JAKARTA, (30/4/26), NGK –Di tengah derasnya arus transformasi digital yang mengubah wajah dunia, ada satu pertanyaan besar yang terus bergema: Apakah teknologi maju ini hadir untuk semua, atau justru meninggalkan mereka yang menjaga akar budaya bangsa?
Pertanyaan inilah yang menjadi nyawa dari Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Jurnalis Masyarakat Adat Nusantara (AJMAN) yang digelar di Jakarta, Rabu (30/4). Mengusung tema “Kedaulatan Informasi dan Inklusi Digital Masyarakat Adat di Era Transformasi Digital”, acara ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan sebuah deklarasi bahwa masyarakat adat tidak boleh hanya menjadi penonton di era modern.

Dunia digital seringkali menggambarkan masyarakat adat hanya sebagai objek cerita yang eksotis, atau bahkan menjadi korban disinformasi. Padahal, mereka adalah penjaga hutan, penjaga sungai, dan penjaga kearifan lokal yang tak ternilai harganya.
Dalam paparannya, Ketua Umum AJMAN sekaligus Ketua Panitia, Apriadi Gunawan, menegaskan satu hal yang sangat mendasar: Kedaulatan informasi adalah harga mati.
“Masyarakat adat harus menjadi subjek, bukan sekadar objek dalam arus informasi digital. Mereka berhak menentukan narasi tentang dirinya sendiri,” ujar Apriadi dengan tegas.
Pernyataan ini menyentuh hati. Selama ini, akses internet yang terbatas dan infrastruktur yang timpang sering membuat komunitas adat sulit bersuara. Akibatnya, cerita tentang tanah leluhur dan budaya mereka seringkali ditulis oleh orang lain, bahkan sering disalahartikan. AJMAN hadir untuk memastikan bahwa pena cerita itu kembali berada di tangan mereka sendiri.
Menjaga Kearifan Lokal di Genggaman Tangan
Rakernas ini menjadi ruang bertukar pikiran yang hangat namun tajam. Para peserta menyadari bahwa tantangan ke depan bukan hanya soal ada atau tidaknya sinyal, tapi juga bagaimana teknologi bisa berdamai dengan budaya.
Transformasi digital tidak boleh mematikan nilai-nilai luhur. Justru, teknologi harus menjadi jembatan agar pengetahuan leluhur bisa tersampaikan, terdokumentasi, dan terjaga keasliannya.
Oleh karena itu, AJMAN mendorong agar pemerintah dan pihak swasta membangun infrastruktur yang tidak hanya cepat, tapi juga “pintar” dan menghargai konteks lokal. Internet harus masuk ke pelosok, namun cara penyampaian informasinya tetap menghormati adat istiadat yang berlaku.
Dari diskusi mendalam ini, lahirlah sejumlah langkah strategis yang menjadi kompas perjuangan ke depan. AJMAN menekankan beberapa poin penting:
- Penguatan literasi digital yang berbasis pada nilai-nilai komunitas adat.
- Perlindungan hukum terhadap data dan pengetahuan tradisional agar tidak diambil alih pihak lain.
- Perluasan akses internet hingga ke wilayah-wilayah terpencil.
- Advokasi kebijakan yang secara tegas mengakui hak masyarakat adat atas informasi.
Jurnalis masyarakat adat ditantang untuk menjadi garda terdepan. Mereka tidak hanya meliput berita, tapi juga menjadi benteng melawan hoaks dan pelindung identitas bangsa.
Komitmen untuk Indonesia yang Beragam
Di akhir kegiatan, AJMAN kembali menegaskan komitmennya. Perjuangan ini bukan untuk kepentingan segelintir orang, melainkan untuk keberagaman Indonesia.
“Kami ingin membangun ekosistem digital yang berpihak pada keadilan sosial,” tegas Apriadi.
