BAGIAN KELIMA
Hari Jadi Provinsi Papua Tengah yang diperingati setiap tahun pada 25 Juli. Tapi pada tahun 2026 dimajukan dan diperingatinya pada 22 Juli. Untuk itu, https://www.newguineakurir.com/ (NGK) menurunkan bebarapa tulisan yang menggambarkan gebrakan pemerintah Papua Tengah selama empat tahun – 2022 – 2026. Kali ini, bagian kelima.

“KEKAYAAN alam Papua Tengah bukan sekadar angka di laporan anggaran. Itu adalah titipan leluhur, yang harus dikelola agar memberi manfaat langsung bagi meja makan warga di kampung-kampung,” tegas Gubernur Meki Fritz Nawipa dalam berbagai kesempatan. Bagi pemimpin pasangan MeGe (Meki Galey) – Meki Nawipa dan wakilnya Deinas Geley ini, ekonomi yang tumbuh makin besar artinya jika disertai pemberdayaan, sehingga masyarakat sendiri yang memegang kendali atas nasibnya.
Dari Bahan Baku Menjadi Produk Bernilai
Selama ini, potensi tanah Papua Tengah sering hanya dikirim sebagai bahan mentah ke daerah lain. Kini arahnya berubah. Pemerintah mendorong pengolahan di tempat. Kopi dari pegunungan, buah-buahan, hasil laut, hingga hasil hutan diolah menjadi produk jadi yang siap jual. Disiapkan pelatihan teknik pengolahan, penyediaan alat, serta bantuan izin dan standar mutu.
“Kopi kita enak, tanah kita subur, laut kita kaya. Mengapa kita hanya menjual biji, bukan kemasan yang dibanggakan?” tanya Nawipa saat membuka pameran produk lokal di Nabire, belum lama ini.
Petani dan Nelayan Menjadi Pelaku Utama
Prioritas tertuju pada kelompok yang selama ini paling bergantung pada alam. Pemerintah memberikan bibit unggul, pupuk bersubsidi, alat tangkap, serta membangun sarana penyimpanan dan pengolahan hasil agar harga tidak jatuh saat panen tiba.
Kini, dukungan akses pasar juga diperkuat. Lewat pameran daerah, kerja sama dengan pedagang luar, hingga pemanfaatan internet gratis agar warga bisa mempromosikan produknya sendiri. “Kami tidak membiarkan mereka bekerja keras sendirian,” ujar Nawipa.
Membuka Peluang Bagi Semua Lapisan
Pemberdayaan tidak berhenti di sektor pertanian. Perhatian besar diberikan kepada perempuan, pemuda, dan kelompok rentan. Disiapkan pelatihan keterampilan menjahit, kerajinan tangan, pengolahan makanan, hingga akses modal usaha tanpa bunga bagi kelompok usaha bersama.
“Anak muda tidak harus pergi jauh untuk mencari pekerjaan. Di sini tanahnya masih luas, peluangnya masih terbuka lebar. Asal kita berani bergerak bersama,” kata Gubernur Nawipa.
Keadilan di Atas Hak Ulayat
Seluruh langkah ini dijalankan dengan satu aturan utama. Menghormati hak tanah ulayat Orang Asli Papua. Pembangunan ekonomi tidak boleh merampas hak leluhur, melainkan berjalan beriringan dengan kearifan lokal. Keuntungan dari pengelolaan sumber daya alam dipastikan kembali mengalir ke masyarakat setempat. “Ekonomi yang adil adalah ekonomi yang tidak memisahkan warga dari tanahnya sendiri,” tegas Nawipa.
Di bawah arahan ini, ekonomi Papua Tengah tidak lagi sekadar angka pertumbuhan, melainkan tumbuh bersama rasa kepemilikan, kemandirian, dan kebanggaan menjadi tuan rumah di tanah sendiri. (Krist A)








