Beranda Ko Su Tau Kah ? Bencana Lagi, Ketika Cyclop Terus Dirambah

Bencana Lagi, Ketika Cyclop Terus Dirambah

446
2
BERBAGI

Penduduk yang bermukim di Kawasan Cagar Alam Cyclop, terus beraksi merambah kawasan ini. Dikuairkan, Kota Jayapura dan Sentani, kembali diterjang longsor dan banjir bandang

Puing-puing bencana di Sentani tahun 2019, masih membakas. (foto: ist)

SIANG itu, pertengahan Juni 2020, ketika terik mentari menyengat Kota Jayapura dan Kota Sentani, nampak asap mengepul dari hutan di sekitar Bayangkara dan Entrop di Kota Jayapura serta sejumlah titik di kaki Pegunungan Cyclop di Sentani.

Sumber asap itu dari pembukaan lahan baru untuk dijadikan kebun di areal Cagar Alam Cyclop. Menurut penelusuran NGK, penduduk yang membuka lahan itu, berasal dari Pegunungan Tengah Papua.

Melihat makin maraknya aksi merambah hutan di Kawasan Cagar Alam Cyclop, maka Sekretaris Daerah Pemerintah Kota Jayapura, Frans Pekey  merasa kuatir dengan pembukaan lahan yang semakin marak terjadi di kawasan Cagar Alam  Cyclop maupun tegakan hutan yang dekat dengan permukiman warga. “Pemerintah Kota Jayapura tidak setuju bila ada warga yang membuka lahan baru. Bahkan dilarang, apalagi untuk dijadikan lahan pertanian baru,” ujar Pekey seperti yang dilansir Tabloidjubi Online pada 23 Juni 2020.

Aksi merambah hutan di Kawasan Cagar Alam Cyclop ini, bukan hal baru. Sejak tahun 1980-an, kawan ini sudah mulai dirambah. Akibatnya, pada 16 Maret 2019, terjadi lonsor dan banjir bandang yang merendam Kota Sentani sehingga ratusan orang meninggal, hilang dan ribuan orang kehilangan rumah dan menjadi pengungsi hingga saat ini (23/6/2020).

Aksi perambahan huutan di Kawasan Cyclop masih terus berlamngsung. (Foto: ist)

Kawasan Cagar Alam Cyclop penting untuk Kota dan Kabupaten Jayapura. Tapi Mengapa Pegunungan Cyclop malah Terancam?

Christopel Paino dalam Webside Monggabay pada 25 Mai 2017  mengungkapkan, bahwa Pegunungan Cyclops (disebut juga dengan Cycloop, Dobonsolo atau Dafonsoro) yang berada di Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura bagaikan bentang pelindung bagi para warga di dataran Jayapura. Pegunungan ini berbagi lansekap dengan Danau Sentani yang terletak di selatannya.

Ironisnya, karena letaknya yang dekat dengan pusat perkembangan kota, pegunungan Cyclop saat ini rentan dan tertekan oleh berbagai macam bentuk perambahan hutannya.

Sebagai kawasan Cagar Alam (CA), Cyclop diresmikan pada tahun 1978 melalui SK No.56/Kpts/Um/I/1978 dan dikukuhkan pada tahun 1987 lewat SK No.365/Kpts-II/1987) yang mencakup wilayah seluas 22.500 hektar. Di tahun 2012, CA bertambah luasannya menjadi 31.479,89 lewat SK Menhut nomor 782/MenHut-II/2012.

Adapun, satwa liar khas Papua yang ada di cagar alam ini termasuk kuskus tutul hitam, kanguru pohon, bandikut (semacam tikus berkantung), burung mandar gunung hingga ekidna.

“Cyclop merupakan sumber ketersediaan air bersih bagi seluruh warga yang ada di Kota Jayapura maupun di sebagian besar wilayah Kabupaten Jayapura,” ujar Richard Kalilago, Community Outreach and Sustainable Development USAID LESTARI program Papua pada awal Mei 2017.

Berdasarkan cermatan WWF-Papua, kawasan kritis yang terdapat di Cagar Alam Cyclop diperkirakan mencapai sekitar seribu hektar, yang banyak terjadi di kawasan penyangga (buffer zone).

