TIMIKA (14/3/26), NGK – SOROT matanya tenang. cerita-nya kontras dengan riuh rendah konflik sosial yang kerap mewarnai Mimika. Di balik ketenangannya, sosok Yeremias Isak Imbiri, menyembunyikan lintasan sejarah panjang.
Ia merupakan perpaduan antara idealisme seorang journalist yang terlatih mencium fakta dengan pragmatisme seorang manajer yang harus mengurai benang birokrasi.
Akhir 2024 lalu, pria yang akrab dengan gelombang perubahan ini, kembali ke “rumah” lamanya, Kepala Devisi Humas & Komunikasi YPMAK (Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro) institusi pengelola dana Kemitraan PT Freeport Indonesia.
Posisi ini, bukan kursi empuk, disana dibutuhkan kejernihan membaca situasi, keluwesan berdiplomasi dan telinga yang peka pada denyut perubahan masyarakat suku Amungme dan suku Kamoro di Mimika.
Bagi Yeremias, ini bukan sekadar pekerjaan kantor biasa, ini adalah arena menjaga sebuah cerita agar tidak hilang ditelan waktu.

Yeremias adalah produk dari budaya Papua yang majemuk, lahir di Puskesmas Kaokanao, Mimika, pada Minggu, 13 Maret 1977, berdarah suku Waropen dari ayahnya alm. Yohanes Imbiri, Waropen adalah salah satu suku pesisir utara Papua, yang terkenal dengan tradisi merantau—sementara ibunya Maria Saloma Iri, perempuan suku Kamoro/Mimika, asal Kampung Wakia, Distrik Mimika Barat Tengah, Kabupaten Mimika.
Ia tumbuh di tempat, di mana perubahan bergerak lebih cepat daripada kesiapan manusianya, Pendidikan dasar ditempuh di SD Inpres Uta II (1983–1989) berlanjut ditempat yang sama, SMP Negeri Mimika Barat, di Uta, Distrik Mimika Barat Tengah. Masa remaja dihabiskan di Kota Pala, Fakfak, sekarang masuk Provinsi Papua Barat, menamatkan SMA YPK Fakfak (1991–1994) sebelum akhirnya melabuhkan pencarian intelektual strata satu, di Jurusan Ekonomi Studi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Cenderawasih, Jayapura, hingga lulus dan diwisuda 1998.
Perpaduan disiplin ilmu ekonomi, pemahaman budaya dan geografi Papua inilah yang kelak membentuk perspektif komunikasinya yang unik : baginya, data statistik harus selalu berpihak pada manusia.
Jauh sebelum melangkah ke koridor lembaga pengelola Dana Kemitraan PT Freeport Indonesia ini, lebih awal Yeremias ditempa sebagai journalist, pada 1997, saat Timika menjadi pusat tensi sosial dan migrasi ekonomi, ia terjun menjadi wartawan haria Koran Cenderawasih Pos (Grup Jawa Pos) di Jayapura. Tiga tahun kemudian, bergabung dengan Koran Harian Radar Timika, hingga awal 2003.
Profesi itulah, kemudiaan memberinya pelajaran fundamental, yang tidak diajarkan di bangku kuliah yaitu kemampuan membaca konflik dan mendengar suara lamat-lamat, yang kerap terbaikan.
“Kalau di lapangan, bagi saya, manusia selalu lebih penting dari beritanya” ujarnya, kalimat itu menjadi etos kerja, yang dia bawa sampai sekarang.
Titik balik kariernya terjadi pada 19 Februari 2003, ketika Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) mulai berkiprah di Mimika, Yeremias dipanggil untuk menjabat Kepala Biro Humas & Komunikasi LPMAK.
Di masa-masa awal, ia tidak berjalan sendiri, ia mengaku ditempa pendahulunya, menerima tugas tambahan sebagai Sekretaris non-anggota Bamus (Badan Musyawarah) dan Badan Pengurus (BP) LPMAK (2003–2005) ia mendapat bimbingan langsung dari Drs. Auguts Kafiar, MA, mantan Rektor Universitas Negeri Cenderawasih Jayapura, yang kala itu menjadi anggota Bamus LPMAK perwakilan PT Freeport Indonesia.

“Saya belajar banyak dari almarhum Bapak Auguts Kafiar, juga almarhum Bapak John Nakiaya, Sekretaris Eksekutif LPMAK periode 2003-2009, kedua almarhum inilah guru saya,” kenang Yeremias dengan nada hormat.
Di bawah tangan-nya, Humas tak sekadar menjadi corong, bersama almahrum John Nakiaya—pada 2005, Yeremias membidani lahir-nya “majalah internal” LPMAK, Buletin LAndAS. Mengelola dan bertanggung jawab atas media ini, yang kemudian menjadi corong informasi LPMAK, bertahan hingga 2019, berakhir seiring dengan bubarnya LPMAK.
