Beranda MIMIKA Nawipa, Rettob dan Kemong Punya Hati untuk Membangun dari Kampung

Nawipa, Rettob dan Kemong Punya Hati untuk Membangun dari Kampung

460
0
BERBAGI
Dari Kiri ke Kanan : Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa, Bupati Mimika Johannes Rettob dan Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong.

JAYAPURA (11/11/25), NGK – Gebrakan Bupati Mimika, Johannes Rettob dan Wakil Bupati, Emanuel Kemong untuk turun kampung melalui kunjungan kerja, mendapat sambutan yang luar biasa dari Mantan Gubernur Papua, Barnabas Suebu.

Mantan Gubernur Papua, Barnabas Suebu.

Apalagi, program prioritas Rettob dan Kemong itu, Membangun dari Kampung ke Kota.

“Keberpihakan dan cinta terhadap rakyat di kampung-kampung adalah sikap kepemimpinan yang baik, karena dari sikap ini, dapat melahirkan strategi pembangunan daerah yang memberikan kepercayaan dan tanggungjawab kepada orang kampung untuk membangun dirinya,” ujar Bas, sapaan dari Barnabas Suebu ketika berdiskusi dengan NGK di salah satu Hotel di Jayapura, Senin (10/11/2025).

 

Bupati Mimika,Johannes Rettob dan Wakil Bupati, Emanuel Kemong ketika turun kampung melakukan kunjungam kerja untuk mendengar jeritan rakyat di kampung-kampung.

Menurut Bas Suebu, di Provinsi Papua Tengah, ada beberapa pimpinan, seperti Meki Nawipa (Gubernur Papua Tengah), Johannes Rettob (Bupati Mimika), dan Emanuel Kemong (Wakil Bupati Mimika) adalah contoh dari pimpinan yang punya hati untuk membangun dari kampung.

Rakyat harus dihargai dan mereka yang membutuhkan perhatian dari pemerintah dalam segala aspek pembangunan.

Bas Suebu mengatakan, membangun dari kampung ke kota itu, tujuannya hanya satu, yaitu supaya rakyat di negeri ini harus dihargai dan dihormati. Tiga tahun lalu, ketika Respek (Rencana Strategi Pembangunan Kampung) belum dimulai, saya sebagai pemimpin di tanah ini, melihat ada sesuatu yang tidak beres. Ada yang salah. Energi kita habis untuk konflik. Energi kita habis untuk demo. Kita mengeluh dan menangisi diri sendiri.

Sementara itu, ada paradok yaitu di satu sisi, kita kaya, tetapi rakyat tetap miskin di atas kekayataan itu. Di sisi lain, dunia birokrasi berpesta pora dengan proyek-proyek, sementara rakyat di kampung-kampung tetap miskin dan tergolong yang termiskin di atas muka bumi ini.

Selalu mengandalkan Tuhan. Dalam menjalankan tugas pelayanan, bupati dan wakil bupati tak lupa meluangkan waktu untuk beribadah bersama masyarakat di kampung-kampung.

“Jadi kalau ada gubernur atau bupati dan wakil bupati yang memulai membangun dari kampung ke kota, berarti mereka sudah memulai menghargai rakyat yang selama ini terkungkung dalam kemiskinan di atas tanahnya yang kaya,” ungkap Barnabas Sebu.

Menurut Suebu, para pemimpin di Tanah Papua harus merubah cara pikirnya. “Kita harus rubah filosofi kita. Kita harus rubah strategi kita untuk membangun bangsa ini, membangun Papua ini. Dari pengalaman yang saya alami dalam pemerintahan, di sini di Papua, di tingkat nasional dan di luar negeri, lalu saya mengambil keputusan untuk kita mulai membangun dari kampung,” kata Bas Suebu.

Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong dan Dandim 1710 Mimika, Letkol Inf M Slamet Wijaya turun kampung.

Mantan Gubernur Papua itu memberikan contoh. Pada waktu dia kunjungi 3000 kampung di seluruh provinsi ini, dia datangi satu demi satu dan bertemu langsung dengan aparat pemerintahan seperti bupati, kepala distrik, lalu dia datang ke kampung-kampung. “Kita dengar rakyat berbicara, kita membawa hati dan perasaan kita, merasakan apa yang rakyat rasakan. Dengan hati yang mengasihi dan melayani rakyat. Sejak itu, saya serukan kepada seluruh rakyat di tanah ini, mari kita mulai dari kampung, mari kita mulai dari kekurangan kita, kemiskinan kita, dari kekurangan pengetahuan kita, dari keterbatasan kita, kita harus mulai dari kampung,” ujar Barnabas.

