Beranda Nusantara Aktivis Papua dan RMS Gelar Aksi Protes di KBRI Washington DC

Aktivis Papua dan RMS Gelar Aksi Protes di KBRI Washington DC

93
0
BERBAGI

Washington – NK  – Sejumlah aktivis Papua Barat dan Republik Maluku Selatan (RMS) menggelar aksi protes bersama di depan kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (3/9).

Aksi yang dikoordinir West Papua Human Rights Center (WPHCR) USA ini berlangsung sejak pukul 12 siang waktu setempat dan diikuti oleh beberapa orang aktivis yang tampak menggunakan masker. Aksi sempat berlangsung sekitar satu jam lebih dengan mengambil tempat di pelataran depan pintu masuk kantor KBRI yang beralamat di jalan 2020 Massachusetts Ave NW, Washington DC.

Aksi damai yang cukup mendapat perhatian dari warga AS yang lewat ini hanya diwarnai pegelaran sebuah poster bertuliskan “Free West Papua” dan pembentangan sebuah bendera ‘Bintang Fajar’ atau yang sering disebut bendera Bintang Kejora dan bendera ‘Benang Raja’ sebagai simbol perjuangan pembebasan Republik Maluku Selatan (RMS).

Herman Wainggai, selaku koordinator West Papua Human Rights Center (WPHRC) USA menjelaskan aksi protes damai ini dilakukan terkait berbagai situasi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang terjadi di Tanah Papua dan meminta perhatian warga maupun Pemerintah AS untuk tidak menutup mata atas apa yang terjadi.

“Aksi ini kami lakukan sebagai wujud keprihatinan kami terhadap berbagai situasi krisis kemanusiaan yang terjadi di Papua. Kami juga menyerukan pembebasan tahanan politik (tapol) Papua dan juga aktivis RMS yang telah dipenjarakan Pemerintah Indonesia,” tegas Wanggai setelah menyampaikan pernyataan dalam bahasa Inggris dan Pidjin.

Pria yang pernah mengkoordinir pelarian 43 pencari suaka politik asal Papua ke Australia pada Januari 2006 silam ini juga menyerukan solidaritas internasional untuk mendesak Pemerintah Indonesia guna memberikan hak penentuan nasib sendiri (self determination) bagi bangsa Papua, termasuk bagi bangsa Maluku dan Aceh yang ingin merdeka.

Di tempat yang sama, Joseph Patiasina, selaku aktivis RMS di AS juga menyerukan kepada  Pemerintah Indonesia untuk segera membebaskan sejumlah tahanan politik (tapol) RMS yang telah dipenjara karena menyampaikan aspirasi politik secara terbuka.

“Saat ini ada sekitar kurang lebih 10 orang Tapol RMS yang telah di penjara di Indonesia. Saya mendesak agar mereka harus segera dibebaskan atas nama demokrasi dan HAM,” ujar pria yang kini mendapat suaka politik di AS.

Sementara itu, Omari Musa, seorang warga kulit hitam AS dari Parta Buruh Sosialis atau Socialist Workers Party (SWP) AS yang turut hadir untuk bersolidaritas dalam aksi ini juga menyatakan dukungannya bagi penentuan nasib sendiri bangsa Papua.

“Saya hadir disini juga secara pribadi dan mewakili partai kami untuk menyatakan dukungan solidaritas bagi rakyat Papua,” kata Omari.

Dari pantauan di lapangan, aksi ini sempat mendapat pengawalan beberapa petugas kepolisian Federal AS di Washington DC yang memarkir mobil mereka di seberang jalan atau berhadapan dengan kantor KBRI. Seorang petugas polisi juga telah mendatangi koordinator aksi untuk meminta penjelasan.

Aksi serupa juga belum lama ini digelar sejumlah aktivis Papua Barat, Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Republik Maluku Selatan (RMS) di depan gedung Pengadilan International atau International Court of Justice (ICJ) di Den Haag, Belanda.

Aksi itu dilakukan untuk memperingati kematian mantan Sekertaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Dag Hammarskjold 59 tahun silam yang meninggal pada September 1961 akibat kecelakaan pesawat di Zambia Afrika. Dalam aksi ini, para aktivis mendesak Perserikan Bangsa-Bangsa (PBB) segera mengusut tuntas dugaan sabotase kecelakaan pesawat yang menewaskan Sekjen PBB asal Swedia itu.

Selain itu, mereka juga mendesak Pemerintah Indonesia memberikan hak penentuan nasib sendiri bagi bangsa Papua, Aceh dan Maluku untuk menjadi bangsa yang ingin merdeka. (Julian Howay)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here