Khusus untuk kayu suang (Xanthosneon sp), disebutnya merupakan jenis kayu endemik Papua yang terindikasi hanya memiliki sebaran terbatas yang hanya berada di Pegunungan Cyclop. Kayu suang banyak ditebang, karena dipakai untuk arang dan pembakar ikan yang banyak dijumpai di Kota Jayapura.

Masuknya pendatang di Cyclop tak lepas dari menariknya gemerlap Kota Jayapura sebagai ibukota Provinsi Papua sekaligus pusat ekonomi.

Menurut Richard Kalilago, sekitar 75 persen dari para pemukim di Cyclop berasal dari masyarakat yang bermigrasi dari pegunungan tengah Papua.

“Pembukaan lahan untuk dijadikan perkebunan dan pemukiman itu biasanya dilakukan masyarakat pegunungan. Mereka sekarang telah menguasai hampir seluruh Cyclop,” ungkap Richard.

Saat ini jumlah masyarakat yang mendiami seluruh wilayah pegunungan Cyclop diperkirakan ratusan ribu jiwa tinggal di kampung-kampung kecil, baik yang berada di Kabupaten maupun Kota Jayapura.

Suku-suku asli pesisir sendiri, lebih banyak berada di Sentani dan tidak berinteraksi langsung dengan Cyclop. Mereka hidup dari menanam dan memanfaatkan sagu yang berada di tepian danau, juga dari hasil menangkap ikan.

Sebagai bagian dari kearifan lokal, suku-suku asli pun percaya akan terjadi malapetaka jika mereka merambah dan beraktifitas di Cyclop.

“Suku asli (Sentani dan Ormu) percaya bahwa Cyclop telah memberi udara yang sejuk, air, dan tanah kepada mereka. Sehingga jika tuan Cyclop dikorek justru akan membawa petaka.”

Perambahan dan deforestasi di Cagar Alam Cyclop, banyak terjadi di wilayah Angkasa, Kota Jayapura, Waena, Bumi Perkemahan, hingga daerah Uncen. Namun, efektivitas penegakan hukum yang dilakukan tidak menuai upaya dan hasil yang memuaskan.

Sekretaris Daerah Pemerintah Kota Jayapura, Frans Pekey  menjelaskan, dari lima distrik yang ada di Kota Jayapura, Papua, hanya Distrik Muara Tami yang direncanakan menjadi kawasan lahan pertanian. Akan tetapi, pembukaan lahan baru juga marak terjadi di Distrik Jayapura Selatan, Distrik Abepura, Distrik Heram, dan Distrik Jayapura Utara. Pembukaan lahan itu bahkan merambah kawasan konservasi.

Menurut Pekey, pembukaan lahan baru di Kota Jayapura semakin marak terjadi, seiring bertambahnya jumlah penduduk ibu kota Provinsi Papua itu. Warga Kota Jayapura telah mencapai jumlah 422.063 jiwa, dan membutuhkan untuk permukiman maupun lahan bercocok tanam.

Sementara itu, Pihak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua, mengakui jika ancaman terhadap kawasan konservasi Cyclops sangatlah besar. BBKSDA pernah melakukan penyitaan kayu yang terambil di kawasan Cyclop. Tapi kemudian, warga yang disita barangnya malah balik datang membawa banyak orang dan melakukan demo ke kantor balai.

“Penegakan hukum di kawasan Cyclop sampai saat ini belum bisa maksimal karena terkait dengan kondisi sosial dan budaya. Perlu kehati-hatian untuk melakukan upaya hukum,” ujarnya.

Baginya, penyebab deforestasi di Cyclops sangat rumit dan melibatkan faktor budaya, politis, sosial, dan ekonomi, termasuk eksploitasi dari penambangan yang terjadi.

Sebenarnya bukan masyarakat yang merambah ke dalam kawasan, tapi pembangunan rumah maupun perkantoran besar-besaran pun terjadi di kawasan penyangga. Seperti kompleks perkantoran Bupati Kabupaten Jayapura dan perkantoran Walikota Jayapura berada dalam kawasan penyangga Cyclop.

Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua, Jan Jap Ormuseray Kawasan Pegunungan Cyclop menjelaskan, bahwa secara keseluruhan kawasan ini masih dalam kategori baik, namun di kawasan penyangga terjadi banyak perambahan hutan oleh masyarakat untuk perkebunan dan penjualan kayu hasil hutan untuk arang.