Masyarakat di Potowaiburu ketika menyambut Bupati Mimika Johannes Rettob dan Wakil Bupati Emanuel Kemong,

Mengapa, mulai dari kampung? Bas Suebu menjelaskan, ada sesuatu dari pembangunan nasional yang kita abaikan dan dilupakan dari keseluruhan strategi pembangunan nasional, yaitu bagian dari rakyat yang dimana rakyat sendiri harus membangun dirinya. Bagian dari uang negara, kita berikan kepada rakyat dan rakyat sendiri membangun dirinya, dan itu yang dilupakan.

“Ketika suatu negara membagi uang negara habis untuk proyek dan rakyat hanya tinggal menonton, maka negara itu tidak akan pernah keluar dari kungkungan kemiskinan. Rakyat di kampung-kampung tidak bisa keluar dari kungkungan kemiskinan. Uang dari provinsi atau uang otonomi khusus dibagi habis dalam bentuk proyek. Ini strategi yang salah. Oleh sebab itu, strategi pembangunan kita rubah. Rakyat harus menjadi nomor satu dan proyek menjadi nomor dua atau nomor keseratus,” kata Suebu.

Dikatakan juga, pembangunan dimanapun, harus mulai dari diri manusianya dan berakhir untuk manusianya.

Johannes Rettob dan Emanuel menunjukan keberpihakan dan cinta terhadap rakyat di kampung-kampung sehingga kedatangannya disambut dengan suka ria.

“Pembangunan harus bermula dari rakyat dan berakhir untuk rakyat. Kita bangun dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Ini yang dilupakan. Untuk itu OPD, harus memberi dukungan kepada upaya rakyat untuk membangun dirinya. Kita jangan sibuk dengan proyek, tapi kita harus berpihak kepada rakyat dan menghargai rakyat. Kita harus berpihak kepada rakyat, karena rakyat miskin dan tidak berdaya untuk menolong dirinya sendiri, maka kita harus menolongnya,” ujar Bas Suebu.
Papua ini satu, yang membedakan Papua saat ini hanyalah pemekaran menjadi beberapa provinsi. Tapi pada hakekatnya Papua itu satu.

“Orang Papua itu jelas hitam kulit, keriting rambut. Jadi sesama anak Papua jangan berkelahi, tetap bergandengan tangan membangun Papua untuk lebih baik ke depan,” kata Barnabas Suebu pada suatu kesempatan beberapa waktu lalu.

Mantan Gubernur Papua yang juga politisi senior itu mengingatkan sesama anak Papua jangan berkelahi sebab perkelahian diantara sesama anak Papua hanya akan menguntungkan orang lain. Kalau ada masalah atau beda pendapat, kata Bernabas Suebu, duduk bersama dan bicarakan mencari solusi.

Wawipa, Rettob dan Kemong punya hati untuk membangun dari kampung ke kota.

Papua hari ini butuh pemimpin pemimpin yang pintar dan cerdas. Menurut Kaka Bas, sapaan akrabnya, seorang pemimpin pintar saja tidak cukup tapi harus juga cerdas agar bisa melayani masyarakat dengan hati serta menggunakan kepintaran dan kecerdasan yang dimiliki.

Bernabas mengapresiasi Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa yang dimata Barnabas, sosok Meki Nawipa tergolong pintar dan cerdas serta benar benar mencintai rakyatnya yang dia layani.

Sikap rendah hati yang dimiliki Meki Nawipa termasuk kemampuan merangkul dan berkomunikasi dengan berbagai pihak tanpa membeda bedakan latar belakang seseorang

Menurut Bas Suebu, sikap Meki Nawipa yang sering merangkul para bupati dan wakil bupati di Papua Tengah untuk berkumpul dan berdialog, baik formal maupun informal juga diapresiasi oleh Barnabas Suebu.

“Jarang ada kepala daerah setingkat gubernur melakukan hal seperti dilakukan Meki, walaupun ada kesibukan tapi di tengah kesibukannya dia masih meluangkan waktu khusus untuk mengundang para bupatinya hadir bersama sama sekadar untuk berdiskusi,” ujar Bas Suebu.

Salah satu pesan moral Meki Nawipa yang menggugah hati kecil Barnabas Suebu adalah ketika Meki dalam berbagai kesempatan mengingatkan dan menasehati para bupati dengan mengatakan,”Sekarang ini tidak ada lagi orang tua-tua. Jadi para bupati dan wakil bupati yang ada saat ini adalah orang tua buat masyarakat. Kita-kita ini yang sekarang menjadi orang tua,” kata Meki dalam berbagai kesempatan.
Penyampaian Meki itu membuat Barnabas Suebu terharu. (tob/ka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here