengingatkan para pelaku usaha untuk melangkah dengan kokoh, bertahap, dan berkelanjutan. Pertumbuhan yang perlahan namun stabil jauh lebih berharga dibandingkan kebesaran sesaat yang mudah runtuh. Di Papua Tengah, masa depan ekonomi bukanlah impian — ia sedang dibangun bersama, dengan produk yang terjaga, strategi yang cerdas, dan semangat yang tak pernah surut. (ka)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here