Di 2008, bersama mendiang John Nakiaya dan Thobias Maturbongs, Yeremias mengkonsepkan dan pendirian Sekolah Sepak Bola (SSB) Kaokanao, sekaligus bertanggung jawab mengelolanya, itu adalah terobosan, diresmikan oleh Penjabat Bupati Mimika Athanasius Allo Rafra, SH. SSB ini telah menjadi ikon pada massanya, menjadi sekolah sepak bola pertama di Kabupaten Mimika. Tokoh-tokoh sepak bola nasional diundang hadir dalam moment pembukaan di Kaokanao, seperti Rully Nere, Risdianto, Tinus Heipon, hingga alm.Fred Pessy Imbiri (kelak merangkap sebagai pelatih kepala) turut hadir meresmikan. Meski kelak SSB itu tutup, tapi, ia telah memantik api, memicu lahirnya SSB-SSB sejenis, yang kini menjamur di kota Timika.
Tak berhenti di lapangan hijau, pada 2009, Yeremias bergerak ke ranah frekuensi, bersama almarhum John Nakiaya, Drs.David Alex Siahanenia, MA dan Thobias Maturbongs, mereka merancang Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Radio Publik Mimika (RPM) sekaligus bertanggungg jawab sebagai pengelola.
Tak main-main, Yeremias menyusun sendiri draf Peraturan Daerah (Perda) radio, bersama sahabat-sahabatnya, mengawal draf Perda hingga masuk di Komisi I dan Badan Legislasi DPRD Mimika, serta menyerahkan sendiri kepada Subdinas Komunikasi dan informasi, Dinas Perhubungan Kabupaten Mimika kala itu serta Bagian Hukum Setda Mimika, hingga akhirnya palu sidang paripurna DPRD Mimika mengetuk sah, Perda Nomor 10 Tahun 2012 tentang Lembaga Penyiaran Publik Lokal, Radio Publik Mimika.
Radio, terus mengudara hingga sekarang, bahkan, kini diambil alih Pemerintah Kabupaten Mimika seperti termaktub pada Perda tersebut, kini radio itu, menjadi warisan abadi dari tangan dingin seorang komunikator.
Organisasi terus berubah, Agustus 2017, Yeremias digeser menjadi Kepala Biro HRD/SDM LPMAK. Tiga tahun kemudian, LPMAK dibubarkan, berganti nama menjadi YPMAK. Yeremias tidak menonton perubahan itu. Ia bertindak sebagai pelaku, menjadi anggota “Tim #5″—Tim Pengkajian perubahan LPMAK menjadi YPMAK, bersama beberapa sahabatnya, Abraham Timang, Kristianus Ukago, Samuel Rorimpandey, Eus Berkasa yang dibantu Yanto Tumpia dan Petrus Pugiye sebagai administrator, Tim ini merumuskan transformasi krusial LPMAK menjadi YPMAK sejak Agustus 2018 hingga 18 Desember 2019, YPMAK akhirnya resmi diakui secara hukum oleh Direktorat Administrasi Hukum Umum, Kementerian Hukum RI.
Masa transisi 2020 adalah masa ketidakpastian, Januari hingga Maret 2020, Yeremias ditunjuk sebagai anggota Tim Caretaker LPMAK, menangani bidang hubungan Industrial dan perburuhan. Ketika YPMAK resmi beroperasi penuh pada April 2020, ia dipercaya memegang mandat sebagai Kepala Divisi HRD/SDM hingga akhir 2024.
Di awal YPMAK, Yeremias bertugas membenahi sistem internal dan transparansi institusi baru tersebut, ia menyusun beberapa prosedur kepegawaian yang kemudian di pakai sampai sekarang, yang kemudiaan beberapa kali perbaikan.
Kini, roda nasib memutarnya kembali ke titik awal, akhir 2024, ia kembali ke posisi awal yang senapas dengan jiwanya Kepala Divisi Humas & Komunikasi YPMAK.
Tugasnya kini lebih kompleks, harus menjaga jembatan vital antara YPMAK dengan subyek utama program yaitu masyarakat adat suku Amungme dan suku Kamoro—juga Papua lain di Kabupaten Mimika, ia menjembatani hubungan dengan pemerintah Kabupaten Mimika dan donatur PT Freeport Indonesia, serta lembaga adat, ia harus memastikan setiap keputusan program, dipahami oleh publik luas dengan jernih.
Lebih 22 tahun, berkiprah di lingkaran pengelolaan Dana Kemitraan PT Freeport Indonesia—dari seorang journalist/wartawan, menjadi Kepala Biro Humas & Komunikasi LPMAK, Kepala Biro HRD/SDM LPMAK, Kepala Divisi HRD/SDM YPMAK, hingga kembali menjadi Kepala Divisi Humas & Komunikasi YPMAK—ia tetap mempertahankan profesi journalist dan terus mematangkan sosok Yeremias Isak Imbiri.
Dari Uta, Fakfak, Jayapura, kembali ke Timika, perjalanan Yeremias Isak Imbiri membentang seperti garis sejarah Papua modern, ada ketegangan dan negosiasi, namun selalu menyimpan harapan.
Di tengah hiruk-pikuk pemberdayaan masyarakat adat di Mimika, Yeremias tetap bekerja dalam hening. Ia terus merangkai hubungan dan memastikan satu hal : suara masyarakat tidak boleh hilang. Ia adalah journalist yang menolak pensiun dari tugas utama, selalu terus menjaga jalan cerita. (ots1/ots2)






