Beranda Nusantara Awas ! Hantu-Hantu Politik Berdasi Jelang Pilkada

Awas ! Hantu-Hantu Politik Berdasi Jelang Pilkada

43
0
BERBAGI

KATA ” Demokrasi “, mudah diucapkan dan enak didengar, namun maha berat dalam praktek. Akibat kepentingan – kepentingan tertentu, ruang demokrasi memberikan keleluasaan menari bagi hantu hantu politik berdasi. Mereka mulai menawarkan sejuta gula gula politik yang berisikan ” pil pahit “.

Panggung politik dihiasi dengan kebencian, membuat rakyat hati panas, membeda-bedakan agama, etnis, menyebarkan fitnah dll. Ujung-ujungnya rakyat jadi korban kepentingan politik.

Panggung politik memang selalu tak terduga, penuh ironi, anomali dll. Para politisi sulit dipegang karena terlalu licin. Mahar, biaya politik, money politik atau gizi politik, adalah istilah istilah yang selalu terdengar di panggung politik.

Dengan kondisi seperti ini ” anak anak bangsa / orang orang hebat yang genius “, selalu tersingkir untuk menjadi pemimpin, hanya karena tidak punya uang banyak dll ( Uang untuk beli Partai dll. )

Sangat memalukan adalah hasil riset tahun 2011 oleh UNFREL ( University Network for Free and Fair Election ),   salah satu Lembaga Demokrasi Internasional, berkedudulan di Bangkok, bahwa kejahatan demokrasi terbesar di dunia adalah negara Indonesia dan khususnya Prov Papua bagian pegunungan. Ini adalah sebuah fakta, karena selain money politik, akibat Pilkada ratusan nyawa melayang ( sesuai data – data yang ada ).

Narasi yang selalu terbangun di dunia politik terlihat lebih dominan soal kekerasan, kekejaman, saling menjatuhkan, saling fitnah dll. Perebutan kekuasaan menjadi target utama dari nafsu kekerasan tersebut. Dengan konteks seperti itu, kita bisa bayangkan bagaimana kerasnya pertarungan di panggung demokrasi, seperti Pilkada, Pilpres.

Ini semua jadi kenyataan sesuai pidatonya BUNG KARNO pada tgl 17 Agustus 1954, sebelum jelang pemilu tahun 1955, bhw ” Janganlah pemilihan umum ini nanti menjadi arena pertempuran politik demikian rupa hingga membahayakan keutuhan bangsa “.

Thomas Hobes ( 1588 – 1679 ) mendeskripsikan ” manusia sebagai pemangsa “. Manusia ibarat serigala bagi sesama manusia ( homo homini lupus ).

Tulisan untuk membuka wawasan.

Jakarta, 28 Sept 2020.

Samuel Pakage.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here