Semoga suara dari rimba dan desa-desa terpencil ini bisa semakin lantang terdengar. Agar di masa depan, ketika dunia semakin terhubung, tidak ada satu pun budaya yang terpinggirkan, dan tidak ada satu pun cerita yang hilang ditelan zaman.
Sementara laporan Ketua AJMAN Jayapura, Victor Done, bahwa AJMAN mencoba: merubah perspektif, menguasai narasi bagi masyarakat adat
Dilaporan juga, sudah saatnya narasi berubah. Sudah saatnya stigma keliru diluruskan. Itulah semangat yang membara dari Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Asosiasi Jurnalis Masyarakat Adat Nusantara (AJMAN) yang digelar di Lembur Nusantara Bogor, Rabu-Kamis (29-30/4/2026).
Sebagai organisasi sayap dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), AJMAN menggelar Rakernas ini dengan tema besar “Kedaulatan Informasi dan Inklusi Digital Masyarakat Adat di Era Transformasi Digital”. Acara ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan sebuah deklarasi perubahan.
Menepis Stigma Negatif, Meneguhkan Jati Diri
Dalam sesi diskusi pers, Ketua Umum AJMAN, Apriadi Gunawan, menegaskan posisi organisasinya yang sangat strategis. AJMAN hadir sebagai pilar keempat penegak demokrasi, yang berjuang khusus untuk menegakkan kedaulatan masyarakat adat di seluruh penjuru Nusantara.
Salah satu fokus utama perjuangan saat ini adalah meluruskan pandangan masyarakat yang sering kali salah kaprah.
“Banyak narasi yang berkembang di masyarakat yang menyebut masyarakat adat sebagai penghambat pembangunan. Ini harus diluruskan. Faktanya, masyarakat adat adalah pemilik sah bumi, mereka adalah penjaga bumi yang sesungguhnya,” tegas Apriadi dengan tegas.
Klaim-klaim negatif yang selama ini melekat harus segera dihapuskan. AJMAN hadir untuk mengubah persepsi bahwa masyarakat adat bukanlah kelompok yang terpinggirkan, bukan pula pihak yang tidak memiliki nilai, melainkan garda terdepan yang menjaga keseimbangan alam dan budaya bangsa.
Dari Objek Menjadi Subjek Cerita
Selama ini, seringkali masyarakat adat hanya dijadikan “objek” dalam sebuah berita atau peristiwa. Cerita tentang mereka ditulis oleh orang luar, seringkali tidak sesuai dengan kenyataan yang dirasakan, dan kadang memunculkan perspektif yang menyakitkan.
Melalui Rakernas ini, AJMAN ingin mengubah posisi itu.
“Masyarakat adat harus menjadi subjek, bukan sekadar objek. Kami ingin menceritakan diri kami sendiri sebagai pelaku, bukan hanya sebagai bahan berita,” ujarnya.
AJMAN hadir untuk menjadi jembatan agar cerita-cerita di kampung-kampung, di pelosok-pelosok yang selama ini jarang tersentuh media arus utama, bisa didengar dengan versi yang sebenarnya. Keindahan budaya, kearifan lokal, hingga dinamika perjuangan hak-hak adat, kini akan disuarakan oleh suara mereka sendiri.
Semangat “Kuasai Narasi, Rebut Gelombang”
Dengan tagar semangat “Kuasai Narasi, Rebut Gelombang”, Rakernas I AJMAN menjadi titik tolak kebanggaan baru. Para jurnalis masyarakat adat siap mengemban tugas mulia ini: merebut narasi negatif menjadi positif, dan menyuarakan setiap dinamika yang terjadi di tengah komunitas dengan fakta dan kebenaran.
Kehadiran AJMAN membuktikan bahwa masyarakat adat tidak tinggal diam. Mereka siap beradaptasi dengan zaman, menguasai teknologi, dan memastikan bahwa suara mereka didengar, dihargai, dan dihormati sebagai bagian tak terpisahkan dari bangsa Indonesia. (Simon Baab/Viktor Done/Krist)