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua, Jan Jap Ormuseray mengatakan, masyarakat perlu memahami jelas bahwa ada perbedaan antara perambahan dan pembalakan liar.

Perambahan hutan merupakan penebangan pohon yang sifatnya dikomersilkan, berbeda dengan perambahan hutan, dimana masyarakat menebang dan menggundulkan titik-titik lokasi di hutan untuk di jadikan areal perkebunan.

“Jadi, pembalakan ini bagian dari perambahan itu yang terjadi di Cyclop, perambahan ini semua bersih, saat orang tebang pohon untuk dijadikan kebun-kebun itu bisa kita lihat di kawasan penyangga Cycloop,” jelasnya.

Menurutnya, curah hujan ektrim dan patahan longsor yang terjadi di kawasan penyangga Gunung Cyclop menjadi penyebab utama banjir bandang yang menimpa, Sentani Kabupaten Jayapura.

Ormuseray menyebutkan, penyebab utama itu juga didukung dengan adanya perambahan hutan di kawasan penyangga sehingga daya tampung serapan air di gunung tidak mampu dan akhirnya meluap.

“Itulah yang terjadi. Kejadian ini lebih disebabkan karena fenomena alam, keadaan cuaca dan curah hujan yang super ektrim, kalau curah hujan tinggi 100 mm perjam, tapi yang terjadi di sini curah hujan bisa mencapai dua kali lipat, bahkan lebih,” katanya.

Kadishut Jan Ormuseray menyebut bencana yang terjadi akhir-akhir ini, memang akibat dari perubahan cuaca dan ini bukan hanya di Jayapura tapi di secara nasional, bahkan seluruh dunia.

Secara umum, ia menilai gempa yang terjadi di Kabupaten Jayapura ini lantaran adanya pergeseran lempengan di Cyclop Timur tepatnya di atas Doyo.

Ditambah dengan curah hujan tinggi ini juga menjadi salah satu sebab, karna air tidak bisa tertampung dan meluap.

Limbah kayu hasil perambahan yang dibawa banjir tahun 2019. (Foto : Ist)

“Hujan ini terjadi bukan hanya di Sentani atau Jayapura saja, jujur saja bencana ini bukan hanya di Sentani. Jadi, tidak usah kita mencari kambing hitam di sini,” katanya.

Dalam hal pengawasan hutan di Pegunungan Cyclop, Kadishut Jan Ormuseray menjelaskan, pengawasan itu dilakukan langsung oleh Kesatuan Pengelola Hutan Konservasi (KPHK), lembaga ini berada langsung di bawah Kementerian Kehutanan.

“Jadi, untuk kawasan cagar alam, pemerintah pusat yang langsung tangani, karena itu daerah konservasi dan itu tidak dilaksanakan di daerah dan daerah hanya mengelola kawasan penyangga,” katanya.

Kadishut Jan Ormuseray menegaskan, jika perambahan banyak terjadi di kawasan penyangga atau di daerah pinggiran Pegunungan Cycloop.

Dari pemerintah daerah sendiri, terus melakukan pengawasan dan ada Lembaga Masyarakat Mitra Polhut (LMMP) yang bertugas untuk mengawasi, namun jumlahnya terbatas, sebab MMP ini rekrutmen dari anak-anak ondoafi dan pemilik tanah adat yang berada di kawasan penyangga sehingga tidak bisa mengcover seluruh wilayah.

Soal upaya pembenahan, imbuh Jan Ormuseray, tetap dilakukan, bahkan telah ada Perda dari Pemda Jayapura untuk kawasan penyangga Cycloop dan sementara ini untuk pengawasan juga dilakukan beberapa lembaga dan LSM.

“Kita juga sedang mendorong Pemkot Jayapura untuk menerbitkan regulasi untuk perluasan kawasan penyangga Cycloop,” uangkapnya. (/*Krist Ansaka)

2 KOMENTAR

    • Pa Jack mohon maaf. Saya mencari siapa yg foto, tp krn saya tidak jumpa, makanya saya tulis Foto Istimewa – Ist). Sekali lagi, saya mohon maaf. Saya akui, kualitas foto Pa Jack, cukup bagus. // Pa Jack, saya bisa minta No HP atau NO WA kah ? /// Oh iya, saya siap mengubah… Ada tiga foto, Foto yang mana yang punya Pa Jeck, supaya saya sebutkan nama Pa Jack di Foto itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here