Beranda PAPUA TENGAH Jejak Nawipa di Deiyai: Pendidikan, Ekonomi, dan Damai

Jejak Nawipa di Deiyai: Pendidikan, Ekonomi, dan Damai

24
0
BERBAGI
Gubernur Nawipa ketika meninjau meubel perahu rakyat di Distrik Tigi, Kabupaten Deiyai Selasa (08/09/2026) - Dok. Humas Pemprov Papua Tengah.

DEIYAI (10/9/26), NGK — Langkah mantap Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, mengukir jejak nyata di Kabupaten Deiyai pada Selasa, 8 September 2026.

Dalam rangkaian kunjungan kerja yang penuh makna ini, Gubernur menegaskan empat pilar utama pembangunan yang menjadi prioritas yaitu: pendidikan, ekonomi kerakyatan, penyelesaian sengketa tapal batas, dan penghargaan bagi generasi berprestasi.

Kehadiran Nawipa disambut hangat Bupati Melkianus Mote, Wakil Bupati Ayub Pigome, jajaran Forkopimda, serta masyarakat yang berbondong-bondong menyambut kedatangannya di Waghete.

Dari pembangunan asrama hingga meja pasar, dari perbincangan hangat di galeri budaya hingga dialog terbuka di aula, satu pesan mengalir kuat: pembangunan tak sekadar soal bangunan fisik, melainkan menyentuh langsung kehidupan dan harapan masyarakat.

Pendidikan: Cahaya yang Terus Dinyalakan

Langkah pertama mengarah ke Distrik Tigi Utara, tepatnya ke lokasi pembangunan Asrama SMP Teologi Kristen di Gakokebo. Berdiri di tengah bangunan yang sedang tumbuh, Gubernur Nawipa menegaskan komitmen yang telah terjalin sejak tahun lalu.

“Tahun kemarin kita sudah berikan Rp700 juta, tahun depan akan kita tambah lagi. Dana tersebut untuk kebutuhan makan-minum siswa serta pengelolaan asrama,” ucapnya tegas di hadapan pengelola yayasan dan para guru.

Bagi Gubernur, fasilitas pendidikan yang layak adalah hak setiap anak, tak peduli seberapa jauh letak kampung mereka. Dukungan anggaran dan pengelolaan asrama menjadi bukti nyata bahwa pendidikan adalah pintu gerbang masa depan. Masyarakat pun diminta bergotong royong, menyediakan lahan agar fasilitas pendidikan dapat terus berkembang dan melayani lebih banyak anak Deiyai.

Ekonomi Rakyat: Dari Perahu, Budaya, hingga Pasar Mama-Mama

Dari halaman sekolah, langkah beralih ke tepian perairan di Distrik Tigi. Di sana, Gubernur meninjau langsung pembuatan meubel perahu karya tangan rakyat. Ia tak sekadar melihat, melainkan memahami potensi dan kesulitan yang dihadapi pengrajin.

Lalu, kunjungan berlanjut ke galeri budaya — tempat di mana warisan leluhur bertemu peluang masa kini. Budaya bukan sekadar kenangan, melainkan kekayaan yang dapat diolah menjadi sumber kehidupan yang bermartabat.

Puncak dialog terjadi di Pasar Mama-Mama Papua. Di antara deretan lapak dan tawa para pedagang, Gubernur duduk dan mendengarkan langsung suara hati mereka. Kendala, harapan, kebutuhan sarana — semuanya mengalir dalam percakapan yang hangat.

“Pembangunan tidak berhenti pada fisik. Dukungan terhadap pendidikan, pelestarian budaya, dan penyediaan ruang usaha bagi mama-mama Papua adalah bagian penting memperkuat kesejahteraan masyarakat,” ujarnya, menyadarkan semua bahwa kesejahteraan tumbuh dari perhatian kepada setiap lapisan masyarakat.

Tapal Batas: Selesaikan Sebelum Desember 2026

Di Aula Tuyana, Waghete, suasana berubah menjadi lebih serius. Ratusan mata tertuju pada Gubernur ketika membahas persoalan yang telah lama menjadi luka: sengketa tapal batas Kapiraya. Dengan tenang namun tegas, Gubernur memberikan janji yang menumbuhkan harapan baru.

“Bicara soal tapal batas Kapiraya, kita akan selesaikan sebelum Desember 2026 yang mengacu pada batas adat, bukan batas pemerintah,” tegasnya.

Jalan keluar pun mulai terlihat. Gubernur akan mengundang Bupati Mimika, Bupati Deiyai, dan Bupati Dogiyai untuk duduk bersama. Penyelesaian akan berjalan di atas dua kaki: pendekatan pemerintahan dan pendekatan adat — jalan yang paling dipahami dan dihormati masyarakat. Bahkan, rencana pembangunan jalan penghubung Deiyai–Kapiraya turut disiapkan, agar kedamaian kelak dibarengi pula dengan kemajuan dan kesejahteraan yang mengalir bebas di tanah perbatasan.

Hadiah untuk Prestasi dan Penghormatan Iman

Di sela kunjungan, berita gembira menyapa para pelajar berprestasi. Delapan belas siswa beserta dua guru pendamping yang meraih predikat Juara Umum Festival Cahaya Kreasi Pelajar SMA/SMK Papua Tengah 2026 menerima hadiah berupa laptop dari tangan Gubernur. “Gunakan laptop ini untuk hal-hal positif, terutama belajar, mengerjakan tugas sekolah, dan mengembangkan kemampuan diri,” pesannya penuh harap. Teknologi di tangan anak-anak yang berilmu adalah jembatan menuju masa depan yang cerah.

Tak lupa, penghormatan kepada nilai-nilai keimanan pun disampaikan. Gubernur menyerahkan bantuan Rp5 miliar bagi pembangunan Gedung Gereja Katolik Paroki Kristus Kebangkitan Kita Damabagata, Distrik Tigi Timur. “Ini komitmen saya untuk meningkatkan ketaqwaan dan kepercayaan kita kepada Tuhan Yesus,” ucapnya tulus. Kepada para pemuda, 34 unit motor diserahkan — bukan sekadar alat transportasi, melainkan sarana melayani masyarakat dan membuka peluang ekonomi di pelosok negeri.

Jejak yang Menyentuh Hati

Saat rangkaian kunjungan kerja berakhir, satu hal menjadi jelas: kehadiran Gubernur Meki Nawipa di Deiyai bukan sekadar jadwal perjalanan resmi. Ia adalah wujud kepedulian yang hadir mendengar, turun memahami, dan berjanji mewujudkan. Dari ruang kelas hingga pasar rakyat, dari tepian perairan hingga perbatasan yang damai, dari tangan anak-anak hingga rumah ibadah — pembangunan yang diusung adalah pembangunan yang menyentuh hati, menyentuh kehidupan nyata masyarakat.

Karena sejatinya, pembangunan bukanlah soal seberapa tinggi gedung yang berdiri, melainkan seberapa dalam ia dirasakan manfaatnya oleh rakyat yang hidup di tanah itu. Dan di Deiyai, pada hari Selasa itu, harapan tumbuh kembali — bahwa masa depan yang adil, sejahtera, dan damai sedang dirajut bersama-sama. (ka)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here