Beranda Serba Serbi 57 Tahun Kabupaten Jayapura: Kilas Balik Perjalanan Panjang Menuju Kemandirian dan Kemajuan

57 Tahun Kabupaten Jayapura: Kilas Balik Perjalanan Panjang Menuju Kemandirian dan Kemajuan

21
0
BERBAGI
Gerbang masuk Kantor Bupati di Gunung Merah, Sentani.

SENTANI [17/3/26), NGK – Tepat pada 10 Maret 2026, Kabupaten Jayapura merayakan usianya yang ke-57 tahun. Perjalanan panjang sejak pembentukannya melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1969 tentang Pembentukan Provinsi Otonom Irian Barat, telah membentuk Kabupaten Jayapura menjadi salah satu daerah penting di Tanah Papua dengan pusat pemerintahan yang kini berlokasi di Kota Sentani.

Awal mula pembentukan wilayah administratif ini terbagi dalam enam Kepala Pemerintahan Setempat (KPS): KPS Jayapura, KPS Dobonsolo, KPS Nimboran, KPS Sarmi, KPS Keerom, dan KPS Mamberamo. Sejak saat itu, estafet kepemimpinan telah berganti dari satu bupati ke bupati lainnya, masing-masing meninggalkan jejak pembangunan yang signifikan.

Tonggak Sejarah Pembangunan

Perjalanan Kabupaten Jayapura dimulai oleh Bupati Anuwar Ilmar (1967–1975). Beliau membuka akses jalan vital Doyo–Borowai–Nimboran dan menyediakan kapal Matoa untuk transportasi masyarakat di jalur Borowai – Yoka. Selain itu, ia juga berperan sebagai pendiri Yayasan Pendidikan Islam pertama di kabupaten ini pada 15 Desember 1968.

Selanjutnya, Thontje Meset (1975–1981) melanjutkan pembangunan melalui program transmigrasi yang mendorong pertumbuhan ekonomi dan masyarakat.

Tonggak penting terbentuknya Kota Jayapura sebagai daerah administratif tersendiri dicapai pada masa kepemimpinan Barnabas Youwe (1981–1991).

Perubahan signifikan terjadi di bawah Bupati Yan Pieter Karafir (1991–2001). Ia memimpin pemekaran wilayah menjadi Kabupaten Sarmi dan Kabupaten Keerom, serta memindahkan pusat pemerintahan Kabupaten Jayapura ke Sentani, yang kini menjadi cikal bakal Ibu Kota Kabupaten Jayapura.

Periode 2001–2011 di bawah kepemimpinan Habel Melkias Suwae – Tunggul Simbolon, Zadrak Wamebu, menjadi saksi bisu pembangunan strategis. Ia dikenal sebagai “Bapak Pemberdayaan Masyarakat” dan membawa kejayaan bagi klub sepak bola lokal, Persidafon Dafonsoro. Di masa ini pula dibangun fasilitas penting seperti Stadion Barnabas Youwe, GOR Toware, Pengembangan Pelabuhan Depapre, dan RSUD Yowari. Beliau juga mencetuskan Festival Danau Sentani (FDS) yang hingga kini dilaksanakan di Pantai Kalkote, serta mencanangkan Gerakan Wajib Tanam Kakao (GWTK).

Pembangunan sosial budaya semakin diperkuat pada masa Bupati Mathius Awoitauw-Robert Djoenso, Giri Wijayantoro (2012–2022). Kebijakan pengakuan dan pembentukan 14 kampung adat menjadi bukti komitmen pelestarian nilai budaya dan penguatan identitas masyarakat adat.

Kini, tongkat estafet kepemimpinan berada di tangan Bupati Yunus Dr. Yunus Wonda, SH.MH., dan Wakil Bupati Haris Richard Yocku, SH. (2025–2030). Dengan semangat “Kasih Mempersatukan Perbedaan”, Kabupaten Jayapura terus berupaya membangun persatuan, memperkuat pembangunan, dan menata masa depan yang lebih baik.

Menuju Kabupaten Mandiri dan Berdaya Saing

Di usianya yang ke-57 tahun, Kabupaten Jayapura, yang disebut-sebut sebagai salah satu kabupaten tertua dan induk di Tanah Papua, diharapkan dapat mencapai kemandirian dan daya saing. Namun, masih ada satu tanggung jawab besar yang menanti, yaitu pemetaan wilayah administrasi yang memiliki dasar hukum pasti, terutama terkait tapal batas antar-kabupaten dan provinsi.

Perjalanan panjang ini menegaskan bahwa Kabupaten Jayapura bukan sekadar wilayah administratif, melainkan rumah bagi keberagaman budaya, tempat bersemayamnya harapan, dan semangat yang terus bergerak maju, menjaga warisan masa lalu sambil menatap masa depan yang gemilang. (Viktor Done